Posted by: gkikarangsaru | April 15, 2014

Tuhan, Mengapa Engkau Tak Menjagaku ?


Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia
yang memberi kekuatan kepadaku.
Filipi 4:13
 

TAHUN 2006

“Ini tidak dapat disembuhkan”, kata dokter.

Vonis dokter itu sungguh mengejutkan kami. Kami hanya bisa terdiam terpaku tanpa berbuat apa – apa, menahan sedih dan pilu yang tak terkira. Kami hanya bisa mendengarkan ketika dokter itu melanjutkan penjelasannya. Berdasarkan biopsi yang telah dilakukan, dapat dipastikan bahwa penyakit ginjal yang saya alami adalah jenis IgA Neuropathy, peradangan ginjal yang disebabkan adanya kelainan immunologi ( kekebalan tubuh ), yang sampai hari ini dalam dunia kedokteran belum diketahui penyebabnya. Fungsi ginjal saya diperkirakan hanya bisa bertahan dalam 1, 2 sampai 4, atau 5 sampai 10 tahun, tergantung dari kondisi dan kekuatan tubuh saya.

Hari – hari berikutnya, saya mulai menjalankan terapi obat seperti yang diresepkan oleh dokter, yaitu immunesuppresent dan cortico steroid. Ternyata kedua obat ini membawa efek samping yang kurang baik bagi tubuh saya. Kulit muka saya mulai melepuh. Selain itu, kondisi emosi saya menjadi labil dan sangat buruk. Sering saya merasa sangat sedih dan gampang menangis.

Melihat efek samping dari obat – obatan yang saya minum itu, setelah setahun saya putuskan untuk berhenti meminumnya. Saat itu, saya mulai mencoba untuk beralih ke pengobatan yang lebih natural serta menganut pola makan vegetarian. Apa yang saya lakukan ini tidak serta merta membantu memperbaiki fungsi ginjal saya, tapi setidaknya efek samping obat – obatan itu tidak lagi mengganggu.

TAHUN 2009

Pada suatu hari, kami mendapat informasi dari kakak ipar ( yang didapatnya dari searching di internet ) bahwa ternyata penyakit immunologi seperti yang saya alami ini, bisa diakibatkan karena adanya keracunan timbal dari tambalan gigi yang mengandung timah, merkuri dan lain sebagainya. Karena pada saat itu banyak gigi saya yang ditambal dengan amalgam ( yang ternyata mengandung timbal ), maka saya segera membongkar dan membuang amalgam tersebut dan melakukan proses detoxifikasi secara teratur dan berulang, sesuai dengan anjuran dokter.

Bersamaan dengan itu, papi saya sakit dan berulang kali harus dirawat rumah sakit ( bahkan beberapa kali sempat dirawat di ICU ). Selama hampir satu tahun, bersama seluruh anggota keluarga, saya ikut merawat dan mendampingi papi di dalam sakitnya. Sebenarnya, selama masa – masa itu, kondisi kesehatan saya juga menurun..Tapi Tuhan Yesus memberi saya kekuatan untuk tetap mendampingi papi sampai akhirnya papi dipanggil pulang ke rumah Bapa pada bulan Agustus 2010.

Hari – hari selanjutnya, saya menjalani hidup dengan tubuh yang tidak pernah terasa sehat.

Tahun 2012

Suatu hari, seorang klien menawarkan sebuah produk herbal yang katanya bisa membantu menyembuhkan penyakit saya. Saya pikir tak ada salahnya saya coba. Tapi yang terjadi di luar dugaan saya ! Fungsi ginjal saya makin memburuk. Kreatinin saya naik begitu cepat dan dokterpun menyarankan agar saya segera memilih satu dari kedua opsi ini : menjalani cuci darah atau melakukan transpalasi / cangkok ginjal.

Kondisi kesehatan saya makin memburuk.. Saya semakin sering merasa mual dan muntah-muntah. Nafsu makan sayapun hilang entah kemana. Sampai pada suatu hari, saya mengalami demam tinggi dan tubuh saya terasa sakit. Tak ada pilihan lain, kecuali saya harus dirawat di rumah sakit.. Setelah perawatan ( opname ) yang pertama itu, saya mulai keluar masuk rumah sakit. Itu memaksa kami untuk mengambil satu keputusan yang penting : saya harus menjalani cuci darah. Tanggal 21 Juli 2012 saya menjalani cuci darah yang pertama.

Mulanya, kami berpikir bahwa saya cukup menjalani cuci darah saja. Opsi cangkok / transpalasi ginjal jauh dari pemikiran kami. Tapi setelah beberapa kali menjalani cuci darah, tampaknya kami harus mengubah keputusan kami. Saya merasa tubuh saya tak kuat harus secara rutin menjalani cuci darah. Setiap saya menjalani proses ini, tekanan darah saya selalu naik, bahkan bisa mencapai angka 220 – 110. Kepala terasa pusing dan mau pecah rasanya.

Melihat kondisi saya yang memburuk, banyak teman, klien, juga Ibu Pdt. Anna Johan, menyarankan agar saya menjalani cangkok ginjal saja. Di tengah kebimbangan ini, Tuhan mengirimkan seorang saudara seiman dari GKI Peterongan yang telah mengalami cangkok ginjal, datang ke rumah kami. Beliau menceritakan pengalamannya dalam menjalani operasi cangkok ginjal dan mendukung kami untuk mengambil pilihan ini. Hal inilah yang membuat kami mantap dan mulai berkonsultasi ke dokter. Dokter pun mendukung penuh rencana kami.

Namun di tengah rencana besar kami ini, ada sebuah kejutan besar lain yang membuat kami terguncang hebat. Saya dapat “bonus” penyakit ! Penyakit ini muncul saat saya menjalani cuci darah dan sekali lagi saya harus menerima kenyataan pahit, penyakit ”bonus” ini pun dalam dunia kedokteran tidak dapat disembuhkan !

Betapa hancurnya hati saya. Saya begitu remuk hati. Saya marah kepada Tuhan, ”Tuhan, mengapa Engkau tidak menjagai saya ?”.

Di tengah kesedihan saya yang begitu mendalam, kakak saya menguatkan saya dengan sebuah kalimat yang sampai hari ini selalu teringat di benak saya, “Apapun yang dunia kedokteran bilang, Tuhanlah yang berkuasa menentukan, Tuhan yang memegang kendali”.

Perlahan, saya mulai belajar menerima keadaan ini dan belajar menyerahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan. Jujur, ini suatu hal yang mudah diucapkan tapi sulit untuk dijalani. Tentu saja, dengan hanya mengandalkan diri sendiri ini semua terasa sulit. Tapi syukur kepada Tuhan yang telah memberikan Roh Kudus-Nya hadir dalam hati saya, membantu saya dari hari ke hari untuk belajar berserah penuh kepada-Nya.

Saya juga bersyukur kepada Tuhan karena memberikan seorang suami yang begitu mengasihi saya. Tidak saja dia dengan setia menemani dan mendukung saya di saat – saat yang sulit di hidup ini, tetapi lebih dari itu, dengan tulus hati mau mendonorkan satu ginjalnya untuk saya. Tuhan, terima kasih untuk suami yang sungguh mengasihiku !

Dan sekali lagi, saya harus mengucap syukur kepada Tuhan ! Setelah melalui serangkaian pengecekan medis, ginjal suami dinyatakan sehat dan cocok untuk tubuh saya. Padahal untuk mencari donor ginjal yang sesuai dengan tubuh kita bukanlah sesuatu yang mudah. Dengan adanya pendonor ginjal, maka saya sudah dapat untuk menjalani operasi transpalasi ginjal.

Kami memutuskan untuk menjalani operasi ini di Singapura. Tapi sebelum pelaksanaan operasi pencangkokan, kami harus melalui dua kali persidangan dengan wakil dari Pemerintah Singapura, untuk memastikan tidak adanya transaksi jual beli organ tubuh manusia dalam kasus ini. Selain itu, mereka juga menguji kesiapan kami masing-masing menghadapi resiko operasi dan pasca operasi yang mungkin terjadi. Akhirnya, persidangan memutuskan bahwa pencangkokan boleh dijalankan.

Ditemani seorang sepupu suami, pada tanggal 24 Nopember 2012 kami berangkat ke Singapura, dan dua hari berikutnya, 26 Nopember 2012, dilakukanlah operasi cangkok ginjal kepada kami berdua. Kami dan keluarga, Ibu Pdt. Anna Johan, Ibu Yenny, Ibu Bety, Bp. Natan, Bp. Utomo, Bp. Tjatasjo serta banyak saudara seiman mendukung dalam doa menyerahkan jalannya operasi ini kedalam tangan Tuhan.

Di dalam ruang operasi, saya merasa tenang. Ketika saya meminta kaos kaki supaya tidak terasa dingin di ruang operasi itu, saya malah diberi sepatu yang bisa memijat kaki saya selama operasi. Sembilan hari kami dirawat di rumah sakit dan dipantau secara intensif. Hasil operasi baik. Tidak ada penolakan atas organ yang baru tersebut.

Satu bulan pasca operasi kami masih harus tinggal di Singapura, dan tiap tiga hari sekali kami harus datang ke praktek dokter untuk cek laboratorium. Akhirnya, pada tanggal 31 Desember 2012 dokter memperbolehkan kami pulang ke Indonesia.

Dengan berhasilnya operasi yang saya jalani ini bukan berarti masalah kesehatan saya juga selesai. Kondisi kesehatan saya masih saja buruk. Efek samping dari obat-obatan yang saya minum sungguh menyiksa. Saya sering merasa kacau balau secara mental, seperti bingung atau seperti sesuatu yang tidak bisa saya jelaskan dengan kata-kata. Saya juga tidak bisa tidur selama berbulan-bulan sehingga terpaksa saya harus minum obat tidur. Selain itu, obat ini juga menyebabkan Hb saya turun terus, sehingga untuk berjalan beberapa langkah saja saya terengah-engah. Akibatnya, maka setiap 3 sampai 4 minggu sekali saya harus ditransfusi darah untuk menggantikan Hb yang hilang.

Karena itu, saya terus berdoa agar dokter boleh diberi hikmat Tuhan untuk menghentikan obat anti virus yang harus saya minum itu. Memang obat itu diberikan oleh dokter, dengan pertimbangan tubuh saya belum memiliki antibodi dari virus tersebut. Akhirnya, dokter pun menghentikan pemakaian obat yang telah saya minum selama satu tahun itu. Keputusan ini mengandung resiko tinggi, dimana saya mungkin saja terjangkit virus tersebut, yangi mana sangat berbahaya bagi hidup saya (sampai ditulisnya kesaksian ini saya juga belum tahu, apakah tubuh saya sudah memiliki antibodi untuk virus tersebut, karena hasil laboratorium sewaktu saya kontrol terakhir belum keluar).

Puji Tuhan ! Setelah saya berhenti minum obat anti virus tersebut, Hb saya kembali normal. Ditengah – tengah rentang waktu itu banyak ketidaknyamanan yang saya rasakan. Saya juga harus extra hati – hati, karena tubuh saya gampang tertular penyakit. Hal ini disebabkan imunitas tubuh saya rendah, disebabkan pemakaian obat – obatan tersebut.

Kami juga merasa kuatir dengan dana yang kami miliki. Obat – obatan itu sungguh tak murah menurut keuangan kami. Kami juga tidak bisa fokus dalam bekerja. Sekali lagi Tuhan mengajarkan kami untuk belajar berserah penuh, dengan tak lupa mengucap syukur kepada-Nya yang telah mencukupkan segala sesuatunya.

Lagi dan lagi, kami mengucap syukur kepada Tuhan yang telah mengijinkan kami mengalami semua ini agar kami boleh belajar menyerahkan setiap perkara kepada Tuhan dan belajar bahwa di balik setiap kesulitan hidup, pasti ada rencana Tuhan yang indah. Kami juga bisa melihat bahwa Dia-lah Tuhan yang mengendalikan segala sesuatu, bukan menurut apa yang kita pikirkan, tapi menurut kehendak dan kedaulatan-Nya.

Kami juga mengucap syukur, Tuhan telah menyediakan sanak saudara dan teman-teman yang begitu istimewa, yang telah memperhatikan, mendukung dan menguatkan kami dalam begitu banyak bentuk perhatian serta doa-doa yang sungguh menguatkan kami.

Sampai hari ini kami menjalani hidup kami, hari demi hari, dengan segala kendala maupun kemudahannya. Kami mau naik ke tingkat yang lebih tinggi lagi akan pengenalan kami pada Tuhan Yesus sang pemilik tubuh, jiwa dan roh, sang pemberi kehidupan dan pemilik seluruh jagat raya ini.

Segala Kemuliaan hanya Untuk Tuhan Yesus!

Sebuah catatan kecil :

Saat kami menunggu di ruang praktek dokter, jauh setelah transplantasi dilakukan, kami mengetahui bahwa ternyata kecocokan donor dengan pasien ternyata tidak semudah yang kami alami. Di sana kami bertemu dengan seorang pasien yang suami dan kakak kandungnya bersedia untuk mendonorkan ginjalnya, tapi ternyata keduanya tidak cocok. Sekali lagi saya boleh melihat bahwa Tuhan telah menyediakan ginjal baru untuk saya, dari suami saya sendiri.

 

Dikirimkan oleh : Ibu Cindy

 

 

 

 


Categories

%d bloggers like this: