Posted by: gkikarangsaru | August 31, 2010

Jangan Takut Bermimpi !


Setiap orang pasti memilik cita – cita yang diimpikan dalam kehidupannya. Demikian juga dengan Liem Hiok Sie. Dipengaruhi oleh semangat “Tiong Hoa Kie Tok Kauw Hwee” yang saat itu sedang berhembus keras di pulau Jawa, maka Liem Siok Hie pun bercita – cita untuk membangun sebuah jemaat Kristen Tionghoa yang mandiri di Semarang. Hanya sayangnya, pada tahun 1930-an itu, masih sedikit orang Kristen Tionghoa yang ada di Semarang, itupun kebanyakan sudah berusia lanjut, sehingga belum memungkinkan mewujudkan mimpinya itu. Tapi Liem Siok Hie tidak menyerah !

Langkah pertama yang dilakukannya adalah mengadakan Serie Meeting ( Kebaktian Kebangunan Rohani atau  KKR ) di kota Semarang.  KKR yang pertama diadakan di Kota Semarang itu dilakukan di Zendingkerk pada tanggal 11 dan 12 Maret 1929, dengan memanggil seorang penginjil dari China, Rev. Leland Wang. Ternyata penginjil ini dipakai Tuhan dengan luar biasa dan memenangkan banyak jiwa bagi Tuhan. Karena perhatian dan sambutan dari masyarakat Tionghoa cukup baik, maka Pekabaran Injil dengan cara KKR ini dilanjutkan lagi secara rutin pada tahun – tahun berikutnya. Para Penginjil dari dalam dan luar negeri berdatangan ke Semarang dipakai Tuhan untuk mengobarkan api Roh Kudus yang mulai menyala di kalangan orang-orang Tionghoa di Semarang dan kota-kota sekitarnya.

Pendeta P.H.Pouw ( Pouw Peng Hong ) dari Klasis Jawa Barat adalah hamba Tuhan yang berada dibalik semua Gerakan Rohani ini karena beliaulah yang telah mengutus Rev Leland Wang dari China untuk melayani KKR di Semarang. Pdt P.H.Pouw, yang merupakan salah satu tokoh penggagas berdirinya “Tiong Hoa Kie Tok Kauw Hwee” di Batavia,  juga melayani KKR  pada tahun 1930, 1932 dan 1936. Selain itu, Tuhan juga mengutus hamba – hambanya untuk melayani KKR di kota Semarang ini, antara lain : Rev Goh Hood King (1934) dan Rev Chew Hock Hin (1939)  dari Singapura. Dari China antara lain : Rev. Dzao Sze Kuang (1937, 1941), Rev. Wang Siong Dek (1940) dan Rev. Tjoa Sin Tek (1940)

Tapi, usahanya tidak berhenti sampai di situ saja ! Pada saat Ds. P.H. Pouw datang ke Semarang untuk mengadakan KKR, maka Liem Siok Hie mengumpulkan para tokoh Kristen Tionghoa dari berbagai kota di Jawa Tengah di rumahnya, Jalan Plampitan 31 Semarang, guna mengadakan dialog dan memberikan motivasi kepada orang – orang Kristen Tionghoa untuk mulai memikirkan mendirikan gereja sendiri, baik di Semarang maupun di kota-kota lain. Tak lupa juga kaum muda gereja juga dikumpulkan dan diberikan motivasi agar giat dalam pelayanan untuk mendirikan gereja Tuhan.

Langkah selanjutnya yang diambil oleh Liem Siok Hie menunjukkan komitmennya yang kuat dan dedikasi yang tinggi untuk mempersembahkan yang terbaik bagi Tuhan. Pada tahun 1932, Liem Siok Hie meninggalkan pekerjaannya di perusahaan “Geo Wehry” dan memfokuskan dirinya untuk sepenuh waktu menggunakan hidupnya bagi Injil dan pelayanan jemaat.

Melihat kesungguhan hati seorang Liem Siok Hie, maka Tuhan pun tidak mau tinggal diam dan membiarkan Liem Siok Hie bekerja sendiri ! Maka Tuhan pun memberikan seorang rekan kerja dan sahabat yang dengan setia membantu pelayanannya. Pemuda tersebut bernama Then Djin Soey, seorang karyawan PT. BAT Batavia, yang karena kehendak Tuhan, dipindahtugaskan ke Semarang ( 1931 ). Bersama Then Djin Soey, Liem Siok Hie kemudian mendirikan “Perhimpunan Umat Kristen Tionghoa” pada tanggal 15 Desember 1931, sebuah organisasi yang  bertujuan sebagai wadah untuk mengumpulkan dan melakukan pembinaan rohani kepada orang – orang Tionghoa Kristen yang ada di kota Semarang.

Cikal Bakal GKI Karangsaru berawal rumah Ds. Liem Siok Hie di Jalan Plampitan 31

Cikal Bakal GKI Karangsaru berawal rumah Ds. Liem Siok Hie di Jalan Plampitan 31

Kesulitan untuk mendapatkan tempat berkumpulnya jemaat bagi perhimpunan tersebut, tidak membuat langkah Liem Siok Hie surut ! Justru sebaliknya, dengan rela Liem Siok Hie menyediakan rumahnya pribadi di jalanPlampitan 31 untuk digunakan sebagai tempat kegiatan PI dan kegiatan pelayanan lainnya. Pada 20 Juli 1932, dari ruang tamu keluarga Liem Siok Hie yang kecil inilah dimulai persekutuan doa yang pertama, yang kemudian menjadi kegiatan rutin setiap Kamis malam jam 6 sore. Dan Tuhanpun bekerja melalui persekutuan doa ini ! Makin banyak jiwa – jiwa baru dari kalangan Tionghoa datang untuk mendengar berita sukacita dan dimenangkan bagi Tuhan.

Langkah demi langkah,Tuhan menuntun Liem Siok Hie untuk menggapai mimpinya ! Setelah berhasil mengadakan Persekutuan Doa di Plampitan, maka Liem Siok Hie dan pengurus perkumpulan meminta kepada pihak Salatiga Zending untuk diperbolehkan mengadakan kebaktian umum tersendiri pada hari Minggu, khusus untuk mereka yang berasal dari kalangan Tionghoa. Usulan ini kemudian disetujui oleh Salatiga Zending, dan kebaktian pertama diadakan pada tanggal 15 Pebruari 1934 jam 10 pagi, yang dihadiri sekitar 75 orang. Dalam kurun satu tahun, jemaat Kristen Tionghoa yang berbakti dalam kebaktian itu mencapai kurang lebih 135 orang, 30% diantaranya telah menerima sakramen baptis  sidi dari Salatiga Zending.

Melihat pertumbuhan jemaat Tionghoa yang menggembirakan, maka Salatiga Zending pada tanggal 21 Maret 1935 mengundang pengurus perkumpulan untuk membicarakan tentang keinginan jemaat Tionghoa Kristen untuk mendirikan gereja sendiri yang mandiri. Salatiga Zending akhirnya memutuskan untuk mendewasakan bakal jemaat Kristen Tionghoa Semarang pada kebaktian khusus tanggal 7 April 1935 di gereja Zendingkerk. Selain itu, pada kebaktian pendewasaan itu dilakukan juga pentahbisan Pendeta yang pertama atas diri Ds. Liem Siok Hie serta peneguhan anggota Majelis Jemaat yang pertama, yaitu : Ds. Liem Siok Hie,Tua-tua Then Djien Soey,Tua-tua Tjoa Soen An, Diaken Lauw  Tjong Poan dan Diaken Khoe Tiong Djien

Peresmian berdirinya jemaat baru itu juga ditandai secara simbolik penyerahan 51 anggota keturunan Tionghoa ( 11 pria, 40 wanita ) dan 18 anggota baptisan ( 12 pria, 6 wanita ) dari Salatiga Zending kepada Ketua Perhimpunan Umat Kristen Tionghoa Semarang, sebagai jemaat baru yang resmi diberi nama : Gereja Kristen “Tiong Hoa Kie Tok Kauw Hwee” Semarang

Dengan demikian, tercapailah apa yang selama ini diimpikan oleh Liem Siok Hie, berdirinya sebuah gereja Kristen Tionghoa yang mandiri.

Dari kisah ini, kita bisa belajar tentang kekuatan sebuah mimpi atau visi. Gereja yang ingin maju, sudah seharusnya memiliki visi yang jelas dan kuat, yang akan mengarahkan setiap jemaat untuk bersatu padu dan bekerjasama untuk meraihnya. Demikian juga jika anda ingin berhasil dalam kehidupan anda, maka anda harus punya mimpi. Ya, anda harus punya mimpi ! Tapi tentu saja tidak cukup mimpi yang anda miliki. Anda harus sering – sering mengkonsultasikannya dengan Tuhan, jangan – jangan mimpi anda tidak selaras dengan kehendak-Nya. Dan jangan lupa, anda harus punya rencana dan langkah – langkah yang kongkrit untuk mewujudkan mimpi anda, plus semangat “pantang menyerah”. Karena itu, jangan takut bermimpi ! Jika Liem Siok Hie saja berhasil mewujudkan mimpinya demi kemuliaan nama Tuhan, lalu, bagaimana dengan Anda ? Apakah anda punya mimpi ?

Sumber Pustaka :

Victor S. Winatayuda, “Sejarah GKI Semarang – Karangsaru”, Semarang, 1996.


Categories

%d bloggers like this: