Posted by: gkikarangsaru | August 31, 2010

Mengapa Karangsaru Harus Dibagi Tiga ?


Mungkin pertanyaan ini pernah hinggap di kepala kita, terutama bagi mereka – mereka yang baru bergabung di GKI Karangsaru setelah tahun 1980-an. Sebenarnya, istilah “dibagi” tidaklah tepat. Istilah yang resmi digunakan adalah “desentralisasi”, atau yang lebih sering kita dengar sebagai “rayonisasi”, dimana GKI Karangsaru mulai memberlakukan sistem ini sejak tahun 1969.

Tapi penjelasan ini tidaklah cukup memuaskan kita. Mengapa GKI Karangsaru harus dibagi menjadi 3 rayon, yang pada tahun 1987 malah didewasakan sendiri – sendiri sehingga terbentuk 3 gereja yang mandiri ? Bukankah lebih baik kalau kita berkumpul hanya dalam satu gereja ? Dan bukankah lebih menyenangkan, kalau kebaktian gereja dan acara – acara gerejawi penuh sesak dihadiri oleh jemaat ? Bukankah kita semua akan bangga kalau kita punya gereja dengan jemaat yang banyak ? Kalau hanya masalah gedung gerejanya kurang besar, bukankah tidak mungkin kalau kita membangun gereja yang lebih besar dan lebih besar lagi. Tapi, mengapa Majelis Jemaat malah berpikir gereja dan jemaatnya harus dibagi 3 ? Untuk menjawab pertanyaan ini, lebih baik kita menyimak dulu perjalanan GKI Karangsaru ini di tahun 1960-an.

Pada tahun 1960-an, terutama setelah peristiwa G 30 S / PKI, Tuhan memberikan banyak jiwa – jiwa baru yang dimenangkan bagi Kristus, yang kemudian masuk dalam kehidupan jemaat. Sebagai konsekuensinya, pertumbuhan jemaat yang menggembirakan ini harus diikuti dengan penambahan tempat kebaktian dan fasilitas pelayanan gerejawi lainnya. Selain itu, secara organisatoris,  Gereja  juga harus mengalami perubahan dan penyempurnaan, sehingga dapat melayani jemaat yang makin bertambah itu dengan efektif dan efisien.

Peresmian Gedung Gereja Rayon 3 di Peterongan 310 ( sekarang GKI Peterongan )

Peresmian Gedung Gereja Rayon 3 di Peterongan 310 ( sekarang GKI Peterongan )

Dalam hal penambahan tempat kebaktian, maka pada tahun 1962, atas kemurahan Tuhan,  Majelis Jemaat berhasil membeli sebuah rumah di daerah Semarang Selatan, yaitu di Jalan Peterongan 310 ( sekarang Jl. Kompol Maksum 310 ), yang sebelumnya digunakan oleh YPAC. Dengan kemurahan Tuhan, di tengah kesulitan dana yang ada, dilakukan pemugaran dan pembangunan gedung gereja secara bertahap dari tahun 1963 sampai dengan tahun 1966. Peresmian gedung gereja sendiri baru dilakukan dalam kebaktian khusus tanggal 31 Oktober 1966 bertepatan dengan hari Reformasi, yang dilayani oleh Pdt. Tan Kiem Liong.

Sementara itu, Kebaktian Pemuda ( Jeugdienst ) yang  diadakan sejak awal tahun 1951 sebagai bentuk pelayanan pengabaran Injil kepada kaum muda ( merupakan hasil kerjasama dengan Gereja Gereeformerd Semarang ) di lantai dasar Balai Pertemuan Kristen ( Jl. Bojong 51 ) telah diresmikan menjadi kebaktian umum pada bulan Juni 1953. Karena dari hari ke hari, pengunjung kebaktian semakin bertambah banyak, maka Majelis Jemaat akhirnya memutuskan untuk mencari tempat yang lebih permanen dan luas untuk mengadakan kebaktian. Dengan berkat Tuhan, maka tahun 1968 Majelis Gereja dapat membeli gedung dan tanah di Jalan Beringin 15 (sekarang Jl. Kapten Pierre Tendean 15). Setelah dipugar seperlunya, maka diresmikan perpindahan dari Jl. Bojong 51 dan pemakaiannya dalam kebaktian tanggal 24 Desember 1969 bertepatan dengan hari Natal.

Dengan adanya penambahan dua gedung gereja baru tersebut, maka secara keseluruhan GKI Karangsaru punya 3 gedung gereja. Hal ini tentu memudahkan bagi jemaat untuk mengikuti kebaktian yang dekat dengan tempat tinggalnya. Selain itu, GKI Karangsaru pada saat itu juga punya 3 pendeta yang melayani, yaitu : Pdt. Tan Kiem Liong, Pdt. Zakharia W.S dan Pdt. Samuel Dharmaatmadja.

Gedung Gereja Rayon 2 di Jalan Beringin ( sekarang GKI Beringin )

Gedung Gereja Rayon 2 di Jalan Beringin ( sekarang GKI Beringin )

Walaupun punya 3 gereja dan 3 pendeta, pembinaan dan pelayanan jemaat menjadi tidak efektif dan efisien. Bayangkan, ketiga pendeta itu harus “pontang – panting” melakukan pelayanan di 3 gereja yang berbeda. Belum dalam hal pembinaan dan perkunjungan jemaat. Bisa jadi, seorang jemaat ( biasanya yang aktif dan sering ikut kegiatan di gereja ) sering dikunjungi oleh ketiga pendeta. Tapi sebaliknya, ada beberapa jemaat yang tidak pernah dikunjungi oleh ketiganya. Oleh karena itu, perlu dipikirkan bagaimana mengelola jemaat yang terus bertumbuh dan bertambah ini dengan efektif dan efisien. Karena itulah muncul gagasan melakukan “desentralisasi” atau “rayonisasi”. Sistem ini sendiri diadoptasi dari sistem yang telah diterapkan di sebuah gereja di Surabaya yang mengalami masalah yang sama dengan GKI Karangsaru.

Akhirnya, GKI Karangsaru Semarang mulai memberlakukan sistem “desentralisasi” ini, yang secara administratif dimulai sejak 1 Juli 1969. Dalam sistem ini jemaat dibagi dalam tiga rayon, yaitu rayon I Karangsaru meliputi wilayah pusat kota Semarang dipimpin Ds. Zacharia W. Susetya, rayon II Beringin meliputi wilayah Semarang Tengah ke Barat dan Utara dipimpin Ds. Soelaiman B. dan rayon III meliputi wilayah Semarang Tengah ke Selatan dan Timur dipimpin oleh Ds. Samuel Dharmahatmaja S.Th. Dengan demikian dimulailah suatu babak baru dalam perjalanan GKI Karangsaru Semarang, yaitu desentralisasi yang bertujuan utama untuk lebih meningkatkan pelayanan kepada Jemaat dengan cara kerja yang lebih efektif dan efisien.

Rayon I :

  • Wilayah kerja : Semarang Utara – Sebagian Semarang Tengah
  • Batas – batas :
    • Tawangsari, timur jalan
    • Jln. Agus Salim
    • Pedamaran, timur jalan
    • Gajah Mada, timur jalan
    • Wijayakusuma, jalur utara terus ke Jl. Kartini utara jalan

Rayon II :

  • Wilayah kerja : Semarang Barat – sebagian Semarang Tengah
  • Batas – batas :
    • Tawangsari, barat jalan
    • Pedamaran, barat jalan
    • Gajah Mada, barat jalan sampai sudut Simpang Lima ke barat masuk Pandanaran, utara jalan
    • Kalisari ke Barat

Rayon III :

  • Wilayah kerja : Semarang Timur – Semarang Selatan
  • Batas – batas :
    • Wijayakusuma, jalur selatan terus ke Jl. Kartini selatan jalan
    • Simpang Lima ke barat masuk Pandanaran, selatan jalan
    • Gajah Mada, Timur jalan dari perempatan Wijayakusuma terus ke Selatan meliputi daerah Candi.

Seiring perjalanan waktu, dengan berkembangnya jemaat di ketiga rayon tersebut, maka Majelis Jemaat merasa perlu mendewasakannya ketiga rayon tersebut menjadi 3 gereja yang mandiri. Akhirnya, dilaksanakanlah pendewasaan GKI Beringin dan Peterongan pada tanggal 6 Februari 1987 jam 17.00 melalui Kebaktian Pendewasaan bertempat di GKI Karangsaru. Kebaktian dipimpin oleh Pdt. Zacharia W.S. ditandai dengan penyerahan sebuah Alkitab besar, berkas-berkas keanggotaan Jemaat dan anak kunci kepada wakil Majelis Jemaat kedua Gereja tersebut

Dengan demikian, kita melihat bahwa “pembagian” GKI Karangsaru menjadi 3 gerjea bukanlah tanpa alasan yang jelas. Justru sebaliknya, dengan adanya sistem “rayonisasi” ini, pelayanan dan perkunjungan kepada jemaat di ketiga rayon tersebut menjadi efektif dan efisien. Hal ini terbukti dengan didewasakannya ketiga rayon menjadi 3 gereja yang mandiri. Hal lain yang tidak boleh dilupakan adalah dengan adanya 3 gedung gereja dan 3 rayon jemaat yang berbeda, maka ladang pelayanan dan Pekabaran Injil menjangkau wilayah Semarang yang lebih luas ( tidak terpusat di sebuah tempat saja ).

Begitulah Tuhan bekerja. Dengan cara-Nya yang unik dan tak terselami, Tuhan memimpin dan memberkati kita sebagai gereja-Nya, sehingga banyak jiwa baru dapat diselamatkan dan dimenangkan bagi Tuhan.

Tapi walau begitu masih ada pertanyaan yang tersisa. Seandainya, jika pada hari ini, Tuhan berkenan menambahkan jumlah jemaat GKI Karangsaru menjadi 2 kali lipat, apakah kita juga akan tetap menggunakan sistem “rayonisasi” lagi untuk membagi jemaat ? Bagaimana menurut anda ?

Sumber Pustaka :

Victor S. Winatayuda, “Sejarah GKI Semarang – Karangsaru”, Semarang, 1996.


Categories

%d bloggers like this: