Posted by: gkikarangsaru | August 31, 2010

Bejana Yang Retak


Di dalam banyak sejarah gereja yang ada, kita tidak bisa menutupi kenyataan bahwa di dalam jemaat sering terjadi perbedaan pandangan, yang kemudian meruncing dan berujung pada keretakan dan perpecahan dalam jemaat. Kelompok jemaat yang “sakit hati’ ini biasanya mendirikan gereja – gereja baru. Penyebabnya pun macam – macam. Ada yang hanya gara – gara masalah “gelas besar” dan “gelas kecil” yang digunakan dalam perjamuan suci bisa membuat sebuah gereja terpecah jadi dua. Ada juga yang timbul karena perselisihan yang terjadi antara pendeta dan jemaatnya. Perbedaan paham dan ajaran juga berpotensi menimbulkan perpecahan. Lalu bagaimana dengan GKI Karangsaru ? Pernahkah ini terjadi ? Jujur kita harus menjawab, Pernah !

Kisah ini diawali di tahun 1959, ketika Majelis Jemaat merasa bahwa seiring dengan bertambahnya jumlah jemaat GKI Semarang Karangsaru, maka dibutuhkan tambahan seorang pengerja tambahan. Saat itu Ds. Liem Tjiauw Liep yang baru 2 tahun ditahbiskan, mengundurkan diri untuk melanjutkan pelayanannya di Gereja Gereeformeerd Kwitang, sementara Ds. Liem Siok Hie sudah berusia lanjut, sehingga praktis hanya tinggal 1 pendeta yang melayani jemaat, yaitu Ds. Tan Kiem Liong. Oleh karena itu, Majelis Jemaat kemudian memanggil Sdr. Goei Yong Lioe, seorang pengerja dari GKI Sukabumi. Setelah lulus ujian premtoar, Sdr. Goei Yong Lioe ditahbiskan menjadi pendeta GKI Semarang Karangsaru pada tanggal 14 Oktober 1959.

Boksu Goei adalah seorang yang pandai bicara dan berwajah tampan. Kotbahnya yang bersemangat dengan gaya bicara yang menarik, membuatnya disukai oleh hampir semua jemaat, terutama oleh kaum muda. Masalah kemudian muncul, ketika ternyata faham yang dianut oleh Boksu Goei ini ternyata berbeda dan tidak cocok dengan faham ajaran yang dianut oleh Sinode GKI Jawa Tengah, termasuk GKI Karangsaru. Salah satunya adalah, apakah boleh seorang yang telah hamil sebelum menikah, ditahbiskan pernikahannya di dalam gereja.

Makin lama perbedaan faham ini menjalar dan membuat keretakkan di dalam tubuh jemaat. Jemaat terbagi dalam dua kelompok. Satu kelompok, terutama dari kaum muda, mendukung paham ajaran yang dibawa oleh Boksu Goei, sedangkan kelompok yang lain, umumnya orang tua, menentang ajarannya. Begitu hebatnya keretakkan terjadi dalam jemaat ini, sampai – sampai keretakkan ini menjalar dalam keluarga – keluarga jemaat. Ada anak yang bertengkar dengan orang tuanya karena berada dalam kelompok yang berbeda. Suasana dalam jemaat terasa begitu “panas’ dan tidak kondusif lagi.

Tak terbayangkan betapa sedih hati Boksu Liem Siok Hie, melihat gereja yang telah dirintisnya bertahun – tahun, sekarang diambang perpecahan. Di usianya yang sudah lanjut ( saat itu kira – kira berumur 70 tahun ), beliau mengunjungi satu demi satu keluarga jemaat yang ada, agar masalah ini dapat diselesaikan dengan baik.

Untuk meredakan ketegangan ini, maka Sinode GKI Jateng pun mengirim Pdt. The Hian Hoo ( Pdt. Em. Petrus Hardjopranoto ) untuk mendamaikan kedua kelompok yang bersitegang ini. Tapi kedua kelompok bersikukuh dengan pendapatnya masing – masing.

Akhirnya, Boksu Goei mengundurkan diri sebagai pendeta GKI Semarang Karangsaru pada tahun 1961 dan membentuk gereja yang baru, yaitu : Gereja Kristen Injili ( GKII ) di Pekunden. Tentu saja, Majelis dan jemaat yang selama ini mendukungnya pun ikut keluar dan pindah ke gereja baru tersebut. Walau demikian, di kemudian hari, banyak Majelis dan jemaat yang telah pindah ke gereja itupun kembali ke GKI Semarang Karangsaru.

Karena kedangkalan hati manusia, maka Tuhan ijinkan GKI Semarang Karangsaru mengalami goncangan yang begitu berat. Tapi, seperti bejana tanah liat yang retak di tangan tukang periuk, Tuhan pun membangun kembali jemaat GKI Semarang Karangsaru ini  dengah hebatnya. Pengalaman yang menyakitkan ini justru makin menumbuhkan kedewasaan iman jemaat GKI Karangsaru. Dan Tuhanpun menambahkan jiwa – jiwa baru bagi gereja ini. Terbukti pada tahun 1966, demi menampung pertambahan jumlah jemaat, dibuka sebuah gedung gereja baru di Peterongan, yang disusul dipakainya gedung gereja Beringin pada tahun 1969

Sumber Pustaka :

Victor S. Winatayuda, “Sejarah GKI Semarang – Karangsaru”, Semarang, 1996.


Categories

%d bloggers like this: