Kilas Perjalanan ( bag.3 )

Dari THKTKH Menjadi GKI

Sejak pertama kali gagasan mendirikan Tiong Hoa Kie Tok Kauw Hwee digulirkan di konferensi tokoh Kristen Tionghoa di Bogor, jelaslah bahwa THKTKH sedari semula memang dikhususkan untuk melayani dan melakukan pekabaran Injil bagi orang – orang keturunan Tionghoa saja. Tapi sering berubahnya jaman, terutama dengan kemerdekaan yang berhasil diperjuangkan oleh bangsa Indonesia dari penjajahan Belanda dan menjadikan Indonesia sebagai sebuah negara yang utuh dan berdaulat, maka hal ini menempatkan keturunan Tionghoa pada sebuah tataran baru dalam kehidupan mereka di tengah kemajemukan masyakarat. Oleh karena itu,  mau tidak mau gereja THKTKH harus berpikir lebih dewasa dalam menempatkan dirinya di tengah – tengah kehidupan berbangsa dan bernegara.

Oleh karena itu, sesuai dengan keputusan Sidang Synode GKI Jawa Tengah ke-6 di Purwokerto ( 17 – 20 September 1956 ), maka akhirnya sejak tanggal 1 Me1 1957 nama Gereja Kristen “THKTKH” Semarang diganti menjadi Gereja Kristen Indonesia (GKI) Semarang Karangsaru. Dengan perubahan nama ini, maka GKI Semarang Karangsaru tidak perlu merasa dirinya sebagai unsur asing di negerinya sendiri. Justru sebaliknya, hal ini akan memberi makna positif kepada Gereja, yaitu mulai adanya sikap keterbukaan dari Gereja, baik dalam hubungan dengan Gereja-gereja lain, maupun di dalam beberapa segi kehidupan sendiri, termasuk terbukanya keanggotan gereja bagi mereka yang berasal dari suku – suku lain.

Jemaat Yang Bertumbuh dan Berbuah

Pada tahun – tahun selanjutnya, Tuhan terus memberkati dan memimpin langkah jemaat GKI Semarang Karangsaru dalam pelayanan dan pekabaran Injil, sehingga makin banyak jiwa – jiwa baru yang dimenangkan bagi Kristus, yang kemudian masuk dalam kehidupan jemaat. Sebagai konsekuensinya, pertumbuhan jemaat yang menggembirakan ini harus diikuti dengan penambahan tempat kebaktian dan fasilitas pelayanan gerejawi lainnya. Selain itu, secara organisatoris,  Gereja  juga harus mengalami perubahan dan penyempurnaan, sehingga dapat melayani jemaat yang makin bertambah itu dengan efektif dan efisien.

Dalam hal penambahan tempat kebaktian, maka pada tahun 1962, atas kemurahan Tuhan,  Majelis Jemaat berhasil membeli sebuah rumah di daerah Semarang Selatan, yaitu di Jalan Peterongan 310 ( sekarang Jl. Kompol Maksum 310 ). Pemugaran dan pembangunan gedung gereja itu dilaksanakan secara bertahap dari tahun 1963 sampai dengan tahun 1966. Peresmian gedung gereja sendiri dilakukan dalam kebaktian khusus tanggal 31 Oktober 1966 bertepatan dengan hari Reformasi.

Sementara itu, Kebaktian Pemuda ( Jeugdienst ) yang  diadakan sejak awal tahun 1951 di lantai dasar Balai Pertemuan Kristen ( Jl. Bojong 51 ) telah diresmikan menjadi kebaktian umum pada bulan Juni 1953. Karena dari hari ke hari, pengunjung kebaktian semakin bertambah banyak, maka Majelis Jemaat akhirnya memutuskan untuk mencari tempat yang lebih permanen dan luas untuk mengadakan kebaktian. Dengan berkat Tuhan, maka tahun 1968 Majelis Gereja dapat membeli gedung dan tanah di Jalan Beringin 15 (sekarang Jl. Kapten Pierre Tendean 15). Setelah dipugar seperlunya, maka diresmikan perpindahan dari Jl. Bojong 51 dan pemakaiannya dalam kebaktian tanggal 24 Desember 1969 bertepatan dengan hari Natal.

Dalam hal organisatoris, GKI Karangsaru Semarang yang sudah menjadi besar akhirnya mengadakan pembagian wilayah kerja ( rayonisasi ). Secara administratif sejak 1 Juli 1969, jemaat dibagi dalam tiga rayon, yaitu rayon I Karangsaru meliputi wilayah pusat kota Semarang dipimpin Ds. Zacharia W. Susetya, rayon II Beringin meliputi wilayah Semarang Tengah ke Barat dan Utara dipimpin Ds. Soelaiman B. dan rayon III meliputi wilayah Semarang Tengah ke Selatan dan Timur dipimpin oleh Ds. Samuel Dharmahatmaja S.Th. Dengan demikian dimulailah suatu babak baru dalam sejarah GKI Karangsaru Semarang, yaitu desentralisasi yang bertujuan utama untuk lebih meningkatkan pelayanan kepada Jemaat dengan cara kerja yang lebih efektif dan efisien.

Pendewasaan GKI Beringin dan Peterongan dilaksanakan pada tanggal 6 Februari 1987 jam 17.00 melalui Kebaktian Pendewasaan bertempat di GKI Karangsaru. Kebaktian dipimpin oleh Pdt. Zacharia W.S. ditandai dengan penyerahan sebuah Alkitab besar, berkas-berkas keanggotaan Jemaat dan anak kunci kepada wakil Majelis Jemaat kedua Gereja tersebut.

%d bloggers like this: