Posted by: gkikarangsaru | August 31, 2010

Kisah Telur Busuk


Jika anda berpikir bahwa kehidupan orang Kristen di jaman dulu lebih nyaman dan lebih sedikit mendapat hambatan dan gangguan dari orang – orang yang tidak senang ( bahkan membenci ) ke-Kristen-an, maka anda perlu memikirkan kembali pendapat anda itu. Setidaknya kisah berikut menggambarkan kepada kita, bagaimana dalam tiap jaman, ada saja orang yang membenci ke-Kristen-an.

Kisah ini berawal dari Persekutuan Doa yang diadakan di rumah Liem Siok Hie di jalan Plampitan 31 Semarang. Dengan makin bertambahnya orang Tionghoa yang hadir dalam persekutuan doa di tempat itu, menimbulkan rasa ketidak-senangan ( bahkan kebencian ) di kalangan orang – orang Tionghoa non Kristen yang masih terpengaruh oleh Confusianisme dan budaya tradisi tanah leluhur. Kebetulan jalan Plampitan masih termasuk wilayah pecinan, dimana sekitarnya banyak tinggal orang Tionghoa non Kristen. Karena itu, mereka mulai menebarkan teror dan ketakutan bagi para jemaat Tionghoa yang hadir dalam persekutuan doa itu !

Pada suatu sore, ketika sedang diadakan persekutuan doa di dalam rumah itu, tiba – tiba datang segerombolan pemuda Tionghoa non Kristen di depan rumah. Dengan segera mereka melempari jemaat yang berkumpul di tempat itu dengan telur – telur busuk. Kontan saja hal ini menimbul kecemasan dan kepanikan diantara jemaat yang hadir, bahkan beberapa diantara mereka ketakutan dan lari tunggang langgang meninggalkan persekutuan doa. Namun keadaan dapat teratasi dan suasana persekutuan tenang kembali.

Beberapa bulan kemudian, gerombolan pemuda Tionghoa non Kristen ini datang kembali. Kali ini bukan telur busuk yang mereka lemparkan, tetapi “telur manusia” ( kotoran ) yang dibungkus dalam kertas koran. Anda bisa membayangkan betapa paniknya jemaat yang hadir karena bau yang luar biasa busuknya itu ! Tidak puas dengan itu, merekapun sering membunyikan tetabuhan yang sangat ramai sekali di depan rumah, sehingga menggangu konsentrasi jemaat pada saat bersekutu. Yang aneh bahwa jemaat Kristen Tionghoa itu bukannya makin surut dan takut, tetapi justru makin bertambah jumlahnya. Tuhanpun terus menambahkan jiwa-jiwa baru hadir dalam persekutuan itu.

Dari jaman ke jaman, selalu ada hambatan dan tantangan dari mereka – mereka yang membenci ke-Kristen-an. Tuhan pun mengijinkan itu terjadi untuk menguji kemurnian iman kita. Jadi, jika pada suatu hari ujian iman itu datang kepada anda, siapkah anda ?

Sumber Pustaka :

Victor S. Winatayuda, “Sejarah GKI Semarang – Karangsaru”, Semarang, 1996.


Categories

%d bloggers like this: