Posted by: gkikarangsaru | August 31, 2010

Pelajaran Kerendah-hatian


Masih teringat jelas dalam ingatan saya, ketika di pagi itu, sekitar tahun 70-an kalau tidak salah ingat, Boksu Tan Kiem Liong ( Pdt. Soelaiman Budipranoto ) datang ke kantor saya.  Setelah beberapa saat kami ngobrol ngalor – ngidul, maka Boksu Tan kemudian menceritakan maksud kedatangannya, “Kalau memang kesulitan, jangan dipaksakan ! Saya ndak mau ngrepoti. Saya dibelikan rumah di kampung juga nggak apa – apa”. Pada saat Boksu Tan mengatakan hal itu, saya tahu beliau sedang menahan air matanya agar tidak menetes. Suasana menjadi hening. Saya pun ikut terharu !

Sebelum saya melanjutkan cerita saya, ada baiknya saya ceritakan terlebih dahulu apa yang sebenarnya sedang kami alami. Pada saat itu, saya ditunjuk oleh Majelis Gereja untuk menjadi ketua panitia yang bertugas untuk mencari rumah pastori bagi Boksu Tan. Sebelumnya, keluarga Boksu Tan tinggal di sebuah rumah sewa di jalan Imam Bonjol 149. Tapi entah kenapa, tiba – tiba pemilik rumah meminta kembali rumah tersebut. Majelis Gereja kemudian memutuskan, daripada ribut dengan pemilik rumah sewa tersebut, lebih baik mencari rumah pastori baru untuk Boksu Tan. Karena itulah dibentuk panitia ini.

Setelah mencari ke sana ke mari, akhirnya Panitia berhasil menemukan sebuah rumah di kawasan Gayam ( daerah Bangkong ) Semarang. Hanya saja, harganya cukup mahal untuk ukuran saat itu, sekitar lima juta rupiah. Panitia pun kemudian berusaha mengumpulkan dana dari para jemaat, karena memang kondisi kas gereja tidak memungkinkan untuk membeli rumah tersebut. Tapi sampai hari itu, panitia baru bisa mengumpulkan dana sekitar 1 juta rupiah. Padahal besok paginya, kami sudah berjanji dengan pemilik rumah untuk melakukan akad jual beli di depan notaris. Kurang satu hari, tapi dana kami masih kurang banyak !

Untuk itulah, Boksu Tan datang ke kantor saya pagi itu, meminta kami selaku Pantia untuk memaksakan diri untuk membeli rumah itu. Beliau paham bahwa kami tidak cukup punya uang untuk membeli rumah pastori yang bagus baginya. Karenanya, beliau merasa kalau memang dana hanya cukup untuk membeli rumah di kampung, itu tidak menjadi masalah baginya.

Tapi justru kata – kata Boksu Tan itu meneguhkan hati saya. ”Tidak, Boksu ! Panitia sudah bertekad untuk membeli, sekarang kita hanya bisa berdoa”.  Akhirnya, kami mengakhiri pertemuan pagi itu dengan berdoa.

Kebetulan, di malam harinya, Panitia mengadakan rapat di pastori Peterongan. Hanya 6 sampai 7 orang yang datang dalam rapat itu. Saya kemudian menceritakan kedatangan Boksu Tan di kantor saya dan keinginan Boksu Tan untuk membatalkan pembelian rumah di Gayam itu. Suasana rapat berubah menjadi hening, ketika tiba – tiba salah seorang dari panitia berkata dengan keras, “Tidak ! Kita teruskan ! Mosok gini saja kita ndak bisa ngatasi. Ini saya punya satu juta !

Mungkin bagi beberapa dari anda yang hidup di jaman sekarang, angka 1 juta adalah angka yang kecil. Tapi tidak di jaman itu ! Sebagai perbandingan, anggap saja harga rumah di kawasan Gayam saat ini sekitar 2 – 3 jutaan per meter persegi. Jika rumah yang dibeli itu luasnya 400 m2, maka anda dapat menghitung, berapa yang telah dipersembahkan teman saya itu bagi Tuhan.

Dan selanjutnya, terjadilah apa yang tidak pernah saya pikirkan selama ini.  Rupanya, Tuhan sedang mengetuk hati anak – anakNya ! “Saya juga satu juta !”, demikian saya dengar suara anggota Panitia lain. Dan akhirnya, satu demi satu para panitia tergerak hatinya untuk mengeluarkan uang pribadi mereka. Pada malam itu juga, terkumpul lima juta rupiah dan besoknya rumah di Gayam sudah dapat terbeli. Puji Tuhan !

Demikianlah, pada hari itu saya belajar banyak tentang kerendah-hatian. Yang pertama, saya belajar dari Boksu Tan, yang tidak pernah menuntut dan tidak ingin menyusahkan anggota jemaatnya, hanya untuk membeli rumah baginya. Kerendah-hatian membuatnya bisa menerima apa yang mampu diberikan oleh jemaat. Yang kedua, saya belajar dari teman – teman saya, yang dengan rela dan tanpa ragu mempersembahkan apa yang terbaik bagi kemuliaan nama Tuhan.

Ditulis berdasarkan wawancara dengan Bp. B. Tedjorahardjo.


Categories

%d bloggers like this: