Posted by: gkikarangsaru | April 15, 2014

Tuhan, Ijinkan Putri Kami Hidup !


Malam semakin larut, tapi Agnes, putri kami yang masih berumur 5 bulan, tetap saja belum bisa tidur. Panas badannya tinggi. Napasnya terdengar begitu sesak dan berat. Kami tahu putri kami sedang merasakan kesakitan yang hebat, dan itulah yang membuatnya terus menangis sepanjang malam. Kami berdua, saya dan istri, sudah bergantian menggendong untuk membuatnya nyaman, tapi apa yang kami lakukan seakan sia-sia saja. Anak itu masih saja tidak dapat tidur dan merintih kesakitan.

Saat itu, putri kami sudah beberapa hari dirawat di rumah sakit. Walau begitu, panas tinggi dan sesak napasnya tak kunjung juga hilang. Sempat agak membaik beberapa saat, tapi kembali tertular penyakit anak lain yang kebetulan dirawat satu kamar dengannya. Hati orang tua mana yang tidak akan pilu melihat penderitaan putrinya seperti ini. Siang malam, di setiap kesempatan, kami selalu memanjatkan doa untuk kesembuhan putri kami.

Ya, begitulah kondisi putri kami. Sejak lahir, tubuhnya begitu ringkih dan gampang terkena penyakit. Satu minggu terlihat sehat, minggu berikutnya anak ini sudah bergelut lagi dengan penyakitnya. Ya, anak kami telah didiagnosis dokter memiliki kelainan jantung. Inilah yang membuatnya tubuhnya begitu lemah dan gampang tertular penyakit. Bahkan seorang dokter yang lain pernah mengatakan, biasanya anak – anak seperti putri kami hanya dapat bertahan hidup 6 bulan saja.

Padahal, pada waktu lahir tanggal 23 Agustus 1984, putri kami ini lahir dengan normal. Tidak ada kelainan yang ditemukan padanya saat itu. Tapi, seminggu kemudian, ketika kami kontrol ke rumah sakit, ternyata berat putri kami tidak bertambah. Begitu juga dengan minggu – minggu selanjutnya, beratnya tetap saja tak bertambah. Karena itu, seorang perawat pernah memarahi istri saya, dikira sang bayi tidak pernah mendapat ASI.

Merasa curiga dengan keadaan anak kami, kami berkonsultasi ke dokter anak, yang kemudian merujuk kami ke seorang dokter spesialis jantung, dr. Hardiman. Setelah dilakukan pemeriksaan echo, maka diketahuilah penyebabnya : terjadi kebocoran di serambil dan bilik kiri jantung putri kami sebesar 5 milimeter. Ya Tuhan, kami tidak pernah menyangka bahwa penyakit putri kami begitu beratnya !

Sang dokter pun menjelaskan kami harus menunggu putri kami berumur 3 tahun untuk melihat apa yang terjadi selanjutnya dengan kebocoran itu. Bisa saja kebocoran itu sembuh dengan sendirinya, tetapi bisa juga kebocorannya makin melebar. Jika itu terjadi, satu – satunya cara untuk menyelamatkan putri kami adalah dengan operasi bedah jantung. Hanya saja, di Indonesia saat itu belum ada dokter yang bisa melakukan operasi ini. Bedah jantung baru bisa dilakukan di Belanda dan Australia. Harganya pun sangatlah mahal, sekitar 25 sampai 30 juta rupiah. Wow, sebuah angka yang jauh dari kemampuan ekonomi kami !

Sungguh sedih dan berat bagi kami untuk menerima kenyataan ini. Kami benar – benar tidak tahu apa yang harus kami lakukan agar putri kami tetap hidup. Yang bisa kami lakukan, hanyalah sujud bertelut dan berdoa dengn penuh air mata. Kami percaya, jika putri kami diijinkan untuk hidup, Tuhan pasti menuntun dan memberi kekuatan kami untuk menjalaninya. Apapun yang Tuhan berikan dan ijinkan terjadi, Tuhan pasti punya rencana yang indah bagi kami.

Dan itulah juga yang kami rasakan di malam itu. Diantara ketakutan akan kehilangan putri kami tercinta dan kepasrahan kepada Tuhan atas rencanaNya bagi hidup kami, kami hanya bisa menatap sedih melihat putri kami sedang berjuang melawan penyakitnya.

Beberapa hari kemudian, putri kami boleh pulang dari rumah sakit. Walau demikian, panas tinggi dan sesak napas, masih sering dialaminya. Selain itu, kelainan jantung yang dimilikinya ternyata juga menghambat pertumbuhannya. Badannya kurus sekali, sampai – sampai tulang dadanya kelihatan menonjol ( bahkan saat berumur 5 tahun, beratnya hanya 11 kg ). Jadi tidaklah heran, dengan kondisi tubuh seperti itu, putri kami baru bisa berjalan setelah berumur 2 tahun.

Di sisi lain, penyakit putri kami yang datang silih berganti, tidak saja menguji kesetiaan kami dalam berserah dan berdoa kepadaNya, tetapi juga menguji iman kami di dalam hal keuangan. Rata – rata setiap bulannya, kami harus mengeluarkan biaya Rp. 80.000,00 untuk biaya berobat putri kami. Itu belum termasuk untuk membeli susu khusus untuknya, yang hanya tersedia di apotik tertentu dengan harga dua kali lipat dari susu biasa ( sekitar Rp. 20.000,00 ). Padahal, sebagai seorang pegawai sebuah bengkel, saat itu saya hanya mendapat gaji Rp. 22.500,00 setiap minggunya. Karena itulah, demi putri kami, setiap malam dan setiap hari minggu saya kerja lembur, agar mendapat tambahan uang.

Kerja dan kerja itulah yang saya lakukan, hanya agar kami punya uang untuk mengobati putri kami. Dan puji Tuhan, walaupun saya tidak pernah libur bekerja, tapi Tuhan berikan saya kesehatan sehingga saya tidak pernah sakit. Uang yang berhasil saya kumpulkan pun cukup untuk biaya berobat. Selain itu, berkat Tuhan juga mengalir melalui mertua saya. Untuk biaya kehidupan sehari – hari, kami yang memang tinggal serumah dengan mertua, sangat terbantu dengan kehadiran mereka. Kehidupan dan pergumulan seperti inilah yang harus kami jalani selama lebih dari 5 tahun.

Pada saat Agnes berumur 3 tahun, kami membawanya kembali ke dokter Hardiman untuk melihat perkembangan kelainan jantungnya. Berharap bahwa kebocoran jantung putri kami bisa mengecil atau hilang dengan sendirinya, hasil pemeriksaan justru membuat kami menangis. Kebocoran jantung telah melebar menjadi 8 cm. Dan itu berarti, bahwa jika putri kami ingin tetap bertahan hidup, satu – satunya cara adalah dilakukan operasi bedah jantung. Kami benar – benar tidak tahu apa lagi yang bisa kami perbuat, selain menyerahkan ketakutan kami ini kepada Tuhan.

Tapi, Tuhan tidak pernah meninggalkan anak – anakNya, yang mau berserah kepadaNya. Dan kali ini, jalan Tuhan sungguh melebihi akal manusia dan tidak pernah kami sangka – sangka sebelumnya !

Di tengah kegalauan hati kami, dokter Hardiman, yang kebetulan juga adalah ketua Yayasan Jantung Indonesia cabang Semarang, menawarkan bahwa Yayasan Jantung Indonesia memiliki program bedah jantung gratis untuk penderita jantung yang tidak mampu secara ekonomi di seluruh Indonesia. Operasinya sendiri dilakukan di RS Harapan Kita Jakarta, tetapi untuk mendaftar menjadi peserta, kami cukup mendaftar di Semarang. Semuanya gratis. Tidak saja biaya pengobatan dan operasi yang gratiis, tetapi biaya transportasi dan akomodasi selama berada di Jakarta juga ditanggung oleh Yayasan Jantung Indonesia.

Tuhan, sungguh besar kasihMu kepada putri kami. Engkau telah menunjukkan jalan itu kepada kami, agar putri kami memiliki kesempatan dan harapan lagi untuk terus melanjutkan hidupnya.

Setelah mendapat informasi tentang adanya program bedah jantung gratis di Yayasan Jantung Indonesia, saya segera mendaftarkan putri kami menjadi peserta di cabang Semarang ( Desember 1988 ). Ternyata cukup banyak peserta yang telah mendaftar sebelumnya, sehingga kami harus menunggu dengan sabar panggilan dari Jakarta, kapan operasi jantung putri kami dapat dilaksanakan. Kami hanya mendapat informasi, bahwa operasi diperkirakan pada bulan April – Mei 1989. Tapi mengenai kepastian tanggal operasi, kami masih harus menunggu jadwal dari RS Harapan Kita Jakarta.

Akhirnya, panggilan yang kami tunggu – tunggu itu datang juga. Kami mendapat informasi bahwa operasi akan dilaksanakan pada pertengahan Mei 1989 dan kami harus segera berangkat ke Jakarta. Berangkat ke Jakarta itupun sebenarnya merupakan masalah bagi kami. Walaupun biaya pengobatan dan operasi gratis, tapi kami tidak punya ongkos untuk berangkat ke sana. Dengan terpaksa, sayapun harus meminjam uang dari kantor.

Untuk menghemat biaya, maka kami hanya berangkat bertiga ke jakarta : saya, istri dan Agnes. Di perjalanan dengan kereta api ini, justru giliran saya yang sakit. Badan panas tinggi. Ambien saya juga ikut – ikutan kumat, membuat saya menahan sakit selama di perjalanan.

Sesampai di Jakarta, karena buta sama sekali dengan jalan di Jakarta, maka kami terpaksa menunggu saudara kami untuk menjemput kami. Setelah kami diantarkan untuk konfirmasi ulang tentang rencana operasi jantung di kantor Yayasan Jantung Indonesia, kami kemudian menginap di rumah saudara kami di daerah Pulogadung.

Besoknya, kami segera membawa putri kami ke RS Harapan Kita untuk melakukan pemeriksaan awal. Hasilnya sungguh mengecewakan. Karena badan putri kami masih panas dan juga batuk, maka petugas rumah sakit menginformasikan bahwa putri kami belum dapat dioperasi sekarang, ditunda sampai penyakitnya sembuh dulu.

Hal ini, tentu saja membuat kami harus tinggal lebih lama lagi di Jakarta. Untuk menghemat biaya, sebenarnya kami masih bisa menginap di rumah saudara kami yang tinggal di Pulogadung, tapi jaraknya sangat jauh. Untuk naik helicak dari Pulogadung sampai RS Harapan kita, sekali jalan Rp.10.000,00. Padahal, putri kami harus sering kontrol untuk melihat kondisi kesehatannya. Akhirnya, kami putuskan mencari penginapan yang letaknya dekat dengan rumah sakit. Beruntung, kami mendapat sebuah kos di kampung belakang rumah sakit. Kami menyewa satu bulan dengan harga Rp. 60.000,00.

Puji Tuhan ! Ketika 3 hari kemudian kami kembali ke rumah sakit untuk melakukan kontrol lagi, pihak rumah sakit menginformasikan bahwa putri kami sudah boleh dirawat inap. Hal ini untuk melihat perkembangan kondisi putri kami, sambil menunggu giliran operasi. Karena belum jelas kapan anak kami dioperasi, sementara saya harus kembali masuk kerja karena cuti yang sudah habis, maka saya bermaksud pulang dulu ke Semarang. Tapi istri saya tidak mau ditinggal sendiri di Jakarta. Dengan terpaksa, saya menelepon kembali ke kantor untuk diijinkan cuti lebih panjang.

Cukup lama kami menunggu jadwal operasi. Baru satu minggu kemudian, kami berdua dipanggil oleh dokter yang akan melakukan operasi bedah jantung putri kami. Dokter tersebut menjelaskan dengan gamblang, apa yang akan dilakukan terhadap jantung putri kami. Intinya, jantung putri kami akan dibuka dan kemudian, daerah yang bocor akan ditambal dengan teflon.

“Berapa persen operasi ini akan berhasil, Dokter ?”, tanya kami penuh dengan kuatir.

“Keberhasilannya sekitar 80 persen. Jujur, saya pernah gagal juga dengan operasi ini !”

Jawaban yang sedikit melegakan tapi juga menambah kekuatiran kami. Kamipun hanya bisa berdoa, “Tuhan, jika Engkau membawa anak kami ke sini, pasti Engkau juga yang akan memberi kesembuhan untuk putri kami. Karena itu Tuhan, biarlah Engkau sendiri yang bekerja melalui dokter dan tim medis yang mengoperasi putri kami ”.

Sambil menunggu pelaksanaan operasi, kami pun mulai mendengar cerita menakutkan yang menambah rasa kuatir kami. Seorang pasien, yang dijadwalkan operasi sebelum putri kami, meninggal karena pada waktu dilakukan kateterisasi dia kehabisan darah. Padahal, umur dan badannya jauh lebih besar dari putri kami ( kira – kira umurnya 10 – 13 tahun ). Kami pun, sekali lagi, hanya bisa menyerahkan rasa kuatir kami kepada Tuhan.

Akhirnya, tiba giliran bagi putri kami yang harus dikateter, sebuah langkah yang harus dijalani sebelum dilakukan operasi. Salah seorang dari kami boleh menemaninya selama proses ini dan karena tidak tega, istri saya meminta saya saja yang menemani putri kami. Sayapun berada di sana, ketika jarum kateter mulai ditusukkan ke pahanya yang kecil. Putri kamipun menangis dengan keras, menahan sakit yang mungkin tak terbayangkan rasanya. Darahnya mengucur deras. Bayangan cerita anak yang meninggal tadi mulai membayangi saya. Saya berdoa dengan penuh kepasrahan, menyerahkan keselamatan putri kami di tangan Tuhan. Setelah beberapa saat, pendarahan putri kami dapat diatasi dan kateter berjalan dengan lancar.

Tiga hari kemudian, 13 Juni 1989, sesuai jadwal yang telah ditentukan rumah sakit, putri kami menjalani operasi jantung. Operasi itu sendiri memakan waktu yang cukup lama bagi kami, sekitar empat setengah jam.   Dan selama operasi itu, kami tak henti – hentinya berdoa, agar operasi berjalan lancar dan lebih itu, putri kami diberi keselamatan dan kesempatan untuk melanjutkan hidupnya. Akhirnya, setelah detik demi detik yang menegangkan itu lewat, kami diberitahu bahwa operasi telah berhasil dan putri kami selamat. Puji Tuhan !

Walau demikian, kami tidak bisa segera menemui dan memeluk putri kami. Masih diperlukan 4 hari lagi sampai putri kami benar – benar sadar dan dapat keluar dari ICU. Selanjunya, putri kami dirawat di ruang biasa. Pada waktu itu, baru kami dapat melihat kondisi putri kami. Satu perubahan yang kami amati sebagai hasil operasi ini adalah, bagian dada putri kami yang sebelumnya tampak menonjol sekarang sudah kempes.

Pada hari kelima, istri saya diundang ke bagian administrasi rumah sakit ( pada saat itu, saya sudah kembali ke Semarang, untuk kembali bekerja ). Betapa kaget istri saya, ketika petugas menyodorkan perincian biaya tagihan perawatan putri kami. Jumlahnya 14 juta rupiah ! Melihat istri saya yang terkejut dengan perincian biaya tersebut, sang petugaspun menjelaskan bahwa seluruh biaya pengobatan itu sudah ditanggung oleh Yayasan Jantung Indonesia. Yang perlu istri saya lakukan hanyalah menandatangani perincian tagihan tersebut sebagai bukti persetujuan. Dan kami, sama sekali tidak perlu mengeluarkan uang serupiahpun . Benar – benar gratis ! Sungguh saya tidak pernah mengira, bahwa beginilah cara Tuhan memimpin dan memberkati keluarga kami, melalui Yayasan Jantung Indonesia.

Kebahagiaan kami semakin sempurna, setelah putri kami boleh meninggalkan rumah sakit. Hasil pemeriksaan selanjutnya, menunjukkan bahwa jantung putri kami telah kembali normal. Sejak saat itu, putri kami jarang sekali sakit – sakitan. Kami juga tidak pernah mendengar keluhan lagi tentang jantungnya. Putri kami telah sembuh total dan pertumbuhannya berjalan sebagai mana mestinya.

Hari ini, putri kami telah bertumbuh dewasa dan bahkan, telah menjadi seorang ibu. Ini semua hanya karena kasih dan anugerahNya yang selalu menyertai dan memberkati kami, anak – anaknya.

Terima kasih Tuhan, Engkau telah mengijinkan putri kami hidup !

Oleh : Bp. Felix


Categories

%d bloggers like this: