Posted by: gkikarangsaru | April 15, 2014

Sang Malaikat Penjaga


Mataku terbelalak kaget. Tak percaya dengan apa yang aku lihat.

Saat itu aku sedang berada di sebuah bis yang membawaku kembali ke Semarang setelah seminggu berkuliah di Salatiga. Hanya tinggal beberapa penumpang di atas bis, ketika bis mulai berjalan menyusuri jalan arteri di dekat pelabuhan menuju terminal Terboyo. Dan seperti biasa, selalu saja ada tukang koran, pengamen ataupun tukang asongan yang meloncat nak ke atas bis, demi mendapatkan sesuap nasi dengan menawarkan apa yang mereka bawa.

Dan kini, dihadapanku berdiri seorang pemuda, berambut gondrong dan berbaju kumuh, menawarkan koran yang ada di genggaman tangannya. Bukan pemuda itu yang membuat aku kaget dan bukan juga koran yang ditawarkannya yang membuat mataku melotot. Ya Tuhan ! Diantara tumpukan koran yang ditawarkannya, tersembul beberapa buku bercetak kasar, bergambar wanita – wanita cantik tanpa busana !

Aku segera menggelengkan kepala, menolak apa yang ditawarkan. Akupun membuang muka, berpaling melihat jalanan melalui jendela bis. Jujur saja, sebagai seorang pemuda, tentu bisa tergoda juga kalau melihat buku porno itu lama – lama.

Tapi si pemuda ternyata tidak gampang menyerah. Dengan gigih dan makin terang – terangan, dia menyodorkan buku – buku itu. “Ayo mas, cuma lima ribu rupiah, mas… “, katanya dalam bahasa Jawa, lirih tapi terdengar memaksa. Sekali lagi aku menggeleng.

Kelihatannya si pemuda tidak merasa senang, terdengar dari cara dan nada bicara yang makin lama makin keras dan makin memaksa. Tapi, setiap kali dia menyodorkan buku pornonya, setiap kali pula aku menggelengkan kepalaku.

Akhirnya, setelah beberapa saat, si pemuda menyerah dan meninggalkanku. Masih terdengar omelan kejengkelannya ketika dia berlalu pergi dari hadapanku. Tapi, aku tak peduli. Bagiku tidak ada kompromi. Sebagai anak Tuhan, aku harus berani menolak dosa !

Beberapa detik kemudian terdengar ribut – ribut di deretan kursi di belakangku. Dari suaranya, jelas si pemuda tengah bertengkar dengan penumpang lain. Mungkin si penumpang itu juga marah, karena apa yang ditawarkan itu memang melanggar norma agama dan susila. Dan detik – detik selanjutnya, si penumpang yang marah itu mengusir si pemuda, turun dari bis yang masih melaju. Pikirku, kena getahnya juga si pemuda itu. Salah sendiri, berjualan buku porno di atas bis !

Beberapa saat kemudian, si bapak yang tadi terdengar marah – marah itu, bergerak maju, mengambil duduk di deretan tempat dudukku. Dengan mimik wajah serius, si bapak memandangku dan berkata dalam bahasa Jawa, “Nak, tahu tidak, pemuda itu lagi mabuk. Kelihatannya dia juga marah sama kamu. Tadi, dia sudah keluarkan belati dan mau menusukmu dari belakang. Untung bapak lihat dan langsung bapak usir dari bis !”

Kali ini aku benar – benar terbelalak. Kaget dan tidak percaya ! Tidak menyangka sedikitpun bahwa penolakanku terhadap apa yang ditawarkan si pemuda, hampir saja mengancam keselamatan jiwaku. Terima kasih, Tuhan ! Engkau selalu berada di dekatku, menjaga dan melindungiku, bahkan ketika aku tidak menyadari kalau aku sedang berada dalam bahaya besar.

Sebelum aku sempat mengucap terima kasih, si bapak sudah buru – buru turun dari bis. Aku tak pernah tahu namanya. Aku juga tidak pernah mengenal siapa dia sebenarnya. Yang aku tahu, Tuhan telah mengutus bapak itu untuk menjaga dan melindungi hidupku, menjadi seorang malaikat penjaga bagiku !

oleh : Jusak Irawadi


Categories

%d bloggers like this: