Posted by: gkikarangsaru | April 15, 2014

Potongan Kecil Kain Merah


Di suatu sore, lebih dari dua puluh lima tahun yang lalu, aku terlibat dalam obrolan yang seru dengan Emak ( nenekku ) di warungnya. Sebenarnya tidak bisa disebut sebagai obrolan, karena aku lebih banyak diam mendengarkan Emak yang dengan semangat menggebu menceritakan masa mudanya. Tapi begitulah gaya Emak, selalu ada saja cerita yang bisa diceritakannya kepada orang lain, termasuk aku.

Sejujurnya, cerita – cerita itu sudah beberapa kali diceritakan Emak, sampai aku hafal alurnya dan bosan mendengarnya. Inti nasehatnya juga selalu sama, kita harus berjalan dalam pimpinan Tuhan sepanjang langkah hidup kita. Tapi hari ini berbeda. Emak menceritakan kisah baru untukku, sebuh kisah tentang pengalaman iman anak bungsunya di awal pekerjaannya. Begini ceritanya …

Pada suatu hari, Om-ku mendapat tugas dari kantor untuk memperbaiki mesin fotocopy di Purwokerto. Saat itu, Om masih terhitung baru sebagai teknisi di kantornya, dan perjalanan ke Purwokerto itu merupakan tugas luar kota-nya yang pertama. Tentu saja, ada sedikit ragu ketika ia harus berangkat. Tapi mau bagaimana lagi, itu sudah menjadi tugasnya.

Dan keraguannya menjadi kenyataan ! Sudah berjam – jam ia berusaha memperbaiki mesin fotocopy itu, tetapi tetap saja mesin itu tidak bisa bekerja seperti yang diharapkan. Bolak – balik ia membongkar mesin itu, tetapi tetap saja ia tak dapat menemukan penyebab kerusakannya. Sudah berkali – kali ia memeriksa setiap komponen yang ada. Semuanya sudah terpasang di tempatnya dan tidak ada yang rusak. Tapi bagaimanapun juga, mesin itu tetap saja tidak dapat berjalan sebagaimana mestinya.

Putus asa dan rasa takut mulai merasuk pikirannya. ”Bos pasti marah besar kalau aku tidak dapat menyelesaikan masalah ini”, pikirnya. ”Padahal aku sudah dikirimnya jauh – jauh ke sini dengan biaya yang mahal, tapi aku gagal memperbaiki mesin ini”. Di saat itulah, ia teringat nasehat Emak untuk selalu membawa setiap masalah ke dalam tangan Tuhan. Dan iapun berdoa, agar Tuhan menolongnya.

Beberapa saat kemudian, ia masih belum juga berhasil memperbaiki mesin itu. Karena frustasi dengan usahanya, ditambah rasa capek dan tegang yang sedari tadi ditahannya, akhirnya si Om hanya bisa duduk terdiam di depan mesin fotocopy yang dibiarkannya tetap menyala. Bingung dan tak tahu apa lagi yang harus dilakukannya. Ia kini ingin memilih menyerah.

Saat itulah, selintas ia melihat sesuatu berwarna merah diantara mesin – mesin yang berputar. Sesuatu berwarna merah itu seharusnya tidak berada di sana. Penasaran dengan apa yang dilihatnya, ia kembali membongkar mesin itu. Ternyata warna merah tadi berasal dari potongan kecil kain yang berwarna merah. Mungkin itu sobekan kain ”gombal” yang biasanya digunakan untuk mengelap dan membersihkan mesin fotocopy itu. Segera dibuangnya potongan kain itu dan dipasangnya kembali mesin itu. Dan kali ini, mesin fotocopy berjalan normal !

 oleh : Jusak Irawadi


Categories

%d bloggers like this: