Posted by: gkikarangsaru | April 15, 2014

Tak Sampai Tergeletak


Sore itu, bersama seorang teman, aku berencana menengok seorang kenalan kami yang dirawat di sebuah rumah sakit. Karena letak rumah sakit tak jauh dari rumah dan kami juga tidak sedang terburu – buru, maka kami memutuskan untuk berjalan kaki saja kesana.

Sewaktu sampai di gang sebelah, kami melihat seorang teman gereja, Tante Marie, sedang berada di luar rumah. Jadi, kami mampir sebentar sambil ngobrol kesana kemari. Asyiknya ngobrol, membuat aku tak waspada.

Tiba – tiba saja aku sudah jatuh terlentang di atas sebuah sepeda motor. Rupanya, di belakang tempatku berdiri ada sebuah sepeda motor yang diparkir di sana. Aku tak memperhatikan sebelumnya. Jadi, ketika tanpa sadar aku bergerak mundur, badanku menabrak dan menjatuhi sepeda motor itu.

Ketika aku berdiri, aku merasakan ada yang berbeda di tangan kiriku. Entah bagaimana posisi tanganku saat jatuh tadi, tapi yang kurasakan sekarang, tangan kiriku terasa kemengdan linu sekali. Aku merasa bahwa ada yang tak beres dengan tanganku ini. Mungkin retak, pikirku.

Sambil menopang tangan kiriku dengan tangan kanan, kami segera langsung berangkat ke rumah sakit. Disana, dilakukan foto rontgen, dan hasilnya sungguh diluar dugaanku. Ternyata, dua tulang tangan kiriku mengalami apa yang disebut “fraktur terbuka”. Aku terkejut sekalgus tak paham dengan istilah medis yang asing di telingaku. Petugaspun menjelaskan, dua tulangku putus dan bukan sekedar retak seperti perkiraanku. Oleh karena itu, harus sesegera mungkin dilakukan operasi bedah tulang untuk mencegah infeksi dan kerusakan tulang lebih lanjut.

Aku benar – benar shock ! Terkejut ! Benar – benar tidak bisa kupercaya. Hanya jatuh tersandung seperti itu saja, dua tulang tanganku bisa putus. Dan bukan itu saja yang membuatku terkejut. Tarif operasinya ? Wow ! Sampai berjut – jut !

Dalam rasa bingung dan terkejut, segera kutelepon adikku. Setelah sampai di rumah sakit, adikku mengusulkan agar aku menjalani operasi di sebuah rumah sakit lain, yang biayanya jauh lebih murah. Akhirnya, kamipun sepakat dan segera berangkat ke sana.

Malam itu juga, pukul 10 malam, aku mulai menjalani operasiku. Untuk menyambung kembali 2 tulang yang putus itu, dibutuhkan waktu lebih dari 2 jam. Dalam sendiriku, terbersit satu tanya dalam hatiku, apa maksud Tuhan dengan apa yang kualami ini ? Walau demikian, aku tetap percaya, Tuhan tidak pernah merancangkan kecelakaan atau mereka-rekakan sesuatu yang jahat terjadi dalam hidupku.

Puji Tuhan ! Operasi berjalan lancar dan hasil operasi juga bagus. Tulang yang besar ( aku lupa namanya ) hanya butuh waktu 1 minggu untuk kering. Sementara itu, tulang lain yang lebih kecil, cukup lama penyembuhannya. Ini disebabkan ternyata tulangku ini sudah keropos dan terjadi infeksi di dalamnya. Jadi, butuh waktu lebih dari 4 bulan untuk membuatnya kering.

Berkat dan penyertaan Tuhan tidak berhenti sampai di situ. Tuhan tidak saja menyembuhkan tulangku yang telah putus, tapi Tuhan juga menyediakan dana yang cukup. Total biaya perawatan, dari operasi sampai tulangku sembuh, sekitar 30 juta rupiah. Jumlah yang sangat besar bagiku. Tapi Tuhan tetap saja mencukupkan biaya perawatan ini, baik melalui saudara – saudara ataupun teman – teman. Terpujilah Tuhan !

Pengalamanku ini mengingatkanku pada sebuah firman Tuhan, “Apabila ia jatuh, tak sampai tergeletak, karena Tuhan menopang tangannya”. Dalam perjalanan hidup ini, Tuhan memang terkadang mengijinkan kita jatuh, mengalami kecelakaan ataupun kegagalan. Mengikut Tuhan, bukan berarti otomatis hidup kita mulus seperti jalan tol, tanpa rintangan ataupun kesusahan. Tuhan mengijinkan itu terjadi, untuk menguji seberapa iman dan percaya kita kepada-Nya. Karena itu, dalam setiap kesulitan, ingat dan tetaplah percaya, bahwa Tuhan tak pernah merancangkan kecelakaan atau merencanakan apa yang jahat dalam hidup kita. Semua akan indah pada waktunya, begitu janji-Nya. Tapi jika kita belum mengerti apa yang menjadi maksud dan kehendakNya, mintalah hikmat dan kesabaran untuk mengerti dan menjalani rencanaNya dalam hidup kita.

Hari – hari ini, ketika aku telah menjadi pengelola Wisma Lansia “Maria Martha” di Salatiga, barulah aku memahami apa maksud Tuhan melalui peristiwa ini. Dengan pernah mengalami putus tulang dan nyeri linu yang ditimbulkannya, aku sekarang dapat memahami benar apa yang dirasakan dan dikeluhkan para oma dengan rasa nyeri linu pada tulang mereka. Aku dapat menghibur mereka, karena aku sudah pernah merasakan apa yang mereka rasakan. Rupanya, inilah rencana Tuhan untuk hidupku.

Terima kasih, Tuhan ! Walaupun aku jatuh, Kau tak biarkan aku tergeletak, karena tanganMu yang selalu menopangku. Amin.

Oleh : Ibu Maria Tuti


Categories

%d bloggers like this: