Kilas Perjalanan ( bag.2)

Ujian Bagi Jemaat Baru

Sebagai jemaat baru yang baru saja berdiri, ada banyak tantangan dan permasalahan yang harus dihadapi oleh Tiong Hoa Kie Tok Kau Hwee (THKTKH) Semarang. Tantangan terus datang silih berganti, mengoncang iman setiap jemaat yang ada, tapi kasih Tuhan selalu menyertai dan memimpin langkah anak – anakNya, sehingga mereka dapat menghadapi setiap badai yang datang dengan pengharapan yang teguh.

Tantangan pertama yang harus dihadapi adalah belum adanya Peraturan Gereja (PG), yang mengatur kehidupan berjemaat, termasuk struktur organisasi dan pengelolaan administrasi dan keuangan. Selain itu, masih banyak jemaat ( termasuk Majelis Jemaat ) yang memiliki pengetahuan iman yang dangkal dan pemahaman yang kurang akan makna mendasar dari sebuah gereja.

Oleh karena itu, dalam rapat Majelis Jemaat pertama, 29 April 1935, dirumuskan rancangan Peraturan Gereja (PG) yang secara garis besar mengatur 4 hal pokok, yaitu : jabatan – jabatan kegerejaan, persidangan / rapat gereja, azas pengajaran, sakramen dan upacara gerejawi, serta siasat gereja ( penggembalaan khusus ). Selain itu, dirumuskan juga liturgi kebaktian baru yang mulai dipakai pada Agustus 1935. Sementara itu, dalam rangka perkabaran Injil, dibentuk juga kegiatan sekolah minggu ( dimulai tahun 1936 ) dan perkumpulan kaum wanita gereja ( dimulai tahun 1937, kelak bernama Komisi Wanita Debora ).

Masalah yang menghadang selanjutnya adalah  munculnya kelesuan dan hilangnya semangat dalam kehidupan berjemaat di THKTKH Semarang (1938). Hal ini ditandai dengan merosotnya iman Kristen umat keturunan Tionghoa, dimana banyak dari mereka yang menjadi pasif, apatis dan kemudian meninggalkan gereja, baik yang terus terang ataupun dengan sembunyi – sembunyi.  Hal ini makin diperparah dengan berkurangnya jumlah anggota Majelis Jemaat, disebabkan karena meninggal dunia, pindah pekerjaan ke luar kota, bahkan ada yang terkena kasus penggembalaan khusus ( dikarenakan yang bersangkutan mengikuti Saksi Yehova ).

Tapi Tuhan tidak tinggal diam dan bertopang tangan melihat anak – anakNya dalam kelesuan dan kemunduran iman. Maka Tuhanpun mengirim seorang hamba-Nya, Ev. John Sung, seorang penginjil dari Cina untuk mengobarkan dan membangkitkan semangat kembali dalam jiwa anak – anakNya. Selama seminggu ( 19 sampai 26 Agustus 1939 ), John Sung membawakan KKR  di kota Semarang dengan luar biasa dan membawa banyak pertobatan di kalangan Tionghoa ataupun suku – suku lainnya. Akibatnya, banyak orang Tionghoa yang kembali ke gereja dan hal ini membuat THKTKH kembali dipenuhi dengan jemaatnya.

Pembangunan Gedung Gereja di Karangsaru

Masalah berikut yang menghadang adalah, walaupun THKTKH sudah berdiri lebih dari 10 tahun, tapi belum juga memiliki gedung gereja sendiri. Untuk mengadakan kebaktian umum dan kegiatan pelayanan gereja lainnya, gereja masih harus meminjam gedung Gereja Zendingkerk di Mlatentiangwi 27 dan rumah Ds. Liem Siok Hie di jalan Plampitan 31. Padahal dengan berkembangnya jemaat yang ada dan jumlah pengunjung kebaktian yang semakin bertambah, maka mau tidak mau gereja harus memiliki gedungnya sendiri.

Oleh karena itu, pada tahun 1947 Majelis Gereja membentuk Panitia Kerkbouwfonds ( Panitia  Pembangunan Gereja ), dengan tugas mencari dan mengumpulkan dana untuk membangun gedung gereja sendiri. Menyadari bahwa gedung gereja “Zendingkerk” yang dimiliki oleh Salatiga Zending tidak mungkin dibeli, maka Panitia kemudian mencari sebidang tanah yang cukup untuk dibangun sebuah gereja di daerah Semarang Tengah ( mengingat di daerah itu banyak tinggal keturunan Tionghoa ).

Dari sudut pandang manusia, pekerjaan ini sungguhlah berat, mengingat pada masa – masa itu Indonesia sedang dalam situasi perang kemerdekaan dan tentu saja, kondisi perekonomian juga sangatlah  sulit. Tetapi, tidak ada yang mustahil bagi Tuhan ! Ternyata Tuhan sendiripun turut bekerja dalam pembangunan gedung gereja-Nya.

Pada tanggal 18 Pebruari 1948, tanpa pernah diduga sebelumnya, Panitia didatangi oleh 3 utusan resmi dari ‘De Javasche Bank’ ( sekarang Bank Indonesia ) yang menawarkan sebuah tanah milik Bank tersebut di tikungan jalan Karangsaru dan jalan Kapuran, tepatnya di depan Sekolah Nusaputera, dengan panjang 75 meter dan lebar 47 meter. Untuk gereja, tanah itu ditawarkan dengan harga khusus, f.8.– / M2. Selain itu, mereka juga menawarkan, jika tanah itu terlalu besar untuk dibeli, maka tanah itu boleh dibeli sebagian saja, asalkan sisanya tidak terlalu kecil untuk dibangun sebuah rumah.

Pantia dan Majelis Gereja kemudian meninjau lokasi tanah tersebut dan akhirnya memutuskan untuk membeli sebagian saja, yaitu : 40 x 47 M2. Jadi kalau tanah itu mau dibeli, maka biaya yang harus dikeluarkan adalah sebesar : 40 x 47 M2 = 1880 M2 x @ f.8.– = f.15.040, ditambah dengan biaya balik nama, maka totalnya menjadi f.16.000.  ( Enam belas ribu rupiah ). Jumlah yang sangat besar untuk waktu itu, dan itupun harus dibayar dalam waktu satu bulan. “Darimana kami bisa mendapatkan uang sebanyak itu ?”, begitulah kebimbangan yang muncul di hati para panitia dan Majelis Jemaat.\

Tapi sekali lagi, Tuhan menunjukkan kasih setia-Nya dan selalu menyediakan apa yang dibutuhkan oleh anak – anakNya. Tuhanpun menggerakkan hati para jemaatNya untuk membantu membeli tanah tersebut dengan apa yang mereka punya, menurut kerelaan hati masing – masing.

Selain itu, Panitia juga mendapat bantuan dana dari Perkumpulan Kaum Wanita Kristen “Debora”, dari hasil bazaar dan fancy fair yang mereka lakukan di halaman gereja Zendingkerk pada bulan Januari dan Oktober 1948.

Dan sekali lagi, Tuhan menunjukkan kasih setia-Nya. Dana yang terkumpul tidak saja cukup untuk melunasi pembelian tanah tersebut, tapi juga dapat digunakan untuk membantu biaya pembangunan gedung gereja. Olah karena itu, segera dimulailah pembangunan gedung gereja, dengan diawali peletakan batu pertama oleh Ds. Liem Siok Hie pada tanggal 20 Agustus 1950.

Dengan susah payah dan penuh ketekunan, akhirnya pembangunan gedung gereja di Jalan Karangsaru tersebut dapat diselesaikan dalam waktu hampir 2 tahun. Dan akhirnya, pada tanggal 3 September 1952 dilakukan peresmian gedung gereja THKTKH Semarang di jalan Karangsaru tersebut, yang dihadiri oleh Wakil Walikota Semarang, Ka. Bimas Kristen Kanwil Kodya Semarang, Camat Semarang Tengah, utusan dari berbagai gereja serta ratusan jemaat THKTKH Semarang. Bersamaan dengan peresmian gedung itu, ditabhbiskan juga pendeta kedua THKTKH Semarang dalam diri Guru Injil Tan Kiem Liong ( Ds. Sulaiman Budipranoto ).

Dengan diresmikannya gedung gereja THKTKH Semarang, maka mulai minggu pertama September 1952, kebaktian THKTKH Semarang yang dulunya meminjam gedung Zendingkerk, dipindahkan ke Karangsaru, dengan jam kebaktian jam 06.00 dan 09.00 pagi.

%d bloggers like this: