Posted by: gkikarangsaru | April 15, 2014

Surat dari USA


Kami hanya bisa terdiam, melihat kedua anak kami menangis. Kami tahu benar kesedihan macam apa yang mereka rasakan. Kesedihan mereka sama seperti kesedihan yang kami rasakan sekarang, kesedihan karena harus berpisah jauh dari teman – teman dan memulai hidup yang baru di negara yang asing bagi kami. Dan itu semua, berawal dari sepucuk surat yang baru saja kami terima dari pemerintah Amerika Serikat (USA). Bagi beberapa orang surat itu memang surat yang ditunggu – tunggu, tapi bagi kami surat itu membawa pergumulan iman yang mendalam.

Lima tahun sebelumnya ( tahun 2000 ), kokoku yang tinggal di USA meminta data dan foto dari adik – adiknya beserta keluarganya masing – masing. Rupanya, Koko yang sudah menjadi citizen ( warga negara ) selama lebih dari 5 tahun dan memiliki penghasilan yang cukup, boleh mensponsori dan mengajak adik – adiknya untuk pindah ke USA. Waktu itu, motivasi Koko untuk mengajak adik – adiknya pindah adalah karena Koko melihat bahwa kehidupan di sana jauh lebih baik daripada di Indonesia. Pokoknya diajukan dulu, begitu pendapat Koko. Nanti apakah mau pindah atau tidak, tergantung keputusan keluarga masing – masing.

Dan selama lima tahun ini pula, kami tak tau proses apa yang kami jalani sebenarnya. Karena itu, kami hampir tidak pernah memikirkannya dan tak pula mengharapkannya. Kami kira prosesnya seperti green card lotre, sejenis undian untuk mendapatkan ijin tinggal di Amerika Serikat. Kalau beruntung, kami baru bisa pindah ke sana. Tapi ternyata kami keliru !

Surat dari pemerintah USA inilah yang sekarang membuka pemahaman kami. Ternyata, sistem yang kami jalani berbeda dengan sistem lotre. Asalkan semua persyaratan terpenuhi, maka kami akan dapat green card dan bisa tinggal di sana. Surat itu memberitahukan bahwa pendaftaran kami sudah diterima, dan nama kami sudah masuk ke dalam waiting list ( daftar tunggu ). Hanya saja waktunya tidak dapat ditentukan. Mungkin 1 tahun, 5 tahun, bahkan lebih dari 10 tahun. Karena itu, surat itu juga mengingatkan kami agar kami jangan buru – buru menjual rumah dan properti. Selain itu, mereka juga melarang kami untuk bertanya – tanya ke bagian imigrasi. Nanti kalau waktunya tiba, mereka yang akan menghubungi kami lagi. Itu artinya, suka tidak suka, cepat atau lambat kami akan pindah ke Amerika.

Sekarang pilihan ada di tangan kami. Hidup kami di Indonesia selama ini baik – baik saja, tak kurang suatu apapun. Sedangkan kalau kami memilih pindah, kami berarti akan memulai lagi hidup kami dari nol. Walaupun kami memiliki kakak yang tinggal di sana, tapi mau tak mau, kami harus babat alas dan bekerja keras untuk menjalani kehidupan yang baru. Itu pemikiran dari sisi kami. Tapi bagi anak – anak, pindah memberi kesempatan bagi mereka untuk mengembangkan diri dengan lebih baik. Itulah sebabnya kami bergumul hebat tentang masalah ini. Kami berdoa agar Tuhan memberi kami kebijaksanaan dalam mengambil keputusan.

Akhirnya, keputusan inilah yang kami ambil : jika waktunya tiba, kami akan pindah. Dan keputusan inilah yang membuat kedua anak kami menangis. Tapi seiring dengan berjalannya waktu, mereka mulai memahami keputusan kami ini. Mereka menyadari pilihan sulit yang kami ambil adalah untuk masa depan mereka sendiri. Aku tekankan pula, agar mereka mulai belajar hidup mandiri dan menguasai bahasa Inggris, sebagai modal utama untuk bisa tinggal di Amerika.

Walau kami sudah mengambil keputusan untuk pindah, kami tidak ngoyo dalam menunggu surat panggilan berikutnya dari pemerintah USA. Kami jalani hidup seperti biasa. Demikian juga anak – anak, mengikuti sekolah seperti biasa. Kami yakin, jika Tuhan ijinkan kami pindah, maka itu akan terjadi.

Dan tak terasa, lima tahun lagi berjalan sudah…

Tahun 2010, kami mendapatkan lagi surat sejenis. Tapi waktu itu, Koko menginformasikan bahwa waktunya sudah dekat bagi kami untuk pindah. Kebetulan ada keponakan kami yang umurnya sudah hampir 21 tahun dan Koko mengurus agar keluarga ini bisa berangkat duluan ( aturannya, kalau sudah berumur 21 tahun ke atas, si anak harus mengurus sendiri dan tidak bisa ikut orang tuanya ). Peristiwa ini membuat kami sadar bahwa harapan yang dulunya hanya bayang – bayang, kini makin menjadi nyata bagi kami.

Pada saat itulah, kekuatiran mulai mendatangi kami kembali. Kami mempergumulkan masalah ini sekali lagi. Bagaimanapun juga, kondisi kami di Indonesia sudah semakin baik dari sebelumnya. Kalau kami pindah, berarti kami akan memulai semuanya dari nol lagi. Akankah kami bertahan di sana ? Tapi orang tua, saudara dan beberapa teman mendukung kami pindah. Seorang teman yang pernah tinggal di Amerika bahkan mengatakan, dengan melihat tipe keluarga kami, dia yakin kami bisa bertahan hidup di sana, karena secara emosi kami cukup. Apalagi kami punya Tuhan yang selalu memimpin hidup kami. Kata – kata inilah yang kemudian memantapkan pilihan kami.

Akhirnya hari yang ditunggu – tunggu itupun tiba. Pada bulan Januari 2012, kami mendapatkan surat panggilan untuk wawancara di Kedubes USA di Jakarta. Tapi sebelum itu, kami harus menjalani serangkaian pemeriksaan kesehatan dan vaksinasi di Jakarta, yang hasilnya harus kami bawa pada saat wawancara nanti. Tanggal 14 Pebruari 2012, kami menjalani wawancara di kedubes USA dan 2 hari kemudian keluar visa 6 bulan. Itu artinya, kami harus berangkat paling lambat 14 Agustus 2012.

Dan inilah yang kemudian membuatku semakin kagum akan Tuhan dan rencanaNya, semua itu dibuatNya indah dan tepat pada waktunya ! Pada tahun itu, kedua anak kami, Lia dan Dani, secara bersamaan menjalani ujian kelulusan SMA dan SMP. Ujian memang dilaksanakan sekitar bulan April – Mei, tetapi ijazah baru diberikan pada sekitar bulan Juni – Juli. Dengan keberangkatan kami paling lambat di bulan Agustus, kedua anak kami tetap dapat mengikuti ujian dan mendapatkan ijazah mereka. Puji Tuhan !

Akhirnya, kami meninggalkan Indonesia pada tanggal 25 Juli 2012 dan hari – hari ini, kami sedang mulai merintis dan menata kehidupan baru kami di negeri yang baru. Jujur, kami tidak tau apa yang akan terjadi di perjalanan hidup kami selanjutnya, tapi setidaknya kami tahu dengan siapa kami berjalan. Bersama Tuhan yang perkasa, tempat kami bersandar !

Dari pengalaman ini kami belajar, hidup itu seperti menyusun kepingan – kepingan puzzle. Saat kita hadapi 1 kepingan kecil, kita tidak paham dan tidak menyadari keindahannya. Tapi ketika satu demi satu kepingan puzzle itu kita susun bersama Tuhan, maka makin lama makin nyata sebuah karya Tuhan yang indah di dalam hidup kita.

oleh : Ibu Harjenningsih


Categories

%d bloggers like this: