Posted by: gkikarangsaru | August 31, 2010

Sebuah Pencarian Di Tengah Kebimbangan


Salah satu hal yang menarik dalam perjalanan GKI Karangsaru dan menimbulkan tanda tanya besar bagi kita adalah, mengapa Liem Siok Hie, seperti banyak tokoh Kristen Tionghoa di Jawa pada waktu itu, memiliki keinginan untuk mendirikan sebuah gereja Kristen untuk orang Tionghoa ? Bukankah sebuah gereja itu seharusnya bersifat universal dan bukan milik satu golongan saja ? Hal ini juga sebenarnya yang telah dilakukan para misionaris Salatiga Zending untuk mengabarkan Injil kepada semua suku bangsa, tanpa pernah membeda – bedakan, tetapi mengapa Liem Siok Hie justru meminta kepada Salatiga Zending agar diijinkan untuk mengadakan kebaktian sendiri khusus untuk orang Tionghoa ?

Sebelum menjawab pertanyaan ini, ada baiknya kita perjelas dulu siapa sebenarnya yang dimaksud dengan orang Tionghoa itu.

Tionghoa atau tionghwa, adalah istilah yang dibuat sendiri oleh orang keturunan Cina di Indonesia, yang berasal dari kata zhonghua dalam Bahasa Mandarin. Zhonghua dalam dialek Hokkian dilafalkan sebagai Tionghoa. Wacana Cung Hwa setidaknya sudah dimulai sejak tahun 1880, yaitu adanya keinginan dari orang-orang di Cina untuk terbebas dari kekuasaan dinasti kerajaan dan membentuk suatu negara yang lebih demokratis dan kuat. Wacana ini sampai terdengar oleh orang asal Cina yang bermukim di Hindia Belanda yang ketika itu dinamakan Orang Cina.

Sekelompok orang asal Cina yang anak-anaknya lahir di Hindia Belanda, merasa perlu mempelajari kebudayaan dan bahasanya. Pada tahun 1900, mereka mendirikan sekolah di Hindia Belanda, di bawah naungan suatu badan yang dinamakan “Tjung Hwa Hwei Kwan“, yang bila lafalnya diindonesiakan menjadi Tiong Hoa Hwee Kwan (THHK). THHK dalam perjalanannya bukan saja memberikan pendidikan bahasa dan kebudayaan Cina, tapi juga menumbuhkan rasa persatuan orang-orang Tionghoa di Hindia Belanda, seiring dengan perubahan istilah “Cina” menjadi “Tionghoa” di Hindia Belanda

Orang Tionghoa di Jawa sendiri dapat dibedakan menjadi 2 golongan, yaitu  orang Tionghoa peranakan (kiauw-seng) dan orang Tionghoa totok (sin-khe). Kedua golongan ini bermigrasi dari Cina daratan secara sukarela dan banyak didorong oleh kekacauan yang terjadi di tanah air mereka karena penindasan rezim Manchuria. Pembedaan ini sebenarnya terjadi secara tipikal di Jawa; Tionghoa peranakan dikenakan pada mereka yang yang sudah membaur dengan wanita pribumi dan tidak bisa lagi berbahasa Cina, sehingga dalam pembicaraan sesehari mereka memakai bahasa Melayu rendah atau bahasa Jawa ngoko (kasar); sedang orang-orang Tionghoa yang totok masih fasih berbahasa Cina dan cenderung kawin dengan sesama orang Tionghoa.

Pada masa pemerintahan kolonial Belanda, orang-orang Tionghoa peranakan ini diberi status “orang-orang asing” (vreemde oosterlingen), walaupun mereka sudah lama hidup bersama dengan golongan pribumi. Karena tidak diperkenankan membeli dan memiliki tanah, mereka justru mencari nafkah lewat perdagangan, sehingga pada akhirnya mereka hadir secara ekonomis sebagai kelas menengah. Selain itu, orang Tionghoa juga tidak lagi diperbolehkan bermukim di sembarang tempat. Aturan Wijkenstelsel ini menciptakan pemukiman etnis Tionghoa atau pecinan di sejumlah kota besar di Indonesia.

Lalu, bagaimana orang Tionghoa mengenal Injil ?

Sebagian orang Tionghoa mengenal Injil melalui penginjilan yang dilakukan para misionaris dari Salatiga Zending ataupun badan – badan penginjilan lain yang ada di Indonesia. Sebagian dari mereka mengenal Injil melalui usaha pelayanan Zending yang lain, seperti melalui sekolah. Terjalinnya hubungan yang akrab antara guru sekolah – sekolah Zending dengan keluarga murid, merupakan saluran penting bagi masuknya Injil di keluarga – keluarga Tionghoa di kemudian hari. Ada juga dari mereka yang menjadi Kristen karena pelayanan Diakonia yang dilakukan Zending, entah karena mereka berobat di poliklinik ataupun rumah sakit Zending.

Namun yang paling penting dan mendasar adalah karena mereka mengalami dan merasakan cinta kasih orang Kristen terhadap sesamanya. Dan dari sanalah mereka berkenalan dengan Yesus ! ( perlu kita renungkan, apakah ini di jaman modern ini, masih ada orang yang tertarik menjadi murid Kristus, karena mereka melihat cinta kasih yang kita pancarkan dalam kehidupan kita ? )

Dengan demikian, walaupun belum ada gereja khusus untuk Tionghoa, tetapi saat itu sudah banyak orang Kristen Tionghoa, yang beribadah di gereja Zending ataupun gereja Belanda. Jadi kalau mereka sudah bergabung dan beribadah di gereja – gereja yang ada, lalu mengapa mereka ingin mendirikan gereja Kristen Tionghoa sendiri ?

Hal ini tak lepas dari bangkitnya nasionalisme Tionghoa, yang dipicu dengan diproklamirkannya Republik Cina oleh Dr. Sun Yat Sen pada tahun 1912. Pada masa itu, golongan Tionghoa di Indonesia sedang mengalami kebimbangan tentang jati diri mereka, untuk memilih budaya Belanda atau budaya pribumi, karena kehadiran mereka di Indonesia bagaikan bangsa tanpa negara dan tanpa tulang punggung budaya. Oleh karena itulah, mereka menyambut dengan semangat bangkitnya Nasionalisme Tionghoa, yang seakan membuat mereka menemukan jati diri mereka kembali dan mengembalikan ikatan yang kuat dengan tanah leluhur mereka.

Nasionalisme Tionghoa ini juga menjalar dalam kekristenan dan kehidupan berjemaat. Para tokoh Kristen Tionghoa berjuang untuk mendirikan sebuah jemaat Tionghoa yang mandiri, lepas dari campur tangan Zending, dengan cara mempersatukan semua jemaat Kristen Tionghoa yang tersebar dalam berbagai denominasi dan aliran gereja dalam satu gereja.

GKI Karangsaru saat masih bernama Tiong Hoa Kie Tok Kauw Hwee

GKI Karangsaru saat masih bernama Tiong Hoa Kie Tok Kauw Hwee

Alasan utama mereka adalah dengan banyaknya denominasi dan aliran gereja dan badan Zending yang melayani dan menginjil di Indonesia malah membuat bingung banyak orang Tionghoa yang belum mengenal Kristus, dan pada akhirnya menghambat penginjilan. Hal ini tampak dari sepucuk surat dari seorang tokoh Tionghoa kepada seorang misionaris Belanda “Kami mohon kepada badan Zending dari berbagai sekte yang bekerja di kalangan bangsa Tionghoa, supaya jangan mengajarkan alirannya, melainkan mengabarkan Injil Yesus Kristus yang dikirim Allah ke dunia ini untuk menebus manusia dari dosanya”. ( Hal ini membuat kita mawas diri, jangan – jangan dalam pelayanan kita, yang kita bawa kemana – mana itu hanyalah nama gereja kita dan bukannya nama Yesus ? )

Hal lain yang mendorong mereka ingin mendirikan gereja Tionghoa yang mandiri adalah berdirinya Chung Hua Chi Tuk Chiao Hui ( dialek Hokkian ) di Cina, yang dicetuskan dalam Konferensi Besar Gereja-gereja Tionghoa di Shanghai tahun 1930, yang memiliki visi mempersatukan gereja – gereja di Cina dari berbagai denominasi dan aliran menjadi satu gereja.

Akhirnya, setelah mengadakan beberapa konferensi yang diikuti oleh tokoh Kristen Tionghoa yang ada di Jawa, maka pada konferensi mereka yang ke-3 di Batavia, dideklarasikan berdirinya “Tiong Hoa Kie Tok Kauw Hwee”, yang menyatukan orang Tionghoa Kristen dari berbagai denominasi dan aliran yang ada di Pulau Jawa dalam satu wadah. Nama ini selanjutnya digunakan sebagai nama – nama gereja Kristen Tionghoa yang ada di seluruh Jawa.

Dengan demikian kita bisa memahami mengapa Liem Siok Hie dan tokoh Kristen Tionghoa lainnya ingin mendirikan gereja khusus untuk orang Tionghoa. Dengan mendirikan gereja “Tiong Hoa Kie Tok Kauw Hwee” yang mandiri dan dilayani orang Tionghoa sendiri, maka penginjilan kepada orang Tionghoa akan berjalan lebih efektif dan lebih tepat sasaran. Orang Tionghoa yang diinjili akan lebih mudah menerima, tanpa curiga dan tidak dibingungkan lagi dengan masalah denomisasi dan aliran gereja. Selain itu, pembentukan gereja yang berciri khasTionghoa merupakan perwujudan jati diri bagi orang Kristen Tionghoa di masa itu.

Sekarang kita bisa melihat bahwa Tuhan bekerja secara ajaib bagi gereja-Nya di setiap jaman. Dengan berdirinya “Tiong Hoa Kie Tok Kauw Hwee”, semakin banyak orang Tionghoa yang kemudian dimenangkan bagi Tuhan dan menemukan jati diri mereka sebagai seorang Kristen Tionghoa.

Sumber Pustaka :

  1. Wikipedia : Suku Tionghoa Indonesia; http://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Tionghoa-Indonesia, 2010
  2. Sejarah GKI Jawa Tengah; www.cybergki.co.id , 2010
  3. Th van den End, Th. Van Den End Dr., Sumber-sumber zending tentang sejarah gereja di Jawa Barat, 1858-1963, BPK Gunung Mulia, Jakarta, 2006 ( hal. 534 – 535 )
  4. Victor S. Winatayuda, “Sejarah GKI Semarang – Karangsaru”, Semarang, 1996.

Categories

%d bloggers like this: