Posted by: gkikarangsaru | April 15, 2014

Sebuah Ketukan di Suatu Pagi


Kota Surabaya, tahun 1999.

Masih jelas terbayang betapa panasnya kota itu di tahun itu, ketika saya berada di sana sebagai mahasiswa praktik dari SAAT yang ditempatkan di sebuah gereja berlabel GKI (nama jalannya sengaja tidak saya sebutkan untuk menjaga kerahasiaan).

GKI itu, sama seperti GKI pada umumnya, ada kegiatan Persekutuan Doa Pagi (selanjutnya disingkat PDP) di pagi hari di hari Senin sampai Sabtu mulai jam 05.00 (atau 05.30)? Sama seperti GKI pada umumnya, jumlah jemaat yang hadir di PDP itu tidak lebih dari jumlah sila dari Pancasila.

Di GKI yang sangat besar itu ada beberapa pendeta dan calon pendeta yang melayani sebagai gembala gereja, dan tentu saja di GKI yang sangat besar itu juga terdapat puluhan penatua yang turut melayani sebagai majelis jemaat; tetapi sama seperti GKI pada umumnya, mereka tidak hadir di PDP. Para pendetanya tidak hadir, para penatuanya juga tidak hadir, dan yang lebih parah lagi, saya sebagai mahasiswa praktik di GKI itu juga tidak hadir!

Secara rohani, saya dibesarkan di GKI Karangsaru Semarang. Sebagai jemaat yang sangat aktif di berbagai kegiatan gerejawi sejak remaja, saya tidak pernah mengikuti PDP di GKI Karangsaru Semarang. Hal ini tentu saja turut membentuk pola pikir saya yang menganggap PDP tidak penting atau kurang penting. Bahkan setelah saya kuliah di SAAT pun, pola pikir itu tidak bertobat. Itulah alasan mengapa sebagai mahasiswa praktik dari SAAT, saya juga tidak hadir di PDP.

Sebagai mahasiswa praktik dari SAAT yang tidak hadir di PDP di GKI itu, saya tidak mendapat teguran atau pengarahan apapun yang memastikan saya untuk hadir di PDP. Alasannya jelas dan terang, mereka yang berhak menegur dan mengarahkan saja tidak hadir, bagaimana mungkin mereka cukup punya muka untuk menegur dan mengarahkan saya?

Saya menikmati setiap pagi hari di GKI itu dengan masih memeluk guling dan tidur nyenyak sementara beberapa jemaat yang tidak lebih dari jumlah sila dari Pancasila itu tekun berdoa di PDP. Apa yang saya lakukan mungkin juga dilakukan oleh para pendeta, calon pendeta, dan para penatua majelis jemaat.

Hal ini terus berlangsung dari hari ke hari, pagi demi pagi, sampai suatu pagi seorang ibu setengah baya mengetuk pintu kamar saya yang terletak di lantai paling atas di GKI itu untuk meminta saya menyampaikan renungan di PDP berhubung yang semestinya memimpin tidak hadir.

Setelah selesai memimpin PDP di pagi hari itu, saya berbincang-bincang dengan sang ibu setengah baya itu tentang banyak hal, terutama hal-hal yang berkaitan dengan PDP. Ketukan pintu di kamar saya di pagi hari itu dan hasil informasi yang berhasil saya gali dari perbincangan dengan sang ibu itu sangat mengejutkan dan membuat saya berkomitmen untuk mulai menganggap serius PDP serta menyediakan waktu khusus untuk mengikutinya.

Ibu tersebut tinggal sangat jauh dari lokasi GKI itu berada, sehingga untuk hadir di PDP di GKI itu, ia harus bangun pagi hari dan menempuh perjalanan jauh yang sangat memakan waktu. Ia harus berjalan cukup jauh dari rumahnya ke jalan raya yang dilewati angkutan kota (angkot), setelah naik angkot dan ganti naik angkot lain sebanyak dua kali maka ia kemudian harus berjalan lagi cukup jauh untuk sampai ke GKI itu. Bayangkanlah kerepotan dan capai lelah yang harus dijalaninya hanya untuk hadir di PDP.

Saya menduga setidaknya ia harus bangun jam empat pagi dan kemudian masih harus bercapai lelah menempuh perjalanan jauh hanya untuk hadir di PDP, namun ia melakukan hal itu dengan setia. Mau tidak mau, saya mencoba membandingkan pengorbanan sang ibu setengah baya itu dengan diri saya sendiri, yang hanya menapaki beberapa tangga untuk turun namun tidak hadir di PDP setiap pagi. Betapa malasnya saya! Sangat malas! Tidak ada alasan untuk membela diri. Saya benar-benar malas dan harus malu dengan teladan ketenun sang ibu setengah baya tersebut.

Sejak ketukan di pintu kamar saya di pagi hari itu, saya bertobat dan rajin mengikuti PDP, baik di GKI itu, maupun di gereja-gereja lain di mana pun saya sebagai mahasiswa SAAT ditempatkan. Hal ini menjadi suatu kebiasaan baik yang membangun iman dan terus saya coba lakukan, bahkan hingga saat ini ketika saya tidak lagi menjadi mahasiswa SAAT dan sudah berjemaat di GKI Karangsaru Semarang.

Jemaat yang terkasih, di GKI Karangsaru Semarang yang kita cintai ini, kegiatan Persekutuan Doa Pagi (PDP) diadakan setiap pagi dari Senin sampai Jumat mulai jam 05.30 dan Sabtu mulai jam 08.00. Celakanya, sama seperti GKI pada umumnya, jemaat yang hadir untuk mengikuti PDP tidak lebih dari jumlah sila dari Pancasila, atau kalau sedang beruntung bisa melewati jumlah sila dari Pancasila maka biasanya tidak lebih dari jumlah jari tangan setiap kita.

Anda prihatin? Sudah semestinya! Ayo marilah kita bunuh kemalasan sebelum kemalasan membunuh kita! Tidurlah lebih awal, bangunlah pada pagi hari, dan marilah berlutut bersama di Persekutuan Doa Pagi GKI Karangsaru Semarang!

oleh : Tjatasjo Soehono


Categories

%d bloggers like this: