Posted by: gkikarangsaru | April 15, 2014

Sebuah Ketukan


Kupandang wajah anak sulungku dengan sedih. Kutahan air mata yang sedari tadi sudah menggantung di pelupuk mataku. Berat rasanya untuk mengatakan ini kepadanya. Tapi bagaimanapun juga, aku harus tetap mengatakannya

”Nak, papa dan mama tidak punya uang untuk mendaftarkanmu masuk ke SMP. Mungkin, kamu tidak sekolah dulu ya… ”

Saat itu, anakku sudah duduk di kelas 6 SD dan sebentar lagi lulus. Beruntung di sekolah anakku memiliki jenjang pendidikan yang lengkap, dari TK sampai SMA. Untuk melanjutkan ke SMP, para siswa dipermudah untuk mendaftar, dengan hanya membayar biaya pendaftaran sebesar 10 kali dari uang sekolah yang terakhir. Jadi, waktu itu kami cukup membayar uang masuk SMP sebesar 90 puluh ribu rupiah saja.

Hanya saja, sampai malam itu, kami tidak punya cukup uang untuk membayarnya. Dan besok adalah hari terakhir pendaftaran ! Jika besok pagi kami tidak membayar, maka nama kami dicoret dari data pendaftar dan kesempatan kami diberikan kepada orang lain. Jika kami baru mendaftar setelah tanggal itu, maka kami akan dianggap sebagai siswa luar dan membayar biaya pendaftaran yang jauh lebih mahal.

”Ma, aku masih tetap ingin sekolah di situ !”, jawab anakku sambil menangis.

Tak dapat lagi kutahan air mataku mengalir di pipi. Orang tua mana yang tak kan hancur hatinya melihat buah hatinya menangis sedih karena tak dapat melanjutkan sekolah.

Tapi mau bagaimana lagi. Suamiku beberapa bulan yang lalu dipecat dari pekerjaannya tanpa alasan yang jelas dan tanpa uang pesangon. Walaupun suamiku sudah berusaha mencari pekerjaan yang baru, tampaknya belum ada pekerjaan yang cocok untuknya. Sementara itu, usaha jahitanku juga sepi. Kami memang sedang mengalami kesulitan keuangan saat itu.

”Sudahlah, nak, tidurlah dulu ! Nanti kita pikirkan lagi… ”, jawabku menenangkannya

Kita pikirkan lagi ? Apa yang masih bisa kupikirkan lagi ? Beberapa hari ini, aku sudah memikirkan berbagai cara dan kesana kemari berusaha mendapatkan tambahan penghasilan. Tapi hasilnya sia – sia. Uang yang aku punyapun pas-pasan, hanya cukup untuk kebutuhan sehari – hari.

Jadi, malam hari itu, aku sudah tak dapat memikirkan apa lagi yang bisa kulakukan agar anakku tetap bisa sekolah. Aku tak tau lagi harus berbuat apa. Yang kubisa kulakukan sekarang hanyalah menangis dalam pasrah, menyerahkan masa depan anakku kepada Tuhan.

”Tuhan, Engkau pasti punya jalan agar anakku bisa bersekolah !”

Dan akupun tertidur dalam tangisku….

Tok… Tok… Tok… !

Sayup – sayup kudengar suara ketukan di pintu rumahku. Dengan enggan, akupun bangun dari tempat tidurku. Kulihat jam dinding di rumahku. Sudah jam 9 malam. Siapa sih yang malam – malam begini datang bertamu ?

Tok… Tok… Tok… !

Bunyi ketukan terdengar lagi. Setengah berlari, segera kubuka pintu rumah. Di depan rumah, sudah berdiri seorang bekas tetangga di rumah orang tuaku yang sudah menunggu. Sudah lama juga aku tidak bertemu dengannya.

”Lho, kok malam – malam… ayo masuk !”, kataku mempersilahkan masuk.

”Enggak usah, dik… Saya cuma mampir sebentar. Saya hanya mau mengantarkan ini”, jawabnya sambil mengulurkan sebuah amplop kepadaku.

”Apa ini ?”, jawabku kebingungan.

”Sudahlah, terima saja !”, katanya sambil tersenyum.

Beberapa detik kemudian sang tamu sudah berlalu pergi, meninggalkan aku yang masih kebingungan dengan amplop yang aku terima. Setelah aku masuk ke dalam rumah, dengan rasa penasaran segera kubuka amplop di tanganku. Aku sungguh kaget, setengah tak percaya dengan apa yang kulihat…. amplop itu berisi uang 90 ribu rupiah ! Tepat seperti yang kubutuhkan !

Kucoba mengingat – ingat, mengapa tetanggaku itu mau repot – repot datang malam – malam ke rumahku, hanya untuk mengantar uang itu ? Oh ya, aku ingat. Beberapa bulan yang lalu dia pernah menjual rumahnya dan kebetulan aku mempertemukannya dengan seorang pembeli. Mungkin ia ingin mengucapkan terima kasih karena aku telah mempertemukannya dengan pembeli rumahnya. Namun, itu hanya dugaanku saja. Tapi aku percaya, Tuhan memang telah mengirimkannya malam ini kepadaku agar anakku tetap dapat bersekolah.

Malam itu, sekali lagi aku menangis. Tapi, kali ini tangis bahagia. Tuhan sungguh tahu dan menyediakan apa yang kubutuhkan !

 

Ditulis berdasarkan cerita : Ibu Rambatini.


Categories

%d bloggers like this: