Posted by: gkikarangsaru | April 15, 2014

Nama-Nya “Immanuel”


(Medio Mei 2007)

Udara dingin menggigit kulit. Kubiarkan angin dingin memainkan rambutku. Aku disini lagi, duduk merangkul kaki diatas tandon air di lantai lima Seminari tercinta. Aku melihat ke arah kaki-kaki bukit. Lampu- lampu kecil bagaikan permata bercahaya dalam pekatnya malam.

 …Sunyi…

 Yah,… udah jam malam. Mungkin hampir semua penghuni asrama sudah mendengkur dan meringkuk di bawah selimutnya, … bermimpi …

 Sejenak anganku kembali ke masa kecil …

 Aku ingat waktu di Semarang, papa sering mengajakku dan koko ke sebuah bukit yang dikenal dengan nama “Gombel” di dekat rumah kami hanya untuk melihat lampu-lampu kota yang indah di waktu malam. Sekarang tempat itu sudah dibangun sebuah tempat makan mahal yang menjual pemandangan yang tidak pernah mereka ciptakan. Aku ingat sepulang dari sana, aku sering tertidur nyaman, bermimpi menjadi peri kecil yang terbang diantara kilauan lampu-lampu.

 Itu dulu …

 Sekarang disini, diatas tandon air ini mataku tak juga terpejam dan kantukpun tak kunjung datang. Kutengadahkan muka … langitpun menebarkan permata-permata indahnya, jauh lebih indah! Malam ini langit begitu cerah, jutaan bintang bertaburan menunjukkan kejaiban Sang Pencipta. Tiba-tiba kusadari, begitu kecilnya aku, bagai setitik debu dalam hamparan jagad raya ini. Kutertunduk, membisikkan satu nama …

 “Bapa …”
Bapa aku datang tertunduk di hadapan-Mu…
Berhadapan dengan hikmat-Mu yang tak terselami
Kusadari betapa sempit dan bodohnya diri.
Menyadari kasih-Mu yang melampaui akal manusia terbatas
Ku terdiam dalam kekaguman yang tak pernah tuntas.
 
Tanganku terulur Bapa, …
 
Kotor dan tak pantas memang
Berhadapan dengan kesucian dan keagungan yang tak lekang
Namun tetap kuulurkan
Karena aku membutuhkan sebuah pelukan

 

Sebuah pelukan,…

Kurasakan hangat … ada jaket di pundakku, dan sebuah pelukan … ya, … sebuah pelukan!

“Tidak apa-apa,” seru suara yang sangat kukenal itu.

“Kamu sangat sedih, tidak apa-apa, Tuhan sayang kamu, saya sayang kamu,” bisiknya dengan terbata-bata. Gadis manis berbaju putih itu memelukku erat sambil mengusap air mataku. Ia berkata mantap,…

 “Tuhan Yesus sayang kamu Salome Cie-cie”

 Aku mengangguk, dan sungguh hatikupun mengangguk. Bapa di Surga memakai gadis ini untuk membawakan jaketku ke atas, memelukku, mengusap air mataku dan mengatakan bahwa Bapa sayang aku. Aku mengangguk lagi dan gadis itu pergi. Luar biasa Tuhan, Dia memakai teman sekamarku, seorang gadis asal China yang hanya bisa berbicara sepenggal-sepenggal bahasa Indonesia untuk menyampaikan bahasa kasih-Nya yang sungguh bisa kumengerti dengan baik. Kuusap mataku, kupandang lagi bintang-bintang itu.

 Kemana mereka?

 Awan menutupi pandanganku ke arah bintang-bintang. Aku bisu melihat pemandangan yang tak kuharapkan itu. Aku masih berharap bisa melihat indahnya kilau bintang-bintang itu. Apakah aku bisa melihat bintang itu lagi? Kapan awan itu pergi? Dalam hati sungguh ingin aku mengusir awan itu pergi, bahkan menggunakan tanganku untuk membuatnya berlalu. Tapi tanganku tak cukup panjang untuk menghalaunya. Tiupanku tak cukup kuat untuk mendorongnya.

 Namun lihatlah …

 Perlahan awan itu berjalan dengan tenangnya, menurut waktunya sendiri. Berlalunya awan itu membuka pandanganku ke arah bintang-bintang. Sebenarnya keindahan bintang itu tidak pernah lenyap sekalipun tertutup awan. Bintang itu tetap disana sekalipun mataku tidak melihatnya.

Begitulah rencana Allah. Rencana agung-Nya tetap ada sekalipun tertutup “awan kehidupan” yang tiap kali datang. Pada waktu Tuhan, aku akan melihat rencana-Nya digenapi.

 Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya
Bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka.
Tetapi manusia tidak dapat menyelami
Pekerjaan yang dilakukan Allah
Dari awal sampai akhir.
(Pengkhotbah 3:11)
 

Terima kasih Tuhan. Perih dan remuknya hati ini, tak pernah Kau biarkan. Malam ini ketika aku mengambil satu keputusan penting dalam hidupku untuk tetap tinggal disini, sekalipun ini menyakitkan, Engkau besertaku. Malam ini aku belajar untuk beriman ketika mataku tidak dapat melihat. Percaya ketika yang kulihat hanya kegelapan. Karena Engkau IMMANUEL, Engkau ada bersama-sama dengan aku dan memberikan damai sentosa.

 

(Februari 2014)

Dan sekarang, aku disini … duduk di depan meja kerjaku dan menuliskan kembali pengalaman ini. Dalam fase pembentukanku di Seminari, ada begitu banyak pergumulan yang seolah mendorongku dan seolah memberi “pengesahan” untuk mengangkat kopor keluar dari jalan panggilan. Tapi Tuhan mengajarkan bahwa jalan persembahan menjadi sebuah jalan ke arah depan tanpa pilihan untuk mundur kembali ke belakang. Pergumulan di atas tandon air asrama itu menjadi titik awal aku menyadari secara nyata Nama Tuhan yang kita kenal sebagai IMMANUEL (Tuhan beserta kita). Dia beserta bukan sebatas kuasa-Nya, bukan sebatas berkat-Nya,… Dia beserta sebagai Pribadi nyata yang membuka Diri untuk ku kenal, ku coba pahami, dan ku cintai. Dia beserta sebagai Pribadi nyata yang menuntun, mengingatkan, menghibur, memberikan jalan keluar, bahkan mengarahkan aku pada jalan-Nya yang semula tak kupahami. Bahkan Dia yang mengajar aku tentang arti hidup sebagai hamba Tuhan.

Kusadari begitu mudah untuk berbaju seorang hamba, tetapi membutuhkan penyangkalan diri untuk memiliki hati seorang hamba Tuhan. Hamba Tuhan adalah mereka yang mau mendengar kata Tuhan dan menjalankan kehendak Tuhan sekalipun mungkin bertentangan dengan birokrasi, bahkan tawaran untuk hidup dalam “sangkar kenyamanan”.

Aku terlalu percaya kepada Dia, IMMANUEL …

Tuhan yang mengirimkan jaketku di malam dingin itu dan membiarkan aku merasakan hangat pelukan-Nya. Tuhan yang mengajarku mengerti bahasa kasih-Nya yang masih terdengar nyata di telingaku “Tuhan Yesus mengasihimu Salome…”, bahkan Tuhan yang mengajarku melihat segala keburukan, awan gelap, kesukaran hidup bisa ditembus dengan keyakinan iman bahwa keindahan Tuhan tetap ada dibalik semua itu.

IMMANUEL bukan diukur dari kenyamanan, bukan dinilai dari keberhasilan yang dapat dinilai mata manusia. IMMANUEL bukan berarti kita bebas masalah, tidak ada air mata, tidak merasakan kesakitan. IMMANUEL diukur ketika dunia melihat Tuhan didalam kita yang hidup dalam pergumulan yang sama dengan dunia tetapi muncul sebagai orang-orang yang menyatakan kebenaran, menegakkan jalan keadilan, dan bersukacita dalam pengharapan.

Amin.

oleh : Salome


Categories

%d bloggers like this: