Posted by: gkikarangsaru | April 15, 2014

Bagaikan Bejana di Tangan-Nya


“Bagaikan bejana siap dibentuk, demikian hidupku di tangan-Mu…”

 

Demikianlah sepenggal lagu rohani yang sudah cukup familiar di telingaku sejak aku masih duduk di bangku SD. Walaupun lagunya bagus, liriknya puitis dipadu dengan melodi yang indah, bagiku lagu itu biasa – biasa saja. Apa sih masalah anak SD, selain belajar, belajar dan belajar ? Tapi seiring dengan usia yang beranjak dewasa, lagu itu mulai benar – benar menyentuh hatiku. Setiap kali merasa “galau”, lagu itu sungguh menguatkan.

Aku mengambil kuliah S1 di Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, UKSW Salatiga. Awal – awal kuliah merupakan masa yang berat bagiku. Berasal dari keluarga yang bisa dibilang cukup “protective”, tinggal di rumah yang nyaman dan serba tersedia, serta selalu diantar orang tua kalau pergi kemana – mana, membuatku kaget ketika aku harus tinggal di kost, yang menuntut semuanya serba mandiri.

Tidak hanya harus berjalan kaki ke kuliah dan melakukan aktifitas lain selama di sana, namun ternyata aku juga harus memberanikan diri untuk naik bus umum setiap minggu, pulang pergi Semarang – Salatiga, satu hal yang tak pernah kulakukan sebelumnya, kecuali pariwisata bersama sekolah. Tak jarang juga, aku harus berdiri berdesakan di bus yang melaju kencang.

Jujur saja, aku memang tipe orang yang sulit beradaptasi dengan lingkungan baru. Sempat mengalami “culture shock” di awal perkuliahan, ditambah jadwal kuliah yang padat dan belum sepenuhnya beradaptasi dengan cuaca Salatiga, membuat daya tahan tubuhku lemah dan gampang terserang penyakit. Karena itu tak heran, jika pada minggu ketiga kuliah, aku terkena demam berdarah dan harus di-opname di rumah sakit selama 3 hari. Akupun semakin ketinggalan materi perkuliahan, karena harus beristirahat selama 2 minggu untuk pemulihan kesehatanku.

Saat itu, aku merasa pesimis untuk mendapat nilai yang baik. Hanya 2 hal yang bisa kulakukan: berdoa dan belajar segiat mungkin untuk mengejar ketinggalan. Aku bersyukur karena sejak kelas 5 SD, orang tuaku mulai mengadakan mezbah keluarga setiap hari di rumah. Puji Tuhan ! Kebiasaan ini membuatku bertahan saat mengalami banyak tantangan di masa perkuliahan.

Ternyata ujian – ujian di awal masa perkuliahan itu berakhir dengan indah. Tuhan menganugerahiku nilai IPK yang nyaris sempurna. Praise The Lord! Sejak saat itu, semangatku makin terpacu untuk mempertahankan prestasi. Akhirnya, Tuhan memberikan yang terbaik untukku, dengan berhasil lulus dengan IPK tertinggi dalam waktu 3 tahun 9 bulan. Saat wisuda, segala kenangan tentang perjuangan selama kuliah terbayang di benakku dan makin membuatku bersyukur atas berkat – berkat-Nya.

Setelah lulus, orang tuaku menyarankan untuk melanjutkan studi ke jenjang S2, mengingat usiaku yang masih muda dan sudah memiliki pekerjaan sampingan sebagai guru les dan freelance translator. Selagi aku bisa memperkaya pengalaman mengajar, aku juga dapat memperkaya ilmu di bidang ekonomi manajemen. Awalnya aku memang agak berat hati, terutama karena aku bosan dengan dunia perkuliahan dan ingin bekerja. Tapi, akhirnya aku setuju untuk langsung melanjutkan studi setelah wisuda S1.

Perkuliahan S2 ternyata tak semudah kuliah S1, bahkan bisa dikatakan berpuluh-puluh kali lebih sulit dan penuh tekanan mental. Materi kuliah yang diberikan merupakan hal yang baru bagiku, mengingat saat di SMA aku mengambil program IPA, dan selama kuliah S1 akupun tak pernah mendapat pelajaran ekonomi.

Aku memang mengikuti program matrikulasi terlebih dahulu, tapi rasanya tetap sulit untuk memahami pelajaran yang diberikan, terutama yang berkaitan dengan manajemen keuangan. Selain itu, aku terpaksa mengambil kuliah eksekutif (kelas malam di akhir pekan) karena kesibukanku mengajar di pagi sampai sore harinya ( mengajar sebagai dosen tamu di Fakultas Bahasa dan Sastra, memberikan les privat di kost, dan mengajar sebagai guru les part-time di lembaga kursus ).

Kuliahku berlangsung tiap hari Jumat dan Sabtu malam. Setiap pulang kuliah malam, aku sebenarnya merasa takut untuk berjalan pulang sendiri, karena pukul 9 malam di Salatiga keadaannya sudah sepi dan gelap. Belum lagi kalau musim hujan, pada jam segitu sering turun hujan atau setidaknya gerimis. Ketakutanku makin bertambah, ketika aku harus melewati gerombolan anak-anak “punk” yang sering nongkrong di jalanan. Aku hanya bisa berdoa dalam hati sambil berjalan cepat-cepat.

Setiap Sabtu malam, aku juga harus berjuang melawan rasa takut dengan naik bus yang gelap. Walaupun sudah malam, bus penuh sesak sehingga kadang kuharus berdiri berdesakan sambil menahan rasa pusing dan mual. Ditambah dengan jalanan yang macet, aku sudah benar – benar capek dan letih ketika sampai di Semarang hampir jam 10 malam.

Menjelang kelulusan, aku sempat merasa sedikit kesulitan dengan tesisku karena diwajibkan menggunakan software penelitian yang masih asing bagiku. Selain itu, aku juga harus melakukan pengulangan dalam membagi kuisioner karena sempat terjadi kesalahan dalam pengumpulan data yang pertama. Proses penulisan tesis berlangsung cukup lama, padahal saat itu aku sudah mulai merasa lelah dan bosan kuliah.

Sudah hampir 6 tahun kuhabiskan umurku untuk menuntut ilmu di Salatiga, sementara teman-teman yang lain sudah bekerja, bahkan sudah ada yang menikah dan punya anak. Saat itu hampir kuputus asa. Bahkan tiap kali mendengar kata “tesis”, aku sudah merasa muak dan ingin menangis.

Namun Tuhan memang baik. Melalui keluarga, sahabat – sahabat, dan orang – orang terdekat, akukembali diingatkan tentang kuasa doa. Melalui doa, aku bisa “curhat” dengan Tuhan tentang kesulitanku dalam penulisan tesis. Dukungan doa dari orang – orang terkasih juga selalu menyertaiku hingga akhirnya aku berhasil lulus dalam waktu yang relatif cepat dan Tuhan ijinkan aku untuk meraih IPK tertinggi lagi. Sungguh anugerah yang tak terkira.

Setelah lulus, semangatku bekerja berkobar – kobar. Akupun langsung berusaha mencari – cari pekerjaan melalui iklan di surat kabar, internet, dan kenalan – kenalan. Satu demi satu perusahaan, surat lamaran kukirimkan dengan keyakinan penuh bahwa aku pasti memenuhi kriteria mereka, mengingat prestasi dan tingkat pendidikanku.

Setiap pagi, hal pertama yang kulakukan adalah mengecek email dan menunggu – nunggu telepon dari perusahaan yang mau mengundangku wawancara atau menjalani psikotest. Memang ada satu – dua perusahaan yang menghubungi, tapi ternyata hampir semua justru merasa terlalu berat untuk menerimaku, karena jenjang pendidikanku terlalu tinggi dan pengalaman bekerjaku hanya di bidang pendidikan saja. Ada juga beberapa universitas dan SMA yang cukup terkemuka di luar kota mengundangku untuk menjadi dosen atau guru, tapi karena gaji yang ditawarkan hampir tidak mencukupi untuk membayar biaya hidup dan kost di sana, dengan berat hati terpaksa aku menolaknya.

Sebulan setelah lulus dan belum juga mendapat pekerjaan, hatiku mulai “galau”. Penyesalan tentang studi S2 berkecamuk dalam pikiranku. “Mengapa waktu itu aku harus mengambil S2 ? Lebih baik dulu setelah lulus S1 langsung kerja aja. Apa gunanya studi S2 kalau ternyata malah lebih susah cari pekerjaan ?”.

Pernah sesekali kulampiaskan kejengkelan pada kedua orang tuaku karena aku merasa merekalah yang mendorongku untuk melanjutkan studi S2. Aku menyalahkan mereka yang membuatku sulit mendapat pekerjaan dan malah “membuang waktu”-ku selama dua tahun ini dengan sia – sia.

Namun aku bersyukur, di saat hatiku “galau”, orang tuaku tidak marah. Mereka justru kembali mengingatkanku untuk berserah pada Tuhan dan berdoa; DIA pasti akan menyediakan pekerjaan yang tepat dan sesuai dengan kehendak-Nya untuk masa depanku. Dengan berat hati karena jengkel dan hampir putus asa, akupun berdoa. Jujur, ada satu tanya dalam hatiku, “Apakah DIA masih sejauh doa?”

Beberapa waktu kemudian, Tuhan mulai membuka jalan. Sejak Agustus 2012, saat mulai penulisan tesis, aku mulai membuka kursus Bahasa Inggris di rumah (Semarang). Pertama kali dibuka, hanya ada satu orang murid saja. Baru beberapa bulan kemudian, bertambah satu orang murid lagi. Perkembangan yang menurutku sangat lambat ini membuatku ingin menutup saja tempat kursusku. Aku ingin bekerja di perusahaan yang bisa membayarku dengan gaji tinggi setiap bulannya.

Namun ketika aku lulus dan tak kunjung mendapat pekerjaan, orang tuaku menyarankan untuk mencoba fokus mengembangkan tempat kursus. Aku menolak karena merasa pesimis. Bagaimana mungkin aku bisa bertahan jika hanya memiliki dua orang murid saja ? Setelah pengorbanan selama 6 tahun di Salatiga, apakah hanya itu yang bisa kulakukan?

Lagi – lagi, Tuhan membuktikan padaku bahwa DIA masih sejauh doa. Dua bulan setelah lulus, Fakultas Bahasa dan Sastra UKSW kembali memintaku untuk menjadi dosen tamu di sana, yang mengajar seminggu sekali dan mengampu beberapa mata kuliah penting. Di rumah pun, satu demi satu murid – murid berdatangan untuk belajar di tempat kursusku. Dalam waktu 4 bulan, jumlah muridku lebih dari 10 orang, dan sebagian besar mengambil kursus 2x seminggu, bahkan ada yang mengambil paket intensif ( setiap hari ).

Akhirnya, setiap hari kesibukan dan jam kerjaku sudah hampir sama dengan pekerja kantoran. Tak jarang, akupun terpaksa “lembur” mengajar hingga jam 9 malam karena ada beberapa murid yang tak keberatan untuk les di malam hari. Selain itu, pekerjaanku sebagai freelance translator juga cukup lancar, bahkan kadang sampai overload dikejar deadline. Sekali lagi aku bersyukur untuk berkat-Nya; aku bisa bekerja di rumah ( seperti impianku sejak kecil ) dan mengerjakan pekerjaan yang sesuai dengan bakat dan minat.

Saat ini, di sela-sela kesibukan, kadang aku merenung dan menengok ke belakang. Betapa ajaibnya TUHAN-ku! Tantangan-tantangan dan kesulitan-kesulitan memang sengaja Tuhan berikan untuk menempaku menjadi bejana yang indah; memiliki pribadi yang tangguh dan iman yang semakin kuat.

Jalan di depanku memang masih panjang. Tak jarang rasa bimbang, ragu, dan “galau” masih terus membayang. Tapi melihat semua yang sudah dilakukan-NYA dalam hidupku, apakah aku masih memiliki alasan untuk meragukan bahwa DIA hanya sejauh doa? Ingatlah, di balik tiap rasa sedih, kecewa, galau, jengkel dan putus asa, DIA tetap setia; DIA hanya sejauh doa kita, dari dulu hingga selama-lamanya. Haleluya!

 

oleh : Ariella Octaviany Kusbianto


Categories

%d bloggers like this: