Posted by: gkikarangsaru | August 4, 2010

Teladan Seorang Gembala


Sekarang, ijinkan kami memperkenalkan kepada anda, satu sosok penting dalam perjalanan GKI Karangsaru. Beliau adalah Alm. Ds. Liem Siok Hie, seorang yang merintis berdirinya GKI Karangsaru dan menjadi pendeta pertama dalam gereja ini. Kepribadiannya yang penuh kedisiplinan, pendiriannya yang teguh, tekun dan penuh keuletan, tapi sekaligus rendah hati dan setia untuk memberikan yang terbaik bagi Tuhan, menjadikannya sebagai figur yang pantas menggembalakan dan memimpin gereja ini selama lebih dari 30 tahun.

Liem Siok Hie adalah anak sulung dari tiga bersaudara, lahir pada 16 April 1887, dari keluarga Kristen pasangan alm. Liem Sing Koei, pengusaha roti ( bakkery ) “Buyut” di Salatiga. Seperti kisah Abraham yang dipanggil Tuhan untuk keluar dari tanah airnya, demikian Liem Siok Hie meninggalkan Salatiga untuk melanjutkan sekolah di HBS ( Hoger Burger School ) Semarang. Setelah lulus dari sekolah, dia kemudian bekerja di sebuah perusahaan multinasional Belanda, “Geo Wehry”.

Peneguhan Liem Siok Hie Menjadi Majelis di Zendingkerk

Peneguhan Liem Siok Hie Menjadi Majelis di Zendingkerk

Sebagai seorang pemuda yang dibesarkan dalam lingkungan keluarga dan pendidikan Kristen yang ketat dan penuh kedisplinan, maka ketika berada di Semarang pun dia juga rajin beribadah dan mengikuti kegiatan gereja di Zendingkerk. Selain itu, sejak remaja beliau sudah memiliki cita – cita untuk menjadi seorang Pekabar Injil, sebuah pekerjaan yang pada jaman itu dianggap sebagai pekerjaan yang aneh dan tidak lazim.

Ketekunan dan kesetiaanya berbakti dan ikut dalam kegiatan pelayanan gerejawi menarik perhatian para penginjil dari Salatiga Zending. Mengapa ? Karena dia satu – satunya pemuda keturunan Tionghoa yang ada di gereja itu.  Memang, pada saat itu, hanya sedikit keturunan Tionghoa yang mengikuti kebaktian di Zendingkerk, tak lebih dari 12 orang ( 7 wanita dan 5 pria ) dan itupun sebagian besar telah berusia lanjut.

Oleh karena itu, para penginjil dari Salatiga Zending kemudian mengangkat dan meneguhkannya sebagai Tua – Tua ( yang pertama dari keturunan Tionghoa ) dalam Majelis Gereja campuran Gereja Zending pada tanggal 27 Mei 1917. Tidak berhenti di situ saja, selama 3 tahun selanjutnya, di sela – sela kesibukannya sebagai pegawai perusahaan “Geo Wehry”, pemuda Liem kemudian mengambil pendidikan khusus Alkitab sore hari di Sekolah Alkitab Zending. Atas hasil kerja kerasnya itu, pada tanggal 6 Juni 1920, Liem Siok Hie diteguhkan sebagai “Lerend Ouderling” ( Tua – Tua Pengajar ).

Sejak itu ia mempersembahkan seluruh hidupnya untuk mengabarkan Injil di kalangan orang-orang Tionghoa, baik di Semarang maupun kota – kota disekitarnya.  Ketika mendapat cuti dari tempatnya bekerja, Liem Siok Hie berkeliling ke kota – kota lain untuk melawat sambil menginjil, diantaranya : Salatiga, Solo, Magelang, Purworejo dan Kutoarjo. Di kota – kota ini, iapun menyisihkan waktu untuk berdialog dengan orang – orang Tionghoa di sana, guna bertukar pikiran merintis berdirinya Gereja Kristen Tionghoa di kota-kota tersebut.

Pelayanan Liem Siok Hie Ke Luar Kota Bersama Jemaat

Pelayanan Liem Siok Hie Ke Luar Kota Bersama Jemaat

Kalau Tuhan sudah membuka pintu penginjilan maka tidak ada seorangpun yang bisa menutupnya. Dari satu orang Liem Siok Hie, Tuhan bekerja dengan kuasa-Nya mendirikan jemaat-jemaat di kota – kota kecil lainnya di Jateng. Kita patut bersyukur kepada Tuhan, Raja Gereja yang telah memilih dan memakai Liem Siok Hie untuk merintis berdirinya GKI Karangsaru. Semangat dan pengorbanannya menjadi teladan kaum muda masa kini bahwa hanya dengan satu orang Liem Siok Hie, Tuhan bisa membuat perkara – perkara besar. Seperti Abraham yang diberitahu Tuhan bahwa keturunannya akan seperti bintang-bintang di langit banyaknya, demikian juga dari satu Liem Siok Hie lahirlah banyak jemaat GKI di Jawa Tengah ini.

Tapi kisah keteladanan Liem Siok Hie tidak berhenti sampai di sini. Pada tahun 1932, dia mengambil keputusan yang sangat berani, berhenti dari pekerjaannya di “Geo Wehry”. Keputusannya ini bukanlah keputusan yang main – main, bahkan boleh dikatakan sangat berani ! Asal anda tahu, pada waktu itu “Geo Wehry” adalah salah satu dari 5 besar perusahaan multinasional Belanda yang berada di Indonesia. Jadi, jika anda keluar dari perusahaan itu, itu berarti anda membuang kesempatan meniti karir ke jenjang yang lebih tinggi dan tentu saja, gaji yang menggiurkan.

Tapi justru keputusan berhenti itulah yang diambil oleh Liem Siok Hie, agar dapat memfokuskan diri dalam penginjilan dan pelayanan jemaat. Padahal pada waktu itu, gaji sebagai penginjil ( atau pendeta ) tidaklah cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari – hari, apalagi jemaat yang terkumpul pada saat itu belumlah banyak. Tapi baginya, “apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus“ ( Filipi 3 : 7 ).

Oleh karena itulah, selain mendapat hak pensiun dari “Geo Wehry”, maka untuk mencukupi kebutuhan sehari – hari, istri Liem Siok Hie kemudian membuat kue – kue jajan pasar yang dijual kepada para bakul “tenongan” yang biasa berjualan di pasar Johar dan sekitarnya. Demikianlah kita melihat, tidak saja Liem Siok Hie, tetapi juga keluarganya memiliki komitmen yang tinggi untuk memberikan yang terbaik bagi Tuhan.

Liem Siok Hie Mempersembahkan Rumahnya sebagai Tempat Kebaktian

Liem Siok Hie Mempersembahkan Rumahnya sebagai Tempat Kebaktian

Di saat jemaat kesulitan untuk mencari tempat berbakti dan mengadakan persekutuan, maka Liem Siok Hie dan keluarga menyediakan rumahnya jalan Plampitan 31 sebagai tempat beribadah, bahkan pada tahun 1936 rela memugar ruang tamunya sehingga dapat digunakan sebagai tempat kebaktian yang mampu memuat 80 – 100 orang. Lebih dari itu, rumah ini tidak saja digunakan untuk berbakti jemaat yang dilayaninya ( THKTKH Semarang ), tetapi juga dipinjamkan kepada jemaat “Hwa Kiauw Kie Tok Kauw Hwee” ( golongan Tionghoa totok ), yang kelak menjadi GKI Stadion Semarang.

Hal lain yang patut kita teladani dari sosok Liem Siok Hie adalah ketekunan dan kesetiaannya untuk mengabarkan Injil dan melayani Tuhan. Dari nol Liem Siok Hie merintis jemaat GKI Karangsaru ini dan dengan tekun pula dia mengabarkan Injil kepada para orang Tionghoa di Semarang, sehingga banyak jiwa dimenangkan bagi Tuhan. Diapun dengan setia berkeliling ke kota – kota lain, padahal di masa itu masih jarang alat transportasi yang memadai. Tapi dia tak pernah mengeluh !

Pada ulang tahun gereja yang ke – 25 ( 1960 ), yang berarti juga 25 tahun pelayanan Liem Siok Hie sebagai pendeta, Majelis Jemaat pernah menawarkan agar Ds. Liem Siok Hie mengambil pensiun ( emiritus ). Tapi hal ini dengan tegas ditolaknya ! Baginya, yang boleh memberi pensiun itu hanya Tuhan sendiri, Sang Raja Gereja. Tapi karena penglihatannya yang mulai memburuk, maka Ds. Liem Siok Hie sudah tidak lagi berkotbah. Kotbahnya yang terakhir dilakukannya pada bulan Juli 1961, saat umurnya telah mencapai 74 tahun ! Walau demikian, beliau tetap setia berbakti di gereja dan mengikuti perkembangan Gereja yang telah dirintisnya. Bahkan pada minggu pertama Oktober 1972 pun ( berusia 85 tahun ), beliau masih mengikuti sakramen Perjamuan Suci dan menerima roti dan anggur secara langsung dari Pdt. Soelaiman Budipranoto.

Akhirnya, Tuhanpun memanggil hambanya yang setia ini, yang telah berusaha mempersembahkan yang terbaik dalam hidupnya bagi kemuliaan Nya, pada tanggal 28 Oktober 1972, dalam usia 85 tahun dan dikuburkan di Permakaman Kristen Kobong ( jalan Raden Patah ) Semarang. Liem Siok Hie telah mengakhiri pertandingan imannya, tetapi buah – buah pengabdiannya tetap berlaku kekal.

Demikianlah kita melihat keteladanan seorang gembala untuk memberikan yang terbaik bagi Tuhan dan jemaat-Nya. Kita melihat totalitas pelayanan dan dedikasi yang tinggi dalam diri Liem Siok Hie. Jika seorang Ds. Liem Siok Hie bisa memberikan begitu banyak bagi Tuhan, lalu, bagaimana dengan anda ?

Sumber Pustaka :

Victor S. Winatayuda, “Sejarah GKI Semarang – Karangsaru”, Semarang, 1996.


Categories

%d bloggers like this: