Posted by: gkikarangsaru | April 15, 2014

Doa Untuk Seorang Sahabat


Kesedihan dan air mata menyelimuti hampir semua wajah yang berkumpul di tempat itu. Berita yang kami dengar, benar – benar tidak bisa kami percaya. Seorang sahabat remaja kami, telah didiagnosa terkena kanker dan harus diamputasi kaki kirinya.

Namanya Hendro. Usianya baru 17 tahun. Kami mengenal dia sebagai anak yang rajin berbakti, giat ikut persekutuan remaja, penuh semangat melayani Tuhan dan juga anak yang ramah dan mudah bergaul dengan siapa saja. Karenanya, tidak salah kalau kemudian Hendro dipercaya menjadi Ketua Remaja GKI Karangsaru saat itu.

Dan tiba – tiba, datanglah berita mengagetkan itu. Kami tidak percaya dan tidak rela, kalau sahabat sebaik dan seakrab Hendro, harus kehilangan kaki dan mungkin, masa depannya. Sempat terlintas dalam benak kami, bagaimana mungkin Tuhan memberikan derita ini, justru kepada anak-Nya yang sungguh rajin dan setia kepada-Nya ?

Karena itulah, kami, beberapa anak remaja GKI Karangsaru, Sabtu sore itu berkumpul di sebuah ruang di gereja. Dalam segala kegundahan dan kesedihan, kami bersekutu dan menaikkan doa untuk seorang sahabat yang kami kasihi, berharap Tuhan menurunkan mujizat-Nya dan sahabat kami tidak perlu kehilangan kakinya.

Tak berhenti sampai disitu kami berdoa dan meminta kepada Tuhan. Kamipun berjanji setiap malam pada jam yang sama ( jam 10 malam ), kami akan berdoa bersama di rumah kami masing – masing, untuk pokok doa yang sama, agar Tuhan mau menyembuhkan sahabat kami.

Tapi, kehendak Tuhan bukanlah kehendak kami, juga bukan kehendak Hendro. Akhirnya, tibalah waktunya bagi Hendro untuk menjalani operasi amputasi kaki, dan selanjutnya, memulai menjalani hari- harinya di rumah sakit untuk merawat dan menyembuhkan penyakit kankernya.

Tentu saja tidak mudah bagi anak remaja seusia Hendro untuk menghadapi beban hidup seberat ini. Pernah suatu kali, di suatu pagi sehabis operasi, Hendro berkata kepada kami yang menemani, “Tolong jempol kaki kiriku digaruk, rasanya gatal sekali !”. Kami hampir menangis mendengarnya, karena kaki yang minta digaruk itu, sudah tidak ada lagi. Untuk menghiburnya, kami hanya bisa mengalihkan dengan topik pembicaraan yang lain.

Karena itulah, kami, sahabat – sahabatnya, tidak hanya mendukungnya dalam doa – doa kami, tetapi juga berusaha menghiburnya melalui kehadiran kami di sampingnya. Siang dan malam, di sela – sela kesibukan sebagai pelajar, kami bergantian menengoknya di rumah sakit. Bahkan, demi menghiburnya lebih lama, kami harus kejar – kejaran dengan para satpam rumah sakit yang melarang kami masuk di luar jam kunjung pasien.

Hari pun berganti hari, bulan berganti bulan. Kamipun tetap setia dalam doa untuk sahabat kami. Kami juga setia menengoknya, baik ketika masih berada di rumah sakit ataupun setelah dirawat di rumah. Tapi, keadaan Hendro bukannya membaik, tetapi justru makin hari makin parah penyakit yang dideritanya. Kanker telah menyebar ke seluruh tubuhnya. Badannya semakin kurus, rambut lebatnyapun telah habis. Akhirnya, setelah 1 tahun berjuang melawan penyakitnya, Tuhan memanggil anakNya itu kembali ke surga. Kami sangat kehilangan sahabat yang kami kasihi .

Sampai hari ini, peristiwa itu sangat membekas di hati kami dan bagi saya pribadi, memunculkan sebuah pertanyaan besar : mengapa Tuhan ijinkan pergumulan yang berat itu menimpa sahabat kami yang masih muda ? Mengapa Tuhan justru memberikan pencobaan itu kepada anakNya yang setia dan sungguh – sungguh melayaniNya ? Mengapa Hendro dan bukan orang lain ? Mengapa, Tuhan ?

Cukup lama saya terusik dengan pertanyaan ini. Tapi seiring dengan berjalannya waktu, setelah banyak melihat, mendengar dan mengalami permasalahan dan pergumulan dalam hidup, sedikit demi sedikit saya memahami dan menyadari apa yang Tuhan ingin ajarkan melalui kisah Hendro ini.

Pertama, Tuhan sedang mengajar kami, bahwa berdoa itu tidak egois. Berdoa bukan sekedar hanya untuk diri kami sendiri, tapi berdoa itu juga untuk mengingat, memperhatikan dan memperdulikan orang lain yang ada di sekitar kami, terutama mereka yang sedang berbeban berat dan berjuang dalam permasalahan kehidupan. Tuhan sedang mengajar kami berdoa syafaat.

Kedua, Tuhan sedang mengajar kami, bahwa berdoa bukan sekedar menutup mata dan melipat tangan, Berdoa juga berarti membuka mata dan mengulurkan tangan untuk melihat dan memikirkan apa yang bisa kami lakukan, sesuai dengan apa yang kami doakan dan selanjutnya, berusaha mewujudkannya sesuai dengan kemampuan kami. Tuhan mengajar kami, berdoa sambil bekerja ( ora et labora ).

Ketiga, Tuhan sedang mengajar kami, bahwa berdoa itu tidak memaksakan kehendak kepada Tuhan, tapi sebaliknya berusaha mencari kehendak Tuhan dalam kehidupan kami. Walaupun kami berdoa sebaik-baiknya dan serajin – rajinnya, tapi bukan berarti dapat mengubah hati Tuhan untuk mengikuti kehendak kami. Sebaliknya, justru kami yang harus mengubah hati untuk menyelaraskan hidup ini dengan rencana dan kehendak Tuhan. Tuhan mengajar kami tetap setia berdoa dan percaya kepadaNya, walaupun jawaban atas doa kami berbeda dengan yang kami harapkan.

Begitulah cara Tuhan membentuk dan mengajar kami yang masih muda. Melalui pergumulan hidup sahabat kami, Hendro, Tuhan telah mengajar kami apa makna doa yang sesungguhnya.

oleh : Jusak Irawadi


Categories

%d bloggers like this: