Posted by: gkikarangsaru | August 31, 2010

Kado Spesial di Usia 17


Bagi seorang remaja, terutama remaja putri, usia 17 adalah usia yang benar – benar spesial. Mereka  dianggap sudah tidak anak – anak lagi, tapi diakui eksistentesinya sebagai seseorang  yang mulai dewasa.  Saat usia mereka menginjak usia 17, seringkali dirayakan besar – besaran, dan orang menyebutnya “Sweet Seventeen”. Demikian juga saat usia GKI Karangsaru menginjak usia 17 tahun, Tuhanpun memberikan kado yang spesial bagi jemaatNya. Anda ingin tahu seberapa spesialnya kado itu bagi jemaat Karangsaru ?

Walaupun “Tiong Hoa Kie Tok Kauw Hwee” Semarang ( GKI Karangsaru ) sudah berdiri lebih dari 10 tahun, tapi belum juga memiliki gedung gereja sendiri. Memang hal ini bisa dimaklumi mengingat pada periode ini Indonesia sedang mengalami masa – masa sulit. Dengan masuknya Jepang ke Indonesia, kemudian disusul suasana perang untuk mempertahankan kemerdekaan, membuat bangsa Indonesia hidup di jaman serba susah dan kekurangan. Jangankan untuk membangun gedung gereja, untuk makan saja sudah sangat – sangat – sangat susah !

Untuk mengadakan kebaktian umum dan kegiatan pelayanan gereja lainnya, gereja terpaksa meminjam gedung Gereja Zendingkerk di Mlatentiangwi 27, bergantian dengan kebaktian yang diadakan oleh Salatiga Zending untuk suku Jawa dan suku – suku lain. Selain itu, gereja juga masih meminjam rumah Ds. Liem Siok Hie di jalan Plampitan 31 untuk mengadakan kebaktian di sore hari. Padahal dengan berkembangnya jemaat yang ada dan jumlah pengunjung kebaktian yang semakin bertambah, maka mau tidak mau gereja harus memiliki gedungnya sendiri.

Oleh karena itu, pada tahun 1947 Majelis Gereja membentuk Panitia Kerkbouwfonds ( Panitia  Pembangunan Gereja ), yang terdiri dari  : Jap Hwat Ling,  Kho Djoen Liong, Kho Sit Tong, Liem Hong Gwan, Liem Hway Gie dan Ny, Tjhoa Tjing Tjoan, serta guru Injil Tan Kim Liong sebagai penasihat. Panitia ini bertugas mencari dan mengumpulkan dana untuk membangun gedung gereja sendiri. Menyadari bahwa gedung gereja “Zendingkerk” yang dimiliki oleh Salatiga Zending tidak mungkin dibeli, maka Panitia kemudian mencari sebidang tanah yang cukup untuk dibangun sebuah gereja di daerah Semarang Tengah ( mengingat di daerah itu banyak tinggal keturunan Tionghoa ).

Peletakan Batu Pertama Pembangunan GKI Karangsaru ( 20 Agustus 1950 )

Dari sudut pandang manusia, pekerjaan ini sungguhlah berat, mengingat pada masa – masa itu Indonesia sedang dalam situasi perang kemerdekaan dan tentu saja, kondisi perekonomian juga sangatlah  sulit. Selain itu, sebagian besar anggota gereja waktu itu adalah golongan weknemer (  buruh  ) dan hanya sedikit yang menjadi pengusaha.  Jadi untuk membangun sebuah gedung gereja, rasa – rasanya hal itu bakal sulit tercapai, kalau tidak mau dikatakan “mustahil” ! Tetapi, tidak ada yang mustahil bagi Tuhan ! Ternyata Tuhan sendiripun turut bekerja dalam pembangunan gedung gereja-Nya.

Pada tanggal 18 Pebruari 1948, tanpa pernah diduga sebelumnya, Panitia didatangi oleh 3 utusan resmi dari ‘De Javasche Bank’ ( sekarang Bank Indonesia ) untuk menawarkan sebuah tanah milik Bank tersebut di tikungan jalan Karangsaru dan jalan Kapuran, tepatnya di depan Sekolah Tionghoa Kapuran ( sekarang sekolah Nusaputera ), dengan panjang 75 meter dan lebar 47 meter. Untuk gereja, tanah itu ditawarkan dengan harga khusus, f.8.– / M2. Selain itu, mereka juga menawarkan, jika tanah itu terlalu besar untuk dibeli, maka tanah itu boleh dibeli sebagian saja, asalkan sisanya tidak terlalu kecil untuk dibangun sebuah rumah.

Pantia dan Majelis Gereja kemudian meninjau lokasi tanah tersebut dan akhirnya memutuskan untuk membeli sebagian saja, yaitu : 40 x 47 M2. Jadi kalau tanah itu mau dibeli, maka biaya yang harus dikeluarkan adalah sebesar : 40 x 47 M2 = 1880 M2 x @ f.8.– = f.15.040, ditambah dengan biaya balik nama, maka totalnya menjadi f.16.000.  ( Enam belas ribu rupiah ). Jumlah yang sangat besar untuk waktu itu, dan itupun harus dibayar dalam waktu satu bulan. “Darimana kami bisa mendapatkan uang sebanyak itu ?”, begitulah kebimbangan yang muncul di hati para panitia dan Majelis Jemaat.

Tapi sekali lagi, Tuhan menunjukkan kasih setia-Nya dan selalu menyediakan apa yang dibutuhkan oleh anak – anakNya. Tuhanpun menggerakkan hati para jemaatNya untuk membantu membeli tanah tersebut dengan apa yang mereka punya, tentu saja menurut kemampuan dan kerelaan hati masing – masing. Selain itu, Panitia juga mendapat bantuan dana dari Perkumpulan Kaum Wanita Kristen “Debora”, dari hasil kegiatan bazaar dan fancy fair yang mereka lakukan di halaman gereja Zendingkerk pada bulan Januari dan Oktober 1948.

Dan sekali lagi, Tuhan menunjukkan kasih setia-Nya ! Dana yang terkumpul tidak saja cukup untuk melunasi pembelian tanah tersebut, tapi juga dapat digunakan untuk membantu biaya pembangunan gedung gereja. Olah karena itu, segera dimulailah pembangunan gedung gereja, dengan diawali peletakan batu pertama oleh Ds. Liem Siok Hie pada tanggal 20 Agustus 1950.

Dengan susah payah dan penuh ketekunan, akhirnya pembangunan gedung gereja di Jalan Karangsaru tersebut dapat diselesaikan dalam waktu hampir 2 tahun. Dan akhirnya, pada tanggal 3 September 1952 dilakukan peresmian gedung gereja THKTKH Semarang di jalan Karangsaru tersebut, yang dihadiri oleh Wakil Walikota Semarang, Ka. Bimas Kristen Kanwil Kodya Semarang, Camat Semarang Tengah, utusan dari berbagai gereja serta ratusan jemaat THKTKH Semarang. Bersamaan dengan peresmian gedung itu, ditabhbiskan juga pendeta kedua THKTKH Semarang dalam diri Guru Injil Tan Kiem Liong ( Ds. Sulaiman Budipranoto ).

Peresmian Gedung Gereja GKI Karangsaru ( 3 September 1952 )

Dengan diresmikannya gedung gereja THKTKH Semarang, maka mulai minggu pertama September 1952, kebaktian THKTKH Semarang yang dulunya meminjam gedung Zendingkerk, dipindahkan ke Karangsaru, dengan jam kebaktian jam 06.00 dan 09.00 pagi. Sementara kebaktian sore yang diadakan di jalan Plampitan 31 tetap dilakukan di tempat itu sampai dengan tahun 1953.

Demikianlah, di usia yang ke 17 tahun, Tuhan memberikan kado spesial bagi jemaat-Nya ini, sebuah gedung gereja baru di jalan Karangsaru, sebuah gedung gereja yang tetap kokoh berdiri sampai hari ini. Tidak itu saja, tetapi Tuhan juga memberi sebuah pelajaran iman yang penting untuk jemaatNya yang masih muda ini, bahwa Tuhan sanggup memberikan “apa yang kelihatannya tidak mungkin” bagi setiap anak – anakNya yang selalu setia berseru kepadaNya.

Jadi, jika di hari ini anda sedang mengalami masalah yang berat, yang anda anggap sebagai “sesuatu yang tidak mungkin” anda selesaikan, ingatlah dan percayalah, bahwa Tuhan masih mau mendengarkan seru doa anak – anakNya, dan menyediakan yang tak terduga bagi kebutuhan anda. Sungguh ! Serahkan masalah anda ke dalam tanganNya. Maukah anda ?

Sumber Pustaka :

Victor S. Winatayuda, “Sejarah GKI Semarang – Karangsaru”, Semarang, 1996


Categories

%d bloggers like this: