Posted by: gkikarangsaru | August 31, 2010

Bukan Sekedar Ganti Nama


Sejak pertama kali gagasan mendirikan “Tiong Hoa Kie Tok Kauw Hwee” digulirkan di konferensi tokoh Kristen Tionghoa di Bogor, jelaslah bahwa THKTKH sedari semula memang dikhususkan untuk melayani dan melakukan pekabaran Injil bagi orang – orang keturunan Tionghoa saja. Tapi seiring dengan berubahnya jaman, terutama dengan kemerdekaan yang berhasil diperjuangkan oleh bangsa Indonesia dari penjajahan Belanda dan menjadikan Indonesia sebagai sebuah negara yang utuh dan berdaulat, maka hal ini menempatkan keturunan Tionghoa pada sebuah tataran baru dalam kehidupan mereka di tengah kemajemukan masyakarat. Oleh karena itu,  mau tidak mau gereja THKTKH harus berpikir lebih dewasa dalam menempatkan dirinya di tengah – tengah kehidupan berbangsa dan bernegara.

Tahun 1957, Tiong Hoa Kie Tok Kauw Hwee Semarang berubah nama menjadi GKI Karangsaru

Tahun 1957, Tiong Hoa Kie Tok Kauw Hwee Semarang berubah nama menjadi GKI Karangsaru

Oleh karena itu, sesuai dengan keputusan Sidang Synode GKI Jawa Tengah ke-6 di Purwokerto ( 17 – 20 September 1956 ), maka akhirnya sejak tanggal 1 Me1 1957 nama Gereja Kristen “THKTKH” Semarang diganti menjadi Gereja Kristen Indonesia (GKI) Semarang Karangsaru.

Dengan menghilangkan istilah “Tionghoa” dan menggantinya dengan kata “Indonesia” ini bukan  berarti gereja hanya sekedar ganti nama saja !  Lebih penting dari itu, GKI Semarang Karangsaru tidak perlu merasa dirinya sebagai unsur asing di negerinya sendiri. Justru sebaliknya, hal ini akan memberi makna positif kepada kehidupan dan pertumbuhan Gereja. Gereja menjadi terbuka, tidak terbatas hanya milik satu komunitas atau golongan saja, tetapi setiap orang dari suku atau bangsa manapun boleh bersekutu dan menjadi bagian dari kehidupan dan pelayanan gereja ini.

Jadi sangat aneh, kalau dalam yang gereja yang katanya sudah berasas ke-Indonesia-an ini, masih ada saja jemaat yang suka pilah – pilih teman dalam persekutuan ataupun pelayanan di gereja hanya gara – gara suku bangsa yang berbeda. Seperti Tuhan tidak pernah memandang muka dan tidak pernah membeda – bedakan setiap anak yang berseru kepada-Nya, lalu, bagaimana dengan anda ?

Sumber Pustaka :

Victor S. Winatayuda, “Sejarah GKI Semarang – Karangsaru”, Semarang, 1996.


Categories

%d bloggers like this: