Posted by: gkikarangsaru | August 31, 2010

Asal Usul Nama “Karangsaru”


Tidak ada sumber yang jelas dari mana asal usul nama “Karangsaru”, sebuah jalan yang panjangnya tak lebih dari 500 meter yang menghubungkan jalan Mataram dan jalan Kapuran ( sekarang jalan Ki Mangun Sarkoro). Tapi setidak – tidaknya kita bisa menduga, bahwa nama Karangsaru itu memang berasal dari bahasa Jawa,  sesuai dengan kebiasaan orang pada jaman itu yang menamai sebuah jalan atau kampung dengan ciri khas daerah itu. Sebagai contoh, dinamai Jagalan karena di daerah itu ada tempat “jagal” hewan ( pemotongan binatang ), disebut Kapuran karena di jalan itu banyak gudang kapur, dikenal sebagai Gang Besen karena gang  itu dulunya merupakan pusat penjualan besi, juga nama Karang Ligu berasal nama tuan Lie Goe yang memiliki tanah di kampung itu, dan seterusnya.

Kata “Karang” disini bisa diartikan sebagai “pekarangan” atau “halaman”, dan bukannya batu karang, karangan ( tulisan ), karangan bunga, apalagi karang gigi. Sedang kata “saru” dalam bahasa Jawa merupakan sebuah ungkapan yang berarti “sesuatu yang tidak pantas atau tidak layak untuk dilakukan”. Jadi dari sini kata “Karangsaru” dapat diartikan sebagai “pekarangan atau halaman yang digunakan untuk sesuatu yang tidak pantas dilakukan”. Hal ini kemudian menimbulkan pertanyaan besar bagi kita, apa yang sebenarnya yang terjadi di daerah ini, sehingga orang – orang tega menamai daerah ini dengan kata “saru” ?

Sebuah pendapat lain disampaikan oleh seorang rekan. Dia menganalogikan nama Karangsaru dengan nama beberapa kampung lain yang ada di sekitar Karangsaru. Sebagai contoh, disebut Karangturi karena dulunya disitu banyak ditumbuhi bunga turi, disebut Karang Kebon karena dulunya disitu banyak ditemui kebun bunga, dinamai Kentangan karena di daerah itu memang dulunya tempat menanam kentang. Jadi, menurutnya, Karangsaru itu adalah sebuah pekarangan atau tanah yang banyak ditumbuhi bunga saru. Bunga Saru ? Memangnya ada bunga yang namanya “Saru” ?

Jangan kaget, memang ada yang namanya bunga saru ! Bahkan Alkitab pun mencatat nama bunga ini ( coba buka kitab Yesaya 44 : 14 ). Disana jelas – jelas disebutkan nama bunga Saru. Tetapi menyadari bahwa kita jarang mendengar nama bunga saru di Indonesia, khususnya di kota Semarang, jadi sulit rasanya membayangkan kalau daerah ini dulunya memang benar – benar ditumbuhi bunga saru.

Pendapat lain muncul dari pembicaraan dengan Ibu Ie Hwat Swie, anak cek A Siong, koster pertama GKI Karangsaru. Beliau bersama ayahnya mulai tinggal di lahan GKI Karangsaru pada tahun 1950-an. Pada saat itu gedung gereja Karangsaru sedang dalam tahap pembangunan, dan mereka sekeluarga tinggal di sebuah rumah “gedheg” ( barak ) yang ada di timur gereja. Di depan barak mereka itu, ada sebuah jalan tanah yang menghubungkan jalan Karangsaru dan kampung Jagalan Timur ( kalau tidak salah, dulunya kampung ini bernama Karang Kembang Wetan ). Nah, di jalan itulah, setiap malam ibu Ie Hwat Swie yang saat itu masih berumur 14 tahun, melihat banyak wanita yang berdiri di sana, berjajar – jajar sepanjang kampung sambil bersenda gurau. Anda bisa membayangkan kira – kira apa yang dikerjakan para gadis ini di pingir jalan di malam hari ? Ya, pasti anda dapat menduga kalau mereka ini adalah para PSK ( pekerja seks komersial ) atau yang dulu lebih dikenal dengan istilah pelacur.

Memang, dalam sejarah pelacuran di kota Semarang, pada tahun 1950-an Pemerintah Kota Semarang mulai menertibkan dan menampung para pelacur yang sebelumnya berkeliaran di jalan – jalan kota Semarang dalam sebuah lokasi, yaitu di daerah Karang Kembang. Dan tahukah anda dimanakah Karang Kembang itu ? Daerah ini dulunya merupakan sebuah kampung yang berada di depan GKI Karangsaru, tepatnya di belakang sekolah Nusaputera sampai di depan SMA Loyola. Untung saja, karena desakan  pertambahan jumlah penduduk dan pemekaran wilayah di kota Semarang, maka pada tahun 1963 Pemerintah Kota Semarang memindahkan lokalisasi di Karang Kembang ke lokasi baru di daerah Sunan Kuning, Kalibanteng.

Jadi anda dapat membayangkan, bahwa wilayah Karangsaru dan sekitarnya dulunya merupakan tempat prostitusi atau pelacuran, sesuatu yang “saru” atau tidak pantas dilakukan. Mungkin atas dasar inilah, orang – orang kemudian menyebutnya dengan Karangsaru. Walau demikian, masih untung kalau daerah ini hanya disebut dengan istilah “saru”. Coba bayangkan, kalau gara – gara kegiatan yang “saru – saru” itu maka daerah ini disebut Karang Mesum, betapa susahnya kita menjelaskan kenapa gereja kita disebut GKI Karang Mesum ?

Tetapi walau demikian, itulah uniknya GKI Karangsaru . Kami percaya bahwa Tuhan sengaja menempatkan gereja-Nya di daerah Karangsaru, sebuah daerah yang penuh perbuatan dosa dan “saru”, untuk senantiasa mengingatkan kita bahwa demikianlah Tuhan mengutus kita kepada dunia yang hidupnya penuh bergelimang dosa dan perbuatan – perbuatan “saru”, agar mereka mengenal kasih-Nya, berbalik dari dosanya, serta percaya dan beriman hanya kepada Yesus, sebagai satu – satunya Tuhan dan juruselamat mereka.

Ingatlah, Tuhan memberkati dan mengutus jemaat-Nya, bukan untuk menciptakan gereja bak istana yang megah dan nyaman, tapi justru agar kita diperlengkapi untuk mengabarkan Injil dan melayani mereka yang terbuang dan yang masih hidup dalam “kesaruan” dosa mereka. Jika Tuhan telah memberkati dan mengutus anda, lalu, bagaimana dengan anda ?

Dari berbagai sumber.


Categories

%d bloggers like this: