Posted by: gkikarangsaru | April 15, 2014

Kebaikan Yang Keliru


Aku hanya bisa terdiam membisu, menatap terpaku pada bangunan tua yang ada di depanku. Bangunan itu adalah bekas garasi bis yang sudah lama tak terpakai. Begitulah informasi yang baru saja aku dengar dari penjaga bangunan itu. Dan saat itulah, aku baru sadar, kalau aku telah tertipu !

Ceritanya berawal, ketika satu minggu sebelumnya, aku mendapat telepon dari seorang rekan bisnis. Sebenarnya aku belum pernah berjumpa langsung dengannya. Selama ini kami hanya berkomunikasi melalui handphone saja. Tapi hari itu, ia menelpon dengan memelas, menanyakan apakah ada muatan barang yang bisa dibawa oleh truknya dari Jakarta ke arah Jawa Tengah.

Sebelum aku melanjutkan ceritaku, ada baiknya aku menjelaskan sedikit bisnis apa yang aku jalani. Aku berkerja di bidang angkutan barang, dimana kami menyediakan jasa transportasi untuk mengirimkan barang ( dengan kapasitas muatan besar ) dari satu tempat ke tempat yang lain ( dengan menggunakan truk ). Biasanya, kami mengambil barang dari pabrik dan mengirimkannya ke para distributor atau agen mereka. Untuk menghemat biaya, kami mengusahakan agar pada saat pulang ataupun pergi ke suatu daerah, truk kami harus mendapat muatan.

Begitu juga dengan apa yang ditanyakan oleh rekan bisnisku tadi. Truknya baru saja mengirim muatan ke Jakarta, tetapi ketika mau kembali ke Jawa Tengah, truknya masih kosong. Karena itu, supaya tidak rugi, ia berusaha mencari muatan untuk truknya, baik dari pabrik ataupun jasa angkutan lain. Dan itulah sebabnya, mengapa ia menghubungi aku.

Aku merasa kasihan mendengar permintaannya. Sebagai sama – sama pebisnis di bidang angkutan, aku bisa memahami kerugian yang mungkin dia tanggung, jika ia memaksakan truknya pulang ke Jawa Tengah dalam kondisi kosong. Berniat untuk menolongnya, tanpa ragu aku memberikan beberapa DO ( Delivery Order ) dari sebuah pabrik besar kepadanya. ( Catatan : DO merupakan syarat bagi jasa angkutan untuk mengambil barang dari pabrik dan mengirimnya sesuai dengan tujuan )

Untuk mengantisipasi hal – hal yang tidak diinginkan, aku terbiasa memonitor keberadaan truk – trukku. Demikian juga dengan truk dari rekan bisnisku tadi yang membawa barang berdasar DO-ku. Mulanya, supir truk itu bisa aku hubungi, yang mengabarkan posisinya sudah sampai di Cirebon. Tapi keesokan harinya, aku sudah tidak dapat menghubungi supir truk itu lagi. Aku mencoba berpikir positif, mungkin baterai handphonenya mati atau tidak mendapat sinyal.

Tetapi, ketika sampai hari kedua aku masih juga tidak bisa menghubungi supir truk itu, aku mulai curiga. Kecurigaanku makin bertambah, ketika aku coba menghubungi rekan bisnisku. Berkali – kali aku menelepon, tapi tak satupun teleponku tersambung ! Segera aku menghubungi tempat tujuan pengiriman, menanyakan apakah muatanku tadi sudah sampai di sana. Jawaban mereka semakin menambah curiga, sampai detik itu muatanku belum sampai juga ke tujuan.

Akhirnya, dengan berbekal rasa curiga dan kuatir itu aku berangkat ke Solo, ke sebuah alamat yang katanya kantor rekan bisnisku tadi. Dan, inilah yang kudapatkan ! Alamat yang diberikan temanku tadi adalah sebuah bangunan tua, bekas garasi bis, yang sudah lama tak terpakai. Dan saat itulah kekuatiran dan kecurigaanku terbukti. Aku telah tertipu !

Rasa marah menguasai seluruh pikiran dan hatiku. Marah kepada rekan bisnisku, karena tega – teganya dia memanfaatkan kebaikanku, justru untuk menipuku. Marah pada diriku sendiri, karena aku terlalu baik pada orang lain sehingga aku ceroboh dan tidak berhati – hati. Marah karena dengan kecerobohanku itu, sekarang aku harus mengganti biaya atas muatan yang hilang itu. Dan entah, kepada siapa lagi aku marah.

Padahal, aku tulus mau membantunya. Tak sedikitpun aku ingin mengambil keuntungan dari kebaikanku ini. Sempat terbersit dalam pikiranku, “Mulai sekarang aku tidak mau menolong orang lagi. Buat apa aku berbuat baik, kalau ujung – ujungnya aku sendiri yang harus menderita dan menanggung akibatnya ?”.

Tak mau berlarut – larut dalam kekecewaan, aku segera berangkat ke Jakarta. Tindakan penipuan ini harus segera kulaporkan ke polisi, supaya pelakunya tertangkap dan tidak mengulangi perbuatannya lagi.. Sayang sekali, laporanku ditolak oleh polisi. Menurut mereka, yang seharusnya melapor adalah pemilik barang, dan bukan aku sebagai penyedia jasa angkutan.

Segera aku berangkat ke pabrik untuk mengurus penipuan ini. Tapi, yang kudapat justru makin menambah kecewa dan sedihku. Pihak pabrik tidak mau membawa kasus ini ke polisi, karena menganggap kejadian ini adalah akibat kelalaian kami. Mereka tidak mau tahu apa alasan kami. Oleh karena itu, mereka tetap menuntut kami untuk membayar harga barang muatan yang hilang. Jumlahnya sungguh besar, 150 juta rupiah dan kami harus membayarnya hanya dalam 1 bulan. Oh, Tuhan ! Darimana kami punya uang sebanyak itu untuk membayarnya ?

Aku masih berjuang agar kami bisa diberi keringanan. Setelah negoisasi yang alot dan menegangkan, akhirnya disepakati bahwa kami diberi kesempatan untuk melunasi jumlah itu dalam waktu 16 minggu, yang akan dipotong langsung dari tagihan kami setiap minggunya.

Walau sudah diberi keringanan dalam waktu pembayaran, tetap saja ini sangat terasa berat bagi kami. Jadilah 16 minggu berikutnya menjadi minggu – minggu yang sulit bagi keuangan perusahaan kami. Untuk menutup biaya operasional perusahaan, kami terpaksa harus pinjam uang dari sana sini. Bahkan, keuangan keluarga kamipun ikut ruwet, karena sebagain tabungan yang kami punya terpakai untuk menutup biaya perusahaan. Kamipun hanya dapat pasrah berserah kepada Tuhan, agar Tuhan mencukupkan apa yang menjadi kebutuhan kami.

Tanpa terasa 16 minggu yang berat itupun berlalu sudah. Kami merasa lega dan bersyukur kepada Tuhan, kalau kami dimampukan untuk melalui minggu – minggu yang penuh kesulitan itu. Dan pada saat itulah, kami baru menyadari ada “berkat tersembunyi” yang disediakan Tuhan untuk menolong kesulitan keuangan kami.

Setelah kami memperhatikan laporan keuangan kami, kami baru sadar dalam dua bulan terakhir permintaan angkutan meningkat tajam dari bulan – bulan biasanya. Dan setelah kami hitung, ternyata selisih pendapatan yang kami terima, cukup untuk membantu kami melunasi hutang itu. Puji Tuhan !

Pengalaman ini menjadi pelajaran berharga bagiku. Tuhan memang menginginkan aku berbuat baik kepada setiap orang yang membutuhkan di sekelilingku. Tapi Tuhan juga mengingatkan aku, untuk selalu berhati tulus dan bijaksana ketika ingin membagikan kebaikan itu. Amin.

oleh : Gideon


Categories

%d bloggers like this: