Posted by: gkikarangsaru | April 15, 2014

Rumah Hadiah Tuhan


Pada saat kami menikah, kami belum mampu untuk membeli rumah sendiri. Karena itu, untuk sementara kami tinggal di rumah orang tuaku, bersama 10 saudaraku yang lain. Rumah yang sudah sempit itu, terasa makin sempit saja.

Dengan berlalunya waktu, ketika saudara – saudaraku satu demi satu menikah dan juga ikut tinggal di sana, rumah itu tidak saja makin sumpek, tapi juga makin ramai oleh suara pertengkaran di antara anak – anak. Karena itu, kami memutuskan untuk keluar dari rumah itu dan mulai mencari tempat tinggal untuk keluarga kami.

Sedikit demi sedikit kukumpulkan uang dari gaji suamiku. Sebenarnya kami ingin bisa memiliki rumah sendiri. Tapi karena tabungan kami tidak banyak, maka kami putuskan untuk mencari rumah kontrakan saja yang harganya terjangkau oleh kami. Setelah mencari kesana kemari, akhirnya kami mendapatkan rumah kontrakan berlantai dua yang kondisinya masih bagus dan cukup bagi kami sekeluarga untuk tinggal. Dan harganya pun kami sepakati, 400 ribu rupiah per tahun. Pas dengan tabungan yang kami miliki.

Hari itu, aku menunggu suamiku pulang untuk membayar uang kontrakan dan serah terima dengan pemilik rumah. Tapi, kabar yang dibawa suamiku sungguh mengejutkan.

“Ma, kita nggak usah kontrak rumah dulu. Tadi bosku bilang, kita bisa memilih rumah di sebuah perumahaan di daerah Pedurungan. Nanti kantor yang akan merekomendasikan untuk kreditnya”.

Benar – benar tak kuduga berkat Tuhan itu atas keluarga kami. Jadi, kutunda dulu rencana kontrak rumah kami. Aku pikir, uang 400 ribu itu bisa kami gunakan untuk membayar uang muka pembelian rumah.

Aku begitu bersemangat, ketika keesokan harinya aku dan suamiku mendatangi pengembang perumahan yang ada di daerah Simpang Lima. Karena sudah direkomendasikan oleh kantor suamiku, maka kami bisa langsung memilih kavling tanah yang tersedia di perumahan itu. Tapi betapa terkejutnya kami ketika selesai dilakukan perhitungan kredit untuk rumah tersebut !

Untuk bisa mendapatkan rumah itu, kami harus membayar uang muka sebesar satu setengah juta rupiah dan setiap bulannya kami harus mengangsur sekitar 47 ribu rupiah. Oh, Tuhan ! Bagaimana kami bisa mendapatkan rumah itu ? Untuk angsuran per bulannya, walaupun berat, kami bisa atur keuangan kami. Tapi untuk uang mukanya ? Padahal uang muka itu harus lunas dalam 3 bulan, sedangkan gaji suamiku sebulan hanyalah 300 ribu rupiah.

Aku hanya bisa berdoa, jika Tuhan mengijinkan rumah ini menjadi milik kami, Tuhan pasti mencukupkan dana yang kami butuhkan. Dan Tuhan menjawab doaku ini dengan caranya yang sungguh tak terduga !

Beberapa hari kemudian, suamiku ditangkap polisi dengan tuduhan menggelapkan uang perusahaan. Pertama kali aku mendengarnya, aku tidak percaya. Aku tahu siapa suamiku. Dia adalah seorang yang jujur dan dapat dipercaya. Tak mungkin dia menggelapkan uang yang bukan miliknya. Sekali lagi aku berdoa, Tuhan tunjukkanlah kebenaran itu untuk aku dan suamiku !

Usut punya usut, setelah diselidiki polisi, akhirnya diketahuilah bahwa yang sebenarnya menggelapkan uang itu adalah teman sekantor suamiku. Ternyata, waktu dinas ke Jakarta, teman kantor ini mengajak suamiku berfoya – foya dengan uang perusahaan. Saat itu suamiku tidak tahu kalau uang yang digunakan itu adalah uang tagihan perusahaan. Jadi ia sekedar ikut saja. Tapi karena ia yang memegang nota dari uang tagihan yang digelapkan itu, maka ia yang pertama kali dituduh menggelapkan uang perusahaan. Akhirnya, suamiku terbukti tidak bersalah dan tidak terlibat dalam kasus ini.

Setelah dinyatakan bersih dari kasus itu, suamiku dipanggil oleh pimpinan perusahaannya. Intinya, si bos mengijinkan suamiku tetap bekerja di perusahaan itu. Mengingat kejadian yang baru dialaminya, suamiku menawar. Kalau tetap diijinkan bekerja, dia tidak mau ditempatkan di bagian pembukuan lagi. Ia lebih memilih menjadi salesman. Dan keinginannya itupun dikabulkan.

Mulanya, aku ragu dengan keputusan suamiku ini. Selama ini, ia hanya bekerja sebagai orang kantoran yang tidak mengenal lapangan. Apakah ia bisa berhasil dengan pekerjaannya yang baru ? Aku semakin kuatir, ketika di hari pertamanya keluar kota, ia harus membawa 1 mobil box penuh dengan muatan. Aku hanya bisa berdoa, lindungi dan berkati suamiku, Tuhan !

Dan Tuhan memang memberkati suamiku !

Ketika suamiku pulang ke Semarang, isi muatannya habis terjual. Dan itu juga terjadi dalam minggu – minggu selanjutnya. Di bulan pertamanya bekerja sebagai salesman, suamiku mendapat komisi 800 ribu rupiah, di luar gaji bulanannya. Demikian juga terjadi pada bulan kedua. Sekali lagi, suamiku mendapat komisi 800 ribu rupiah. Puji Tuhan ! Dengan uang komisi inilah, kami bisa melunasi uang muka rumah kami ini.

Walau pada bulan – bulan selanjutnya, suamiku tidak bisa lagi mendapat komisi sebanyak itu ( karena target penjualannya terus dinaikkan ), kami tetap bersyukur karena akhirnya kami bisa memiliki rumah sendiri. Dan bagiku, rumah kami ini adalah hadiah dari Tuhan, karena kami tahu, bahwa jikalau kami hanya mengandalkan pemikiran dan kekuatan kami sendiri, kami tidak akan pernah bisa memilikinya.

oleh : Ibu Rambatini


Categories

%d bloggers like this: