Posted by: gkikarangsaru | April 15, 2014

Dalam Lindungan Tuhan


Pada tahun 1993, atas kehendakNya, suami saya berpulang ke rumah Bapa, meninggalkan saya dan dua anak saya yang masih kecil – kecil ( berumur 11 dan 9 tahun ). Karena saya tidak dapat melanjutkan pekerjaan suami saya sebagai kontraktor, maka untuk dapat tetap menghidupi keluarga saya, saya berencana membangun sebuah ruko untuk berjualan.

Saat itu, kami memiliki sebidang tanah seluas 75 meter persegi di jalan Veteran Solo, sebuah jalan yang memang strategis untuk membuka usaha. Karena itu, dengan bantuan seorang teman suami yang juga kontraktor, kami membangun sebuah ruko 2 ½ lantai di atas tanah itu.

Pada saat kami mulai membangun, ada suara Roh Kudus yang berbicara di hati saya. Suara itu mengingatkan saya untuk memasang teralis besi di depan jendela di lantai 2. Selain itu, saya juga harus membuat sebuah pintu di belakang rumah saya. Walaupun tak sepenuhnya saya memahami apa maksud Tuhan dengan kedua hal itu, tetapi saya tetap sampaikan kepada teman suami yang membangun ruko kami itu.

Sang kontraktor setuju memasang teralis di lantai dua, tetapi tidak untuk membuat pintu belakang. Alasannya memang masuk akal. Di belakang rumah kami ini adalah perkampungan padat penduduk. Dia kuatir, kalau dipasang pintu di belakang rumah, malah mengundang bahaya. Takut kalau ada pencuri atau perampok masuk rumah melalui pintu itu, sedangkan saya hanya bertiga dengan anak – anak yang masih kecil. Akhirnya, saya menyetujui pemikirannya dan pintu belakang pun tidak kami buat.

Saya barulah mengerti apa yang menjadi maksud Tuhan dengan teralis dan pintu belakang itu, ketika terjadi kerusuhan di Solo, Mei 1998.

Saat itu, saya dan kedua anak saya masih berada di dalam ruko, sementara massa perusuh sudah memenuhi jalanan di depan rumah. Mereka bergerak liar sambil melempari, membakar dan menjarah toko – toko yang mereka temui. Dari dalam rumah, kami mendengar suara batu yang beradu dengan teralis besi kami di lantai 2. Rupanya teralis besi itu mampu melindungi kaca jendela kami dari lemparan batu para perusuh.

Tapi, kami terjebak di dalam rumah kami sendiri ! Kami tidak bisa keluar dari rumah, sementara di depan rumah massa sudah begitu liar dan tak terkendali. Kami akan jadi bulan – bulanan massa, kalau kami tetap nekad keluar dari pintu depan. Ah, seandainya, kami punya pintu belakang, tentu kami bisa keluar lewat pintu itu.

Ketakutan semakin menyelimuti kami, ketika kami mendengar suara – suara linggis mulai terdengar di pintu besi ruko kami. Rupanya, para perusuh berusaha mencongkel engsel pintu besi. Merekapun sudah menghancurkan lampu reklame yang ada di depan toko. Mereka sudah begitu dekatnya dengan kami. Hanya pintu besi itu saja yang masih dapat menahan mereka masuk. Kalau mereka bisa menghancurkan engsel pintu besi kami, pastilah mereka akan menyerbu masuk dan menjarah toko kami. Kami juga tidak tahu bagaimana dengan nasib kami selanjutnya.

Di tengah rasa takut yang mendalam, saya hanya bisa mengajak kedua anak saya bertelut dan berdoa. “Tuhan, ini adalah satu – satunya rumah yang kami punya, rumah untuk kami mencari nafkah. Dan kami tahu, Tuhanlah yang memiliki rumah ini. Karena itu, apapun yang terjadi, kami serahkan ini semua ke tangan Tuhan”.

Pada saat kritis itulah, Tuhan mengirimkan seorang tetangga yang tinggal di belakang rumah untuk melindungi kami dan rumah kami. Pak Sukir namanya. Dengan tegas penuh wibawa, pak Sukir berbicara kepada gerombolan masa yang ada di depan rumah kami. “Ojo, iki omahe wong Jawa !”. Sungguh heran, merekapun menurut. Mereka menghentikan usahanya merusak pintu besi kami. Sebagai gantinya, mereka menulis besar – besar dengan cat pilox yang mereka bawa, “PRIBUMI”. Mereka pun mulai bergerak pergi, meninggalkan ruko kami.

Sementara itu, di seberang jalan ruko kami ada sebuah agen penyalur minyak tanah. Massa yang mengamuk itupun menyeret drum – drum minyak tanah yang ada di depan toko itu ke tengah jalan dan kemudian membakarnya. Jarak antara drum yang terbakar itu dengan ruko kami hanyalah 6 meter saja. Owning ruko kami sudah hangus terbakar. Demikian juga di dalam rumah kami, begitu panasnya. Tapi walau begitu, kami tidak bisa berbuat apa – apa. Kami tidak berani keluar.

Tiba – tiba….. Duaarrrrrr…… !!!!

Suara ledakan terdengar menggelegar. Rupanya drum minyak yang terbakar itu meledak dengan kerasnya. Kali ini, kami begitu ketakutan. Tanpa berpikir panjang, kami segera keluar dari rumah, melompati tembok pembatas jalan yang tingginya sekitar 1 meter dan berlari kencang ke rumah pak Sukir, yang tepat ada di belakang kami.

“Sudah, disini saja dulu”, kata pak Sukir menenangkan kami. Beliau juga membuatkan kami teh hangat dan menghidangkan beberapa pisang goreng. Untuk sementara kami aman tinggal di rumah pak Sukir.

Beberapa saat kemudian, pertanyaan pak Sukir mengagetkan kami, “Bu, tadi pintunya sudah ditutup ?”. Oh Tuhan, kami lupa ! Karena takut tadi, kami sama sekali lupa kalau pintu rumah kami belum ditutup. Padahal, di depan rumah banyak orang yang berkeliaran. Segera, anak saya ditemani pak Sukir kembali ke rumah, untuk menutup pintu. Puji Tuhan ! Walaupun terbuka selama lebih dari 10 menit, tak satupun barang kami yang hilang.

“Pak, nanti kalau massa menjauh, saya mau pulang sebentar. Pasti saudara – saudara saya kuatir dengan keadaan saya”, begitu pinta saya pada pak Sukir. Karena itu, Pak Sukir menyuruh anaknya berjaga di luar gang dan memantau keadaan.

Ketika massa sudah menjauh dari rumah, saya dan kedua anak saya cepat – cepat kembali ke rumah. Benar dugaan saya. Saudara – saudara saya sudah menelpon dan mencari – cari saya. Mereka sungguh kuatir dengan keadaan kami bertiga. Karena itu, adik saya yang juga tinggal di Solo, akan segera menjemput kami bertiga. Saya segera menyuruh kedua anak saya memasukkan pakaian mereka ke dalam koper. Kami berencana untuk sementara mengungsi di rumah adik saya.

Belum selesai kami berkemas, tiba – tiba pak Sukir mengetuk pintu kami dan memberitahu, kalau massa bergerak kembali ke arah rumah kami. Cepat – cepat kami lari lagi keluar, kembali ke rumah pak Sukir. Karena terburu – buru, bingung dan takut, anak saya malah membawa koper kosong.

Tak lama kemudian, dengan naik sepeda motor adik saya sudah sampai di rumah pak Sukir untuk menjemput kami. Pertama kali, kedua anak saya dulu yang dibawa adik saya pulang ke rumahnya. Untuk menghindari hal – hal yang tidak diinginkan, kedua anak saya memakai jaket hitam dan topi untuk menutup wajah mereka yang putih dan sipit itu. Adik sayapun memilih jalan – jalan kampung untuk pulang ke rumahnya, menghindari bertemu kawanan perusuh yang masih berkeliaran di jalanan.

Berikutnya, adik saya kembali untuk menjemput saya. Saat itu suasana kota berubah menjadi gelap gulita dan mencekam. Listrik telah dari tadi dimatikan oleh PLN. Disana sini, saya juga masih melihat kobaran api yang menyala dari sepeda motor dan benda – benda lain yang dibakar massa di tengah jalan. Suasananya sungguh mengerikan dan menakutkan. Saya tidak berani menengok ke kiri kanan. Sepanjang jalan, saya hanya bisa berdoa agar Tuhan melindungi saya dan keluarga.

Besok paginya, hari Jumat, kami mendapatkan info bahwa hari itu akan ada kerusuhan susulan. Maka pagi itu, saya minta adik untuk mengantar saya pulang sebentar untuk mengambil pakaian. Pada saat itulah, saya mendengar suara Roh Kudus berbicara di hati saya, “Kunci rumah dititipkan di rumah Pak Sukir”.

Suara Roh Kudus itu begitu kuatnya berbicara di hati saya. Tanpa ragu lagi, saya menurut apa yang dikatakan Roh Kudus. Kali ini, adik saya yang protes, “Jangan ! Kunci rumah kok dititipkan orang ? Apa nggak bahaya ?”. Tapi kali ini saya mantap dengan keputusan saya. Sambil menitipkan kunci rumah ke Pak Sukir, saya membagikan roti – roti basah dari toko saya dan sedikit uang untuk para petugas jaga malam di kampung itu.

Tiga atau empat hari kemudian, ketika keadaan sudah membaik, kami pulang ke rumah. Kami mendapati, walaupun ada kerusakan sedikit disana sini, tetapi rumah kami tetap utuh dan tak ada satupun barang kami yang hilang. Kami tahu dan percaya, bahwa Tuhan sendirilah yang selalu menjaga dan melindungi kami sekeluarga dan juga rumah kami. Terima kasih, Tuhan

oleh : Ibu Kristin


Categories

%d bloggers like this: