Posted by: gkikarangsaru | April 15, 2014

Akhir Sebuah Pencarian


Suatu hari, di sebuah tempat cukur Madura, ketika aku masih remaja.

Kuambil buku itu dari tempatnya. Dari tadi buku itu memang telah menggodaku untuk membacanya. Setelah kupegang, aku baru tahu kalau buku itu adalah buku doa, milik tukang cukur yang sedang mencukur rambutku. Aku ini memang suka sekali baca buku. Hampir semua jenis buku aku suka, termasuk buku filsafat dan buku yang berhubungan dengan ajaran agama. Jadi bagiku, buku doa itupun buku yang menarik untuk dibaca.

”Agamamu apa tho, Mas ?”, tanya si tukang cukur yang heran melihatku asyik membaca buku doa miliknya.

”Aku Kristen, mas”, jawabku. Sejujurnya, aku sendiri ragu dengan jawabanku. Walaupun sejak kecil aku bersekolah di sekolah Kristen dan rajin mengikuti sekolah minggu yang ada di dekat rumah, tapi aku belum 100 % percaya dan menerima Yesus sebagai satu –satunya juruselamatku. Aku masih terus mencari kebenaran ilahi yang lain. Karena itu, aku banyak membaca buku filsafat dan ajaran agama, untuk memuaskan rasa ingin tahuku. Semuanya itu campur aduk dalam otakku, membuatku tambah bingung dan ragu tentang imanku.

Kedua orang tuaku sendiri bukanlah orang Kristen. Papa berasal dari daratan Tiongkok yang sangat memegang teguh kepercayaan tanah leluhurnya, sedangkan Mama adalah seorang pengikut agama Katholik yang taat. Walau begitu, mereka tak pernah memaksa anak – anaknya untuk mengikuti agama dan kepercayaan mereka. Sebaliknya, mereka justru memberi kami kebebasan untuk memilih dan memiliki iman sesuai keyakinan kami. Kebebasan inilah yang sekarang mengacaukan pikiran dan imanku.

”Oh, sebenarnya agamamu dan agamaku itu sama saja. Tuhan yang kita sembah itu sama !”, kata tukang cukur itu membuyarkan lamunanku.

”Coba perhatikan, Yesus itu juga disunat tho, mas !”. Segera saja, tanpa aku tanya lagi, dia sudah melanjutkan penjelasannya tentang agama dan iman yang diyakininya.

Percakapan dengan si tukang cukur itu sangat berkesan dan membuatku penasaran untuk mengetahui lebih banyak lagi tentang isi ajaran agamanya. Kebetulan, aku punya seorang sahabat, sesama atlit yudo, yang seagama dengan si tukang cukur. Namanya mas Pur.

Dari mas Pur inilah, aku mengenal agama ini lebih dalam. Mas Pur tidak saja menjelaskan dengan menarik isi ajaran agamanya, tapi juga mengajariku cara berdoa menurut ajaran mereka. Dan akupun memulai mengikuti ajaran agamanya, termasuk dalam hal berdoa.

Rupanya papa dan mamaku tidak senang dengan agama baru yang kuanut. Walaupun mereka tidak pernah memaksa dan melarang anak – anaknya untuk memilih iman mereka, tetapi untuk yang satu ini, mereka merasa tidak cocok. Karena itulah, untuk menjauhkan aku dari pengaruh teman – temanku, mereka mengirimkan aku bekerja di Pekalongan, di tempat usaha adik papa.

Walau aku sudah pindah, di kota yang baru inipun aku masih belajar dan menjalani agama yang diajarkan temanku. Aku tetap menjalankan ibadah 5 waktu, lengkap dengan tata ibadah dan ritualnya, tapi ketika aku berdoa yang kusebut adalah nama Yesus. Sungguh campur aduk imanku !

Dua tahun aku berada di Pekalongan, sebelum akhirnya aku kembali ke kota Semarang. Saat itu alasan utamaku pulang ke Semarang adalah karena anjuran pelatih yudo-ku, yang merasa kesulitan untuk menghubungi dan mengikut-sertakan aku ketika ada pertandingan yudo. Karena itulah, demi mendapat kesempatan bertanding lebih banyak, aku putuskan kembali ke Semarang.

Di Semarang, aku mendapatkan pekerjaan di sebuah bank. Di pekerjaan baruku inilah, aku bertemu seorang gadis asal Yogya, yang secara rutin datang ke bank untuk mengurus transaksi keuangan kantornya yang ada di seberang jalan. Witing trisno jalaran saka kulino, akhirnya kamipun berpacaran.

Pada suatu hari minggu, kekasihku ini mengajakku untuk mengikuti kebaktian di gereja GKI Karangsaru. Tanpa aku ragu, aku mengikuti ajakannya. Dan hari minggu itu menjadi hari pertama aku kembali menginjakkan kakiku di gereja, setelah sekian lama.

Kebetulan yang berkotbah hari itu adalah (alm) Boksu Tan Kiem Liong. Mungkin bagi mereka yang sudah biasa mendengarkan, kotbahnya itu memang terasa biasa – biasa saja. Tapi tidak bagiku ! Kotbah itu seakan tertuju hanya untuk diriku., menusuk dalam ke relung hatiku. Melalui khotbah itu, Tuhan seakan ingin menunjukkan betapa kotor dan berdosanya aku di hadapan-Nya. Tetapi, di sisi lain, Tuhan juga ingin menunjukkan betapa Ia sangat mengasihiku. Tuhan ingin aku kembali ke pelukanNya, menjadi anak yang dikasihiNya.

Aku tak tahan lagi menahan tangisku ! Tuhan, Engkaulah yang aku cari selama ini ! Tuhan dan juruselamat yang berkuasa atas hidupku !

Sejak hari itu, aku rajin datang berbakti di GKI Karangsaru. Keingintahuanku untuk lebih mendalami pengetahuan tentang Tuhan dan imanku begitu menggelora di hatiku. Karena itu, tidak saja aku rajin berbakti, aku juga setia hadir dalam acara bijblekring ( pemahaman Akitab ) yang diadakan gereja. Akhirnya, setelah mantap imanku, aku memutuskan untuk mengikuti katekisasi dan dibaptiskan.

Itulah akhir kisah pencarian imanku. Aku telah menemukan apa yang aku cari selama ini : Juruselamat yang mengasihiku dan Tuhan yang berkuasa atas hidupku. Dan sejak hari yang indah itu, aku berjanji akan mengikut Tuhan Yesus seumur hidupku. Akupun bertekad untuk hidup seturut dengan firman-Nya dan selalu memancarkan kasih-Nya di dalam setiap langkah hidupku. Aku berusaha agar hidupku menjadi sebuah kesaksian yang harum bagi kemuliaan nama-Nya dan menjadi berkat bagi sesamaku, sehingga setiap orang yang mengenalku dapat melihat Yesus yang ada di dalam hidupku, Yesus yang telah mengubah hatiku dan menebus hidupku dengan darahNya yang kudus. Amin.

 oleh : Bp. Iwan Prakoso


Categories

%d bloggers like this: