Posted by: gkikarangsaru | April 15, 2014

Kisah 2 Sachet Jamu


Pada suatu kali, aku pernah mengalami penyakit yang kelihatannya ringan dan biasa, tetapi susah sembuhnya. Badan terasa meriang dan nggreges, sementara pada saat buang air kecil, terasa nyeri dan panas. Merasa ada yang tak beres dengan tubuhku ini, aku segera memeriksakan diri ke dokter.

Atas permintaan dokter, aku kemudian melakukan pemeriksaan laboratorium untuk mendeteksi penyebab penyakitku ini. Hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan bahwa tubuhku baik – baik saja. Tidak ada hasil yang aneh dan mencurigakan. Dokterpun berkesimpulan sama, bahwa badanku sehat dan tidak ada yang perlu yang dikuatirkan. Karena itu, dokter meresepkan beberapa obat dan vitamin untuk aku minum.

Setelah obat dokter itu habis, aku masih saja merasakan tidak enak badan seperti sebelumnya. Sepanjang hari badanku terasa meriang dan nggreges. Aku yakin ada yang tak beres dengan tubuhku. Tapi hasil pemeriksaan dokter dan laboratorium sebelumnya yang menyatakan aku sehat – sehat saja, membuatku ragu untuk kembali ke dokter.

Karena aku pikir penyakitku ini ringan dan biasa-biasa saja, maka aku putuskan untuk mengobati diriku sendiri dengan minum obat bebas dan vitamin supplemen saja, berharap bahwa penyakit itu akan hilang dengan sendirinya. Tapi, penyakitku ini ternyata tak kunjung sembuh. Hampir selama satu setengah bulan, badanku selalu seperti itu, nggreges dan meriang.

Pada suatu hari libur, Komisi Dewasa GKI Karangsaru Semarang mengadakan acara jalan sehat di area perkebunan sebuah perusahaan jamu di sekitar kota Semarang. Sebagai pengurus komisi, sebenarnya aku ingin mengikuti acara tersebut. Tapi suamiku melarang, “Jangan ikut dulu, Ma… Mama ‘kan baru sakit”. Benar juga kata suamiku. Jadi, kuurungkan saja niatku itu.

Satu hari sebelum acara, aku ditelepon teman – teman pengurus. Rupanya ada beberapa hal yang belum selesai dipersiapkan untuk acara itu, dan mereka meminta bantuanku. Dengan kondisi badan seperti itu, sebenarnya aku enggan untuk membantu. Tetapi dalam hatiku, ada desakan untuk tetap ikut melayani.

Akhirnya, sore itu aku ikut rapat untuk persiapan acara besok pagi dan membantu apa – apa yang belum sempat dipersiapkan. Dan karena itu juga, mau tak mau, aku mengikuti acara jalan sehat dengan tubuh yang tidak 100% fit. Acara jalan sehat itupun berlangsung dengan lancar. Akupun bersyukur pada Tuhan, walau badanku masih sakit, tapi aku dapat ikut melayani acara ini sampai selesai.

Sore hari, sepulang dari acara jalan sehat itu, kulihat sebuah bungkusan tergeletak di atas meja. Aku baru ingat, bungkusan itu adalah kenang – kenangan dari pabrik jamu seusai acara jalan sehat tadi. Kubuka bungkusan itu. Ternyata isinya adalah berbagai sampel produk jamu.

Aku sebenarnya bukanlah seorang pecinta jamu, tapi entah kenapa, sore itu ada dorongan di hati untuk mencoba satu sachet jamu dari bungkusan itu. Kubaca sebentar isi dan petunjuk pemakaian. Karena khasiatnya hanya untuk menambah daya tahan tubuh, jadi kupikir tidak akan ada masalah kalau aku meminumnya. Jadi, sore hari itu aku meminum satu sachet jamu.

Keesokan harinya, ketika kulihat bungkusan jamu itu lagi, ada dorongan untuk kembali meminumnya. Satu sachet jamu lagi aku minum. Dan selanjutnya, aku kembali lagi dengan kesibukan pekerjaanku. Tak kuperhatikan telah terjadi perubahan dalam tubuhku.

Sore harinya, aku baru menyadarinya. Ada sesuatu yang berbeda dari sebelumnya. Meriang dan nggreges yang selama ini seakan menempel erat pada tubuhku, hari ini hilang entah kemana. Tubuhku terasa lebih sehat dan lebih segar. Tuhan telah menyembuhkanku dari penyakitku selama ini. Puji Tuhan !

Dengan ceritaku ini, aku tidak sedang mempromosikan kehebatan dari 2 sachet jamu yang aku minum. Bisa saja dua sachet jamu itu memang menyembuhkanku. Tapi bisa juga, mengikuti jalan sehatlah yang membantu tubuhku menyingkirkan penyakitku. Bisa juga obat dan suplemen vitamin yang aku minum selama ini, yang mengembalikan kesehatanku. Bisa juga Tuhan menggunakan cara lain, yang tak terpikir olehku, untuk memulihkan tubuhku. Entah cara mana yang Tuhan pakai untuk menyembuhkanku. Tapi aku percaya, Tuhanlah yang memberi kesembuhan itu kepadaku dengan caraNya yang ajaib.

Dari pengalaman inipun aku belajar, untuk tetap setia melayaniNya, walaupun terkadang kondisi tubuh tidak mendukung. Percayalah, selalu ada berkat yang Tuhan sediakan bagi orang yang setia melayaniNya !

 

Oleh  : Ibu Bambang N.


Categories

%d bloggers like this: