Posted by: gkikarangsaru | April 15, 2014

Belajar Berserah, Bukan Menyerah


Saya hampir tak dapat melanjutkan kata – kata saya lagi. Rasa sakit pada perut yang begitu hebat, membuat konsentrasi saya terganggu. Sakitnya sungguh menyiksa. Saya sudah tak kuat lagi menahannya. Tapi saya sadar, kalau saat itu saya sedang berdiri di atas mimbar, menyampaikan firman Tuhan di hadapan para opa dan oma yang pagi itu memenuhi persekutuan KUL ( Komisi Usia Lanjut ) Gracia. Karena itu saya hanya bisa menjerit dalam hati, ”Tuhan, berikan saya kekuatan untuk menyelesaikan pelayanan ini”.

Memang, sudah seminggu ini perut saya membesar seperti seperti wanita hamil 3 bulan. Orang – orang yang kebetulan memperhatikan saya mengira demikian juga. Tapi saya tidak hamil ! Dan saya juga tidak tahu mengapa perut saya tiba – tiba membesar seperti ini. Tidak saja membesar, tapi juga sakit ketika dipegang. Bahkan untuk dudukpun, terasa sekali sakitnya.

Dan pagi ini, di dalam pelayanan saya, menjadi puncak rasa sakit itu. Begitu sakit dan begitu menyiksa. Entah apa kata – kata yang tepat untuk melukiskannya. Dalam kesakitan, saya hanya bisa terus berdoa, ”Tuhan, tolong saya… Tuhan, tolong saya… apa yang terjadi dengan tubuh saya ?”.

Selesai persekutuan, saya segera mengajak suami untuk periksa ke dokter. Berdasarkan pemeriksaan USG yang dilakukan, dokter spesialis kandungan yang kami temui menjelaskan bahwa di sekitar rahim saya terdapat banyak cairan, tapi beliau tidak dapat memastikan cairan apakah itu dan dari manakah asalnya. Karena itu, beliau menyarankan saya untuk mendatangi dokter penyakit dalam.

Menuruti anjuran sang dokter, sore harinya saya memeriksakan diri ke dokter penyakit dalam. Setelah dilakukan pemeriksaan, dokter inipun belum bisa mendiagnosa penyakit apa yang saya derita. Beliau hanya memberi suntikan vitamin dan resep antibiotik selama 3 hari. Selanjutnya, beliau meminta saya untuk melakukan pemeriksaan laboratorium.

Hasil pemeriksaan yang saya dapatkan, membuat saya terkejut dan kuatir. Tubuh saya dalam kondisi yang tidak baik. Berdasar hasil itu, dokterpun memberi saya resep tambahan selama 3 hari lagi. Setelah beberapa hari minum obat, keadaan saya berangsur membaik.

Beberapa hari kemudian, saya kembali ke dokter kandungan dan menunjukkan hasil pemeriksaan laboratorium tersebut kepadanya. Dokterpun meminta saya untuk melakukan pemeriksaan laboratorium untuk penanda tumor.

Sekali lagi, saya mendapatkan hasil laboratorium yang mengejutkan ! Dalam tubuh saya, ditemukan adanya tumor. Dokter kandungan itu pun berusaha menenangkan hati saya. Beliau mengatakan, saya tidak perlu takut dan kuatir, karena hasil tersebut tidak mutlak berarti bahwa saya memiliki tumor yang ganas. Beliau menceritakan bahwa ada pasien lain yang hasil pemeriksaannya lebih rendah dari saya, namun ternyata justru mengalami tumor stadium 4. Jadi belum tentu saya mengalami hal yang sama. Yang perlu saya lakukan sekarang adalah menjaga dan mengontrol kondisi kesehatan saya.

Bagaimanapun juga, perkataan dokter itu tak dapat menenangkan hati saya. Saya terus menerus memikirkan hasil lab itu. Saya merasa “down” dan sering menangis, tidak bisa menerima kenyataan yang saya alami. Sayapun terus berpikir bagaimana dan pengobatan apa yang harus saya lakukan supaya saya bisa sembuh dan sehat kembali.

Pada suatu hari, ketika saya sedang berbincang dengan seorang jemaat melalui telepon, saya merasakan, mendengar suatu suara yang menegur saya dengan begitu keras, “Ah, kamu hanya bisa ngomong saja, menasihati jemaat dan orang lain untuk bersabar, untuk tetap percaya, berserah dan berdoa pada Tuhan, tapi ketika kamu sendiri mengalami, kamu tidak bisa melakukan nasihat yang kamu berikan kepada orang lain. Hanya bisa ngomong tapi tidak bisa lakukan apa yang kamu ajarkan

Setelah menutup telepon itu, saya duduk terdiam dan merenung kata-kata yang baru saja saya dengar. Saya menangis dan berdoa, “Tuhan, ampuni saya… Mulai hari ini saya mau sungguh-sungguh belajar hidup berserah kepada Tuhan. Kalau memang Tuhan ijinkan saya mengalami sakit seperti ini, akan saya jalani. Kalau Tuhan kehendaki saya untuk sembuh, saya percaya Tuhan pasti sembuhkan saya. Tetapi kalau saya tetap harus mengalami sakit ini, saya percaya Tuhan akan beri saya kekuatan untuk menghadapinya bersama dengan Tuhan. Sesungguhnya masa depan dan hidup saya ada di tangan Tuhan.”

Sejak saat itu, saya tidak lagi berkeluh kesah meratapi penyakit yang saya derita. Dengan percaya dan berserah kepada Tuhan, saya jalani setiap pengobatan yang disarankan dokter.

Setelah beberapa waktu, saya mengulangi pemeriksaan laboratorium untuk penanda tumor. Kali ini, hasilnya tidak lagi mengejutkan saya. Puji Tuhan, hasilnya bagus !. Justru petugas laboratoriumnya yang terkejut. Dia menanyakan pengobatan apa yang lakukan, sehingga walaupun dia melakukan tes berulang – ulang, hasilnya tetap menunjukkan hasil yang baik, berbeda jauh dari hasil sebelumnya.

Puji Tuhan ! Saya sangat bersyukur kepada Tuhan dan saya percaya Tuhan sendirilah yang menyembuhkan saya. Dan sampai hari ini, saya tidak pernah tahu penyakit apa yang saya alami, sekalipun ada dokter yang memperkirakan bahwa pada waktu saya merasakan sakit yang luar biasa itu kemungkinan disebabkan oleh pecahnya kista yang ada di perut saya.

Tuhan terima kasih untuk berkat kesehatan yang Engkau berikan kepada saya, sehingga saya masih dapat melayani Tuhan. Terima kasih Tuhan, untuk pelajaran iman yang Tuhan berikan kepada saya, sehingga saya belajar untuk benar – benar hidup berserah sepenuhnya kepada Tuhan. Apapun yang saya alami, saya belajar untuk menghadapinya bersama dengan Tuhan. Terima kasih Tuhan !

 

Oleh : Yenny Sutanto, S.Th.


Categories

%d bloggers like this: