Posted by: gkikarangsaru | April 15, 2014

Mimpi Seorang Anak


Aku hanya bisa memandang bingung orang – orang yang tak kukenal, yang sedari tadi keluar masuk, mengangkut apa saja yang ada di dalam rumahku. Isi dan perabot rumahku sudah habis mereka bawa. Rumahku pun sekarang hampir kosong melompong. Sementara Mama, hanya bisa berjongkok di depan pintu kamarku sambil menangis pilu. Seperti aku, Mamapun tak tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi pada keluarga kami.

Pada saat yang bersamaan, sudah beberapa hari ini Papa juga tak pulang ke rumah. Menghilang entah kemana, tanpa kabar yang jelas. Setiap malam, rumah kamipun didatangi para preman yang dengan kasar mencari Papa untuk menagih hutang. Setelah beberapa lama, barulah aku tahu, kalau ternyata usaha Papa bangkrut, meninggalkan hutang yang menumpuk. Karena itu Papa kabur, demi menghindar dan menyelamatkan diri dari para penagih hutang. Akupun teringat mimpiku !

Beberapa bulan sebelumnya, aku pernah bermimpi usaha orangtuaku akan bangkrut, dan dalam mimpi itu, kudengar suara yang berkata kalau pada saat itulah orangtuaku akan bertobat. Bertobat ? Ya, walaupun KTP mereka Kristen, tapi mereka memilih lebih percaya dan memegang adat kejawen daripada memiliki iman kepada Kristus. Melihat mereka yang begitu taat melakoni ritual kejawen mereka, aku ingin mereka mengenal dan diselamatkan di dalam Tuhan Yesus. Karena itu, sejak kecil di dalam setiap doaku, aku berdoa agar Tuhan mengubah hati kedua orang tuaku.

Ketika kubangun dari mimpiku, aku segera bertelut dan berdoa dengan penuh kesedihan, “Tuhan, tidakkah Engkau punya cara lain untuk membuat orang tuaku bertobat ? Cara ini terasa berat !”

Akupun teringat doaku yang lain, ketika orangtua seorang temanku bertobat. Aku bertanya kepada Tuhan dengan kecewa, “Tuhan, mengapa Engkau tidak pernah menjawab doaku ? Mengapa temanku yang tidak pernah memperdulikan orang tuanya, justru orang tuanya bertobat dan mengenal Engkau ? Sedangkan aku, yang sejak kecil, berdoa untuk mereka, tak pernah Kau kabulkan doaku ?”

Dan akhirnya, mimpi yang tak kukehendaki itu benar – benar terjadi ! Papa bangkrut, barang kami habis, dan kami harus memulai kehidupan baru kami kembali dari nol. Dari yang serba ada menjadi serba tidak ada.

Hari – hari selanjutnya menjadi hari – hari yang berat bagi kami, hari – hari penuh air mata yang tak pernah kubayangkan sebelumnya. Seringkali aku teringat dan ingin kembali ke masa kecilku yang penuh bahagia di tengah keluargaku yang harmonis.

Sekali lagi, aku bertanya dalam doaku, “Tuhan, benarkah ini jawaban doaku ? Benarkah ini cara-Mu untuk membuat orang tuaku kembali pada-Mu ?”. Akupun teringat kata – kata dalam mimpiku, tapi benarkah kedua orang tuaku akan bertobat dengan peristiwa ini ?

Di dalam kehancuran hidup yang kami alami, aku mulai memberanikan diri mengajak Mama untuk mau membaca Alkitab dan berdoa bersama. Lama kelamaan kami terbiasa membaca Alkitab dan berdoa setiap malam. Pelan tapi pasti, Mamapun mau kuajak pergi berbakti di gereja.

Beberapa bulan kemudian, kami baru mendengar kabar tentang Papa. Ternyata selama ini Papa pergi dari rumah untuk menghindar dari para penagih hutang. Dan sekarang, Papa telah memulai usaha barunya di kota lain. Tapi ada satu hal yang paling membuatku bahagia, setiap Minggu Papa berbakti di gereja dan sedang mengikuti katekisasi untuk dibaptis.

Sekarang aku sadar, bahwa inilah jawaban Tuhan atas doaku untuk Papa dan Mama. Memang, jalan hidup yang harus kami jalani sangat berat dan penuh air mata, tapi aku tahu, Tuhan mengijinkan hal itu terjadi karena ingin menunjukkan kasih setia-Nya. Bahwa di saat hidup yang paling sulitpun, Dia tetap ada dan tak pernah meninggalkan anak-anakNya.

Di hari – hari selanjutnya, lebih banyak hal lagi yang kami alami, mujizat-mujizat yang mungkin tidak akan pernah kami rasakan jika peristiwa ini tidak terjadi. Dan kami belajar menyerahkan kuatir dan masalah kami sepenuhnya di dalam tangan-Nya. Ketika tak seorangpun yang mau mendekat dan ketika tak seorangpun yang mau menolong, kami tetap percaya, selalu ada pertolongan Tuhan yang akan datang di saat yang tepat dan dengan cara yang tidak pernah terbayangkan oleh kami.

Perlahan tapi pasti, Tuhan memulihkan semuanya, usaha orang tuaku dan keluargaku. Dan akupun selalu bersyukur atas pelajaran hidup yang telah diberikan kepada kami, sehingga Papa dan Mama mengenal dan percaya kepada Tuhan Yesus, sebagai Tuhan dan juruselamat mereka.

Sesulit apa hidupmu,
ingatlah Tuhan tidak pernah meninggalkanmu.
Seberat apa bebanmu,
percayalah Tuhan sanggup menolongmu.

 


Categories

%d bloggers like this: