Posted by: gkikarangsaru | April 15, 2014

Tenggelam di Legian


“Tolong… ! Tolong… !”

Siang itu, bersama beberapa teman persekutuan pemuda, aku sedang menikmati asyiknya berenang di pantai Legian, Bali, ketika suara minta tolong itu terdengar. Dan suara itu tak asing bagiku. Itu suara temanku !

Dari jauh, aku melihatnya hanyut ditelan ombak. Hanya tangannya saja tampak samar – samar, melambai – lambai minta tolong. Segera aku berenang menuju ke arahnya. Beberapa teman yang lainpun tampak berenang menuju ke arah yang sama denganku. Tujuan kami sama, berlomba – lomba menyelamatkannya.

”Hahaha…. !”

Suara tawa itulah yang aku dengar ketika berhasil mendekatinya. Rupanya dia sedang membohongi kami teman – temannya, dengan berpura – pura tenggelam. Saat itu juga, aku segera tinggalkan dia dengan hati yang jengkel. Sudah susah – susah berenang menerjang ombak, ternyata hanya untuk ditipu. Guyonan kok ndak lucu. Bikin jengkel saja orang ini !

“Tolong… ! Tolong… !”

Suara minta tolong itu terdengar kembali. Suara dari teman yang sama. Karena tak mau tertipu untuk kedua kalinya, aku dan teman – teman tak memperdulikan suara minta tolongnya kali ini. Pasti dia ingin menipu kami lagi.

Tapi suara itu masih saja terdengar. Ketika aku menoleh, aku melihatnya sudah jauh dari garis pantai. Tangannya masih melambai – lambai minta tolong. Kepalanya timbul tenggelam ditelan ombak. Firasatku mengatakan, dia tidak sedang bergurau. Kali ini, dia benar – benar tenggelam !

Dengan sekuat tenaga, aku berenang menuju ke arahnya. Pada saat itulah, aku baru menyadari bahwa ombak yang aku hadapi sekarang berbeda dengan yang sebelumnya. Tekanan air terasa begitu kuat, membuatku sulit berenang mendekatinya. Akupun sempat tersesat dalam gulungan ombak, sebelum akhirnya aku berhasil mendekatinya.

Saat itu, kulihat temanku sudah tenggelam. Kepalanya sudah berada di dalam air, hanya tangannya saja yang tampak melambai – lambai, tanda ia masih hidup. Jadi, kuputuskan untuk menyelam dibawahnya agar bisa mengangkat tubuhnya naik. Setelah berada di bawah air, kucoba kuangkat temanku itu dan ia menginjak pundakku sebagai pijakan agar bisa naik ke atas permukaan air.

Tapi yang terjadi kemudian sungguh diluar perkiraanku. Ketika temanku menginjak pundakku untuk meluncur ke atas, sebaliknya aku terdorong semakin ke bawah. Dan inilah yang tak kuduga sebelumnya ! Rupanya, dibawah tempatku berada, merupakan sebuah palung ( jurang laut ) yang dalam dan menimbulkan pusaran air yang sangat kuat. Jadi, pusaran air inilah yang sekarang menyedotku dengan kuat, makin lama makin dalam…. makin dalam…. makin dalam….

Terjebak dalam pusaran air, aku tak punya tenaga lagi untuk melawannya. Samar – samar, aku melihat indahnya sinar matahari yang menerpa permukaan air di atas sana. Terasa jauh sekali, mungkin lebih dari 10 meter dari tempatku berada. Dan mungkin juga, sinar matahari terakhir yang bisa aku lihat.

Aku pasrah, menyerahkan hidupku di tangan Tuhan. Dan disinilah aku, menanti ajalku. Sebentar lagi, aku akan mati.

Aku tak tau berapa lama aku berada disana. Tiba – tiba, entah dari mana, aku merasakan seperti ada sebuah cengkraman di pundakku. Cengkraman itu kemudian dengan kuat menarikku ke atas. Aku tak melihat seorangpun ada di sana. Yang aku tahu, aku sudah berada di atas permukaan air dan bisa kembali menghirup udara segar khas tepi laut.

Aku segera merangkul balok pelampung yang ada di dekatku. Rupanya tim penjaga pantai sudah datang,. Dan sekarang, mereka sedang membawa temanku di atas papan selancar menuju tepi pantai. Dengan napas masih tersengal – sengal, akupun mengikuti mereka.

Sesampainya di pantai, petugas penjaga pantai segera memberikan pertolongan pertama pada temanku. Beberapa saat kemudian, temanku mulai muntah dan menyemburkan air laut yang tadi tertelan olehnya. Puji Tuhan, nyawanya berhasil diselamatkan !

Saat itulah, salah seorang dari petugas penjaga pantai mendekatiku, ”Mas, lain kali kalau tidak bisa berenang, jangan sekali – kali coba – coba menyelamatkan orang lain. Bisa bahaya !”. Suaranya terdengar sinis dan jengkel.

Aku hanya bisa tersenyum kecut. Berlalu meninggalkannya, menuju teman – temanku yang sudah menungguku. Jengkel juga, sudah mati – matian ( dan hampir mati beneran ) mau menyelamatkan teman, bukannya dipuji, eh kok malah dimarahi.

Tapi walau begitu, aku tetap bersyukur kepada Tuhan yang dengan caraNya yang ajaib telah menyelamatkanku dari pusaran air Legian dan masih memberi kesempatan padaku untuk melanjutkan hidup. Puji Tuhan !

oleh : Titus Bambang S


Categories

%d bloggers like this: