Posted by: gkikarangsaru | April 15, 2014

Sang Dosen


Jam menunjukkan pukul setengah sembilan pagi. Masih setengah jam waktu bagiku untuk sampai di ruang kuliah tanpa terlambat. Karena itu, kukayuh dengan santai sepeda bmx hitam pinjaman dari teman kostku.

Pagi itu, jadwal kuliahku adalah Ulangan Akhir Semester ( UAS ) Matematika dan dosen yang mengampu mata kuliah ini adalah dosen yang terkenal disiplinnya. Jarang sekali beliau absen mengajar dan beliau selalu datang tepat waktu pada saat mengajar. Setiap mahasiswa yang terlambat lebih dari 15 menit, tidak diperbolehkannya masuk dan mengikuti kuliah. Oleh karena itulah, supaya tidak buru – buru, aku berangkat dari kost lebih pagi dari biasanya.

Entah melamun, atau karena di otakku sedang bertebaran rumus – rumus matematika, aku tidak menyadari ketika sedang menyeberang jalan, ada sebuah sepeda motor berlari kencang dari arah belakangku. Tanpa sempat berpikir, tiba – tiba aku sudah terkapar di jalanan. Demikian juga si anak muda, pengendara motor, ikut terjatuh bersama motornya. Beruntung, pagi itu jalanan belum begitu ramai, sehingga kami terhindar dari bahaya terlindas atau tertabrak kendaraan lain.

Segera aku bangun. Kulihat ada darah mengalir dari luka di tangan dan kakiku. Kucoba gerakkan tangan dan kakiku. Terasa perih, tapi semuanya tampak normal. Kelihatannya itu bukan luka yang serius, hanya lecet – lecet biasa. Kuhampiri sepedaku dan aku berusaha menuntunnya ke pinggir jalan. Saat itulah aku baru sadar, bahwa ban belakang sepedaku peyok sehingga tidak bisa berjalan.

Sementara itu, si pemuda pengendara motor, juga sudah bangun dari jalanan dan mendorong motornya menepi, mendekatiku. Sama denganku, si pemuda hanya mengalami lecet – lecet di badannya. Sepeda motornya juga tidak mengalami rusak berarti, hanya kaca spion yang pecah. Sebenarnya aku tak ingin mempermasalahkan tabrakan ini lebih lanjut. Selain lukaku tidak parah, akupun sedang dikejar waktu. Demikian juga si pemuda.

Tanpa kami berdua sadari, seorang polisi datang menghampiri. Setelah bertanya sebentar tentang kondisi kami, sang polisi membawa kami berdua ke kantor polisi yang ada persis di seberang jalan. Di sana, si polisi meminta kami menceritakan kronologi tabrakan, sebelum akhirnya menanyai aku, apakah akan menuntut si pemuda. Saat itu, yang ada di pikiranku adalah aku harus cepat – cepat berangkat ke kampus agar tak terlambat mengikuti ujian. Jadi, kupilih berdamai saja dan kutolak mempermasalahkan tabrakan ini lebih lanjut.

Tak terasa, lebih dari 20 menit aku berada di Kantor Polisi. Keluar dari sana, jam sudah menunjukkan hampir pukul 9.00. Dan saat itulah, aku merasa benar – benar bingung. Dengan kondisi sepeda yang hampir tidak bisa berjalan ( aku harus mendorong dengan mengangkat roda belakang ), tidak mungkin aku membawanya ke kampus. Tidak mungkin juga aku meninggalkan sepeda itu di kantor polisi dengan kondisi rusak seperti itu. Betapa tidak bertanggung jawabnya aku, kalau aku sampai mentelantarkan sepeda pinjaman dari teman kostku ini.

Jadi, kuputuskan untuk cepat – cepat mendorong sepeda itu pulang ke kost. Selanjutnya, aku berlari – lari dari kost, mengejar angkot lewat dan berlari – lari lagi dari pintu gerbang kampus ke tempat kuliah yang jaraknya lebih dari 500 meter. Aku tahu, walau seberapa cepat aku berlari, aku pasti terlambat mengikuti ujian. Aku hanya bisa berharap dan berdoa, “Tuhan, walaupun aku datang terlambat, biarlah dosenku memahami kondisiku dan menijinkan aku tetap mengikuti ujian”.

Hampir pukul setengah sepuluh ketika aku sampai ke ruang kuliahku. Aku kaget ketika melihat teman – temanku sudah berada di luar ruang kuliah. Aduh, aku benar – benar terlambat ! Teman – temanku sudah menyelesaikan ujian. Tuhan, tolong aku !

Dengan gugup dan gemetar, kutemui seorang teman yang keheranan melihat aku datang dengan wajah kuyu dan tangan berdarah. Gimana ujiannya ? Sudah selesai ?, tanyaku tidak sabar. Wajahnya semakin heran mendengar pertanyaanku. Sebelum dia menjawab, tiba – tiba kulihat teman – temanku bergegas masuk ke ruang kuliah. Begitu juga temanku itu. Walau sempat heran, aku baru tahu jawabnya ketika kumenoleh ke belakang. Dosenku yang disiplin dan selalu tepat waktu, hari ini datang terlambat !

Cerita kecilku ini selalu membekas di hati. Pengalaman sederhana ini sungguh menakjubanku, mengajarkanku bagaimana sesungguhnya Tuhan begitu dekat dengan hidupku. Dia tahu kebutuhanku.Dia tahu masalahku. Dan Dia mendengar doaku, bahkan memberi lebih dari apa yang kuminta. Aku hanya meminta agar aku tetap diijinkan mengikuti ujian, tetapi Tuhan malah memberiku kesempatan untuk mengikuti ujian dari awal ( walaupun aku harus menahan perih dari lukaku yang masih mengeluarkan darah ).

Terima kasih Tuhan, Engkau telah mendengar doaku ! Dan lebih dari itu, terima kasih karena Engkau telah mengajarku untuk mempercayai-Mu !

oleh : Jusak Irawadi.


Categories

%d bloggers like this: