Posted by: gkikarangsaru | August 31, 2010

Kesusahan Sehari Cukuplah Untuk Sehari


Tahukah anda siapa ce’ A Siong ? Beliau adalah papa saya dan beliau juga adalah koster pertama yang bekerja di GKI Karangsaru ini. Saat itu saya masih berumur 14 tahun, ketika papa saya diberi pekerjaan oleh gereja untuk menjadi koster ( sekitar awal tahun 50-an ). Saat itu, gedung gereja Karangsaru baru mulai dibangun. Jadi, karena belum ada bangunan yang bisa ditempati, kami sekeluarga ( papa, ibu, saya dan 4 adik laki – laki saya ), terpaksa harus tidur berdesakan di sebuah “gedheg” ( barak atau rumah bambu ), yang berada di pojok timur tanah gereja.

Kami sendiri datang ke Semarang sebagai pengungsi. Situasi perang, menyebabkan kami harus rela meninggalkan rumah kami di daerah Godong ( dekat Grobogan Purwodadi ). Selama berada di Semarang itu, kami menempati tempat pengungsian di depan Kerkop Raden Patah. Untuk menghidupi keluarga di pengungsian, papa saya mencari pekerjaan kesana kemari. Dan, akhirnya ada seorang Majelis yang menawarinya pekerjaan sebagai koster gereja. Karena didesak kebutuhan sehari – hari, maka papa saya mau saja menerima tawaran itu.

Tentu anda bisa membayangkan berapa gaji seorang koster gereja pada waktu itu. Sangat kecil sekali, sehingga kami harus mencari uang tambahan. Karena itu, mama saya kemudian berjualan “telo godhog”, yang dijual kepada para tukang yang bekerja di situ. Biasanya mereka tidak membayar langsung, tapi dipotong gaji sama si mandor, yang kemudian menyetor uang ke mama saya.Tapi itupun masih kurang ! Maka sayapun sering membantu mama saya untuk “ndeplok bata” ( menumpuk batu bata, digunakan untuk campuran semen ) demi memenuhi kebutuhan perut yang tak bisa dikompromi. Bahkan, karena kepepet, adik sayapun ikut – ikutan mencari uang, dengan menarik uang parkir sepeda jemaat yang datang ke gereja.

Di tengah segala kesulitan itu, papa saya setiap pagi rajin membaca Alkitab. Ada satu kata – katanya yang masih selalu terngiang – ngiang di telinga saya sampai hari ini,”hari esok ojo mbok pikirke, hari esok ono kesusahane dewe “ ( dikutip dari Matius 6 : 34 : janganlah kamu kuatir akan hari esok, karena hari esok punya kesusahannya sendiri ).

Kata – kata ini saya pegang ketika saya kemudian hidup berumah tangga.

Setelah menikah, saya berdagang pakaian konveksi, dan Tuhan berkati saya dengan limpahnya. Dari rumah kontrakkan di jalan Senjoyo, saya dapat membeli dua rumah di jalan Krakatau. Tapi walau demikian, saya tidak pernah memberi perpuluhan atau persembahan lainnya ke gereja. Saya begitu pelit, sampai akhirnya Tuhan menegur saya.

Dalam tempo beberapa bulan, tiba – tiba harta saya ludes, karena ditipu orang. Terpaksa saya menjual kedua rumah saya berikut perabotnya untuk menutup semua hutang saya, dan saya kemudian pindah ke rumah mertua saya. Saya sadar Tuhan sedang menghukum saya dan saya mohon ampun padanya. Di saat – saat itu, saya justru teringat kata – kata papa saya, ,”hari esok ojo mbok pikirke, hari esok ono kesusahane dewe “. Saya percaya Tuhan mendengar doa saya !

Esoknya saya kemudian mulai membuka warung sop buntut dan ayam goreng di depan rumah mertua saya. Modal untuk berjualanpun saya dapat dari menjual satu – satunya jam yang masih kami punya. Jika sampai dagangan kami tidak laku, maka kami tidak tahu bagaimana besok kami hidup. Ini satu – satunya yang kami punya.

Tapi Tuhan memberikan mujizatnya hari itu ! Di hari pertama saya berjualan, sop buntut dan ayam goreng kami habis ludes, sehingga kami punya cukup uang untuk melanjutkan hidup kami. Tapi ada mujizat-Nya yang lebih besar ! Gara – gara sop buntut yang laku ini, suami saya bertobat dan percaya kepada Tuhan Yesus ! Ya, selama ini suami saya, walaupun mengantar saya ke gereja, bahkan duduk dalam gereja, tapi hatinya sekeras batu. Dia tidak mau menerima Tuhan Yesus sebagai juruselamatnya. Tapi hari itu saya lihat dia menangis, menyadari betapa Tuhan begitu mencintai keluarga kami.

Ternyata begitu indah rencana Tuhan ! Tuhan memang membiarkan kami menjalani kesulitan ini, agar kami berdua dapat hidup dalam terang kasih-Nya.

Amin !

Seperti diceritakan oleh Ny. Ie Hwat Swie, anggota GKI Karangsaru


Categories

%d bloggers like this: