Posted by: gkikarangsaru | August 31, 2010

Terus Menyanyi Sampai Berada di Surga


Kalau anda menyaksikan Paduan Suara Eliatha dan memperhatikan anggotanya, maka anda akan mengira kalau PS. Eliatha adalah Paduan Suara untuk para lansia. Tidak salah pemikiran anda itu. Memang para anggota PS. Eliatha saat ini terdiri atas ibu – ibu dan bapak – bapak yang tidak muda lagi usianya, bahkan sebagian dari mereka malah sudah dipanggil Opa dan Oma, karena sudah mempunyai cucu. Lalu kapan mereka mulai bergabung menjadi anggota PS. Eliatha ?  Setahun, dua tahun atau sepuluh tahun yang lalu ?

Paduan Suara Eliatha ( 1950-an )

Pada awalnya, kelompok Paduan Suara Eliatha merupakan salah satu kegiatan yang diadakan oleh perkumpulan pemuda pada tahun 1948-an. Ternyata kelompok Paduan Suara ini banyak diminati oleh para pemuda pemudi, sehingga sering tampil membawakan pujian, baik di gereja THKTKH sendiri ( GKI Karangsaru ) ataupun di gereja – gereja lain. Salah satu penampilan mereka yang memukau umat Kristen di Semarang adalah saat membawakan puji – pujian di Gereja Protestant Semarang ( gereja Blenduk ) di pertengahan tahun 1950-an, yang saat itu dihadiri oleh beberapa pejabat Belanda, diantaranya residen Semarang saat itu. Nama “ELIATHA” sendiri baru dipakai sebagai nama paduan suara ini pada tahun 1959, yang diambil dari nama anak – anak Heman, yang merupakan anggota paduan suara dalam ibadah Daud dan panglimanya ( I Tawarikh 25 : 4, 27 ).  Paduan suara ini beberapa kali berganti pemimpin dan melayani dalam Kebaktian Umum setiap hari Minggu.

Perubahan terjadi sekitar tahun 1963, ketika PS Eliatha mendapatkan seorang pemimpin paduan suara yang merupakan lulusan sebuah sekolah musik di Amerika, yaitu ibu Elga Oey. Bukan hanya sekedar sebagai pemimpin paduan suara yang handal, tetapi ibu Elga Oey juga melatih olah vokal dan mengajarkan cara bernyanyi yang benar. Beliau juga secara khusus menggembleng anggota yang mempunyai bakat dan minat menjadi conductor ( pemimpin paduan suara ) . Hasilnya luar biasa ! Makin banyak pemuda pemudi yang berminat untuk ke bergabung dalam paduan suara “Eliatha”. Di sisi lain, kualitas para anggota Paduan Suara “Eliatha” juga meningkat. Beberapa dari mereka sampai hari ini masih aktif menjadi pemimpin paduan suara di gereja mereka masing -masing , diantaranya : Bp. Jochanan Widjaja (Oei Tjien Ay), Kristianto Widjaya (Tan Ngo Tjwan),  Ibu Hendrata Santosa ( So Kiem Oen),  Ibu Pdt. Em. A.L. Bintarto (Tan Sian Lan),  Bp. Punardi Leksono (Lie Khing Poen), Bp. Adi Rahardjo (Ie An Hauw), Yusup Wibowo (Tan Tjwie Kiem) dan Bp. Harun Hartanto ( Tan Hing Khing).

Di bawah asuhan ibu Elga , PS. Eliatha pernah mengadakan konser lagu – lagu daerah dan beberapa lagu negara tetangga, tidak hanya di kota Semarang saja, tetapi juga ke beberapa kota lainnya. Pada tahun 1967, PS. Eliatha mengadakan tour pelayanan ke beberapa kota di Jawa Timur, diantaranya melayani dalam upacara  perletakan batu pertama GKI Modjokerto, kemudian melayani di GKI Resimen Sudirman Surabaya dan GKI Malang. Mengingat pada masa itu jalanan masih rawan dan keamanan belum stabil sehabis peristiwa G-30-S PKI, maka untuk berjaga – jaga Paduan Suara melakukan perjalanan ke Jawa Timur ini dengan menggunakan bus Komdak IX ( Kepolisian ) Jawa Tengah. Bahkan, selama perjalanan, dikawal seorang anggota polisi untuk mengantisipasi hal – hal yang tidak diinginkan.

Paduan Suara Eliatha ( 1966 )

Pada tahun 1966, PS. Eliatha bersama  dengan paduan suara – paduan suara  sekota Semarang dalam rangka peringatan Paskah, bergabung dalam suatu paduan suara besar dengan jumlah personel sekitar 400 orang, mementaskan pagelaran agung “Jaya Wijaya Paskah”. Kantata Paskah ini menyanyikan 12 lagu berturutan yang menggambarkan  kesengsaraan Tuhan Yesus sampai kepada kebangkitan dan kenaikanNya ke surga. Pentas ini dipimpin oleh Bp. Pdt. Bill O’ Brian dari Gereja Baptis dan mendapat sambutan yang luar biasa serta  menjadi berkat bagi jemaat gereja-gereja  di Semarang pada waktu itu. Kelak pentas “Jaya Wijaya Paskah “ ini mengilhami PS. Eliatha untuk berkarya dalam pelayanannya.

Sepeninggal ibu Elga Oei tahun 1967, PS Eliatha tetap berjalan namun agak mengalami kemunduran. Terlebih dengan adanya rayonisasi GKI Karangsaru menjadi tiga Rayon yaitu GKI Rayon I Karangsaru, GKI Rayon II Beringin dan GKI Rayon III Peterongan sejak 1 Juli 1969. Dengan demikian, anggota PS. Eliatha terbagi 3, sesuai keanggotaan gereja mereka masing – masing. Awalnya Paduan Suara di ketiga rayon tersebut masih menggunakan nama PS. Eliatha, namun dengan berlalunya waktu, nama PS. Eliatha tidak dipakai lagi.

Meski demikian, mantan anggota Paduan Suara Eliatha banyak juga yang tetap setia dalam pelayanannya dan menjadi anggota paduan suara di gereja mereka masing – masing. Tak terkecuali, mereka yang telah pindah ke lain kota karena menikah, studi maupun mencari nafkah, mereka juga aktif dalam pelayanan Paduan Suara di gereja mereka. Suatu hal yang menjadi kebanggaan adalah, meski para mantan anggota PS. Eliatha tidak lagi berkumpul lagi dalam satu organisasi dan tidak bersama sama lagi dalam satu pelayanan, namun keakraban, rasa kebersamaan dan persahabatan diantara mereka tidak lenyap begitu saja.

Rasa kebersamaan dan persahabatan mereka inilah yang kemudian memunculkan ide untuk mengadakn reuni bagi seluruh anggota paduan suara “Eliatha” pada tahun 1993. Gayung pun bersambut. Begitu diumumkan, datang sambutan yang luar biasa!  Segera dibentuk Panitia Reuni dan mengirimkan Surat Pendaftaran ke setiap mantan anggota PS. Eliatha yang bisa dihubungi, bukan saja yang ada di Semarang tetapi juga yang berdomisili di kota – kota lain, diantaranya : Jakarta, Bandung, Surabaya, Jogja, Solo, Magelang, Ambarawa, Kudus, Pekalongan, Tegal, dan Banjarnegara. Ada juga yang berdomisili di luar Jawa, yaitu di Jambi. Bahkan beberapa orang yang berada di luar negeripun dikontak, diantaranya di Amerika, Belgia dan Swiss.

Buah dari Reuni PS. Eliatha tahun 1993 ini, adalah digiatkannya kembali pelayanan Paduan Suara “Eliatha”, terutama bagi mereka yang berdomisili di kota Semarang. Sebagai hasilnya, Paduan Suara Eliatha kembali giat melayani dengan mengisi paduan suara di gereja – gereja, baik di Semarang maupun luar kota. Pada tahun 1999, mereka kembali mengadakan konser “Kantata Paskah”, berdasarkan lagu yang pernah mereka nyanyikan dalam konser Jaya Wijaya Paskah, 33 tahun sebelumnya.

Paduan Suara “Eliatha” tetap melayani Tuhan hingga hari ini. Itu berarti, jika kita hitung, banyak anggota Paduan Suara “Eliatha” yang telah lebih dari 40 tahun melayani Tuhan melalui suara mereka, dan mereka akan tetap setia memuji Tuhan sampai kelak mereka berada di surga, seperti nyata dalam semboyan mereka : “Tidak ada istilah mantan bagi anggota Paduan Suara Eliatha, kami akan tetap memuji Tuhan sampai kelak berada di surga. Dan di sana kami akan ikut dalam paduan suara yang besar, yang terus bernyanyi dan memuliakan nama Tuhan untuk selama – lamanya“.

Jika anda ingin mengetahui lebih lanjut tentang PS. Eliatha, klik di sini


Categories

%d bloggers like this: