Posted by: gkikarangsaru | April 15, 2014

Kasih Tuhan Dalam Hidup Kami


Dalam hidup ini, kami merasakan betapa Tuhan selalu menunjukkan kemurahanNya. Disini kami pakai istilah ”kami” karena memang Tuhan telah menunjukkan kasih yang sangat besar kepada kami berdua. Tiga kali dalam hidup ini Tuhan telah menunjukkan betapa besar kasihNya dilimpahkan kepada kami.

Pengalaman pertama terjadi pada tahun 1976. Waktu itu saya bekerja di sebuah perusahaan yang mengharuskan saya membubuhkan tanda tangan diatas kwitansi yang diperlukan untuk menagih sejumlah uang dari para pelanggan. Pada suatu hari, sepulang dari luar kota, dalam perjalanan tiba-tiba saya merasakan kehilangan kesadaran sesaat (blank). Saat itu saya merasakan tengkuk saya kaku sekali. Setelah dikerok oleh isteri, saya merasa tubuh saya sudah normal kembali.

Lain hari, sepulang dari mengantar anak sekolah, lagi-lagi saya kehilangan kesadaran sesaat. Sewaktu sampai di depan rumah, hampir saja saya menabrak pintu pagar rumah. Dan kejadian berikutnya sungguh mengkuatirkan kami. Tiba – tiba, saya lupa bagaimana caranya menandatangani kwitansi. Tangan saya seolah lupa bagaimana caranya membubuhkan tanda tangan.

Dokter pertama yang kami kunjungi mengecilkan hati kami. Beliau menjelaskan bahwa apa yang saya alami adalah gejala awal dari panswie (lumpuh sebelah). Sungguh lemas saya mendengarnya !

Dalam situasi seperti itu, kakak saya yang ikut kuatir dengan keadaan saya mengusahakan dengan cara “lain”. Kakak saya datang pada seorang suhu (orang pintar) dan diberi sehelai kertas bertuliskan huruf kanji yang harus dibakar dan abunya harus saya minum. Isteri saya yang hanya percaya akan pertolongan Tuhan dengan cara halus menolak melakukan semua itu.

Diluar sepengetahuan saya, isteri bersama ipar saya mengunjungi dokter kedua. Mereka berpesan agar si dokter membesarkan semangat saya. Dan itulah yang memang kemudian dilakukan oleh si dokter. Ketika bertemu, si dokter menjabat tangan saya dan menariknya dengan penuh tenaga.. Sambil tersenyum dia berkata, bahwa keadaan saya baik-baik saja dan tidak perlua ada yang dikuatirkan. Dan setelah tiga bulan minum obat yang diberikan dokter itu, keadaan saya lambat laun normal kembali.

Pengalaman kedua dialami oleh isteri saya. Jempol tangan kanannya membesar diluar kewajaran yang oleh dokter disebut AVM ( ArterioVenous Malformation ). Kelainan ini disebabkan oleh pertumbuhan pembuluh darah di sekitar jempol tersebut yang tidak terkendali. Pertumbuhan itu menyebabkan aliran darah terakumulasi sehingga jempol tersebut membesar secara tidak wajar. Operasi yang dilakukan oleh seorang dokter di Singapura yang membutuhkan waktu hampir tiga jam hanya bertahan selama enam tahun. Di tahun ketujuh, jempol istri saya mulai membesar lagi.

Pengalaman ketiga kami alami waktu saya terserang stroke ringan. Pada suatu pagi, bangun tidur tiba – tiba saya merasakan badan ini lemah sekali dan tidak dapat berjalan. Lumpuh ! Oleh dokter syaraf, saya diperiksa dengan MRI dan CT-Scan dan hasil pemeriksaan mengharuskan saya untuk mondok di rumah sakit.

Pada masa perawataan itu, karena saya mengalami kesulitan untuk buang air kecil, maka saya harus menjalani pengerokan prostate. Tidak berhenti sampai disitu, saya juga harus menjalani operasi ( laparoscopy ) untuk hernia saya.

Kondisi dan keadaan ini membuat saya betul-betul merasa ditinggalkan Tuhan. Dengan sepenuh hati, kami berdoa memohon pertolongan Tuhan. Dan Tuhan mendengar doa kami ! Semua masalah mulai mereda, walaupun saya harus bersabar dengan duduk di kursi roda.

Tapi ujian Tuhan kepada kami seakan belum cukup. Datang lagi sebuah masalah baru. Di saat saya harus duduk di kursi roda, isteri saya kembali mengalami pendarahan di jempol kanannya. Kami sungguh panik. Saya hanya bisa berdoa, ”Tuhan cukuplah semua ini ! Kasihanilah kami !”

Sekali lagi, Tuhan pun mendengar doa kami. Tuhan bekerja melalui seorang teman anak saya, seorang dokter yang telah memiliki pengalaman di Australia. Dengan pengalamannya itu, dokter tersebut merawat jempol isteri saya setiap bulan. Seiring berjalannya waktu, kondisi jempol istri saya membaik, sehingga jangka waktu perawatan ulang menjadi tiga bulan, enam bulan dan sekarang setahun sekali.

Sungguh besar kasih Allah sehingga kami sekarang bisa hidup normal kembali. Saya dapat kembali mengendrai mobil dan jempol isteri saya sudah tidak mengeluarkan darah. Puji Tuhan!

 

Oleh : Bp. Ragil Adipranoto


Categories

%d bloggers like this: