Posted by: gkikarangsaru | August 4, 2010

Hanya Berbekal Iman


Jika pada suatu hari Tuhan berkata kepada anda, “Pergilah dan kabarkan InjilKu ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu !”, apa jawaban anda ?

Apakah anda akan memilih diam dan merasa tak perlu menuruti permintaan Tuhan itu ? Ataukah, anda akan bersikap seperti Yunus, yang lari menghindar dan menolak untuk memberitakan kabar keselamatanNya ? Atau, malah anda mulai menghitung – hitung untung ruginya dan mulai tawar menawar dengan Tuhan ? Atau, anda memilih bersikap seperti Abraham, menaati perintahNya dengan iman dan tanpa syarat ? Pilihan terakhir inilah yang diimani oleh para misionaris dari Neukirchener Mission Hause, sebuah badan PI dari Jerman, yang kemudian lebih dikenal dengan nama Salatiga Zending. *). Mereka rela meninggalkan negeri yang mereka cintai, berlayar beribu – ribu kilometer jauhnya,  bahkan mempertaruhkan nyawa mereka, demi bisa mengabarkan Injil dan memenangkan jiwa – jiwa bagi Tuhan, di sebuah negeri yang asing, koloni jajahan yang miskin.

Nama “Neukirchener” sendiri adalah nama sebuah desa kecil di Jerman. Kisah pelayanan mereka bermula, ketika sekitar tahun 1870, terjadi kebangunan rohani besar – besaran di desa itu. Tapi, sang pendeta yang mengobarkan semangat kebangunan rohani ini malah jatuh sakit, dan kemudian bernazar : jika Tuhan memberikan kesembuhan kepadanya, dia akan melakukan sesuatu yang istimewa bagi Tuhan. Dan benar, Tuhan memberinya kesembuhan dan pendeta itupun menepati janjinya.

Pada tahun 1878, sang pendeta membangun sebuah panti asuhan di desa Neukirchener hanya bermodal “iman”. Panti asuhan itu tidak punya pendapatan yang tetap, tetapi juga tidak pernah berhutang. Satu – satunya sumber pengharapan mereka yang tetap hanyalah Tuhan sendiri. Dan Tuhan tak pernah membiarkan mereka kekurangan !

Pada tahun 1880, datanglah lima orang pemuda kepada sang Pendeta yang ingin dididik untuk dapat mengabarkan Injil. Dari sinilah sang Pendeta kemudian merintis berdirinya badan misi “Neukirchener Mission Hause” **), sekali lagi dengan hanya bermodal “iman”.

Satu kisah yang menunjukkan betapa berimannya sang Pendeta, adalah ketika badan misi ini mencari sebuah rumah guna mendidik para calon misionaris, karena ruang yang mereka pinjam di panti asuhan terlalu sempit untuk mereka. Akhirnya, mereka menemukan sebuah bekas penginapan di desa itu yang akan dijual dengan harga 10.500 mark. Dengan iman, sang Pendeta membayar uang muka 500 mark kepada pemilik penginapan dan berkata “Tuhan sendiri yang akan menyediakan sisanya”. Dan benar, rumah itu terbayar lunas !  Keteguhan iman inilah yang kemudian menjadi dasar dalam setiap pelayanan yang mereka lakukan, sehingga banyak yang menyebut mereka sebagai  kelompok “faith mission” – imanlah yang menjadi dasar kehidupan dan pelayanan mereka.

Sama halnya dalam hal keuangan dan pemenuhan atas kebutuhan sehari – hari, dalam ladang pelayananpun mereka tidak mau merencanakan atau mencari kemana mereka harus pergi, tetapi mereka justru menanti Tuhan menunjukkannya kepada mereka. Dan kesempatan pertamapun diberikan Tuhan kepada mereka pada tahun 1884. Saat itu jemaat Ermelo datang kepada mereka untuk meminta bantuan tenaga  pekabaran Injil di Jawa Tengah, tepatnya di Nyemoh Salatiga. Jemaat yang telah dirintis oleh Nyonye Le Jolle telah bertambah besar, sementara jemaat Ermelo yang kecil tidak sanggup sendirian untuk mengerjakan ladang pekabaran Injil di Jawa Tengah yang begitu luas. Inilah jalan yang sudah direncanakan Tuhan bagi badan misi “Neukirchener Mission” untuk memulai usaha pekabaran Injil mereka di Jawa Tengah.

Pada tahun 1884 mulailah “Neukirchener Mission” mengutus para misionarisnya ke Jawa Tengah, tepatnya di Salatiga, bergabung dengan para Pekabar Injil yang sudah ada sebelumnya di sana. Selanjutnya, mereka lebih dikenal dengan nama “Salatiga Zending”.

Ada yang menarik dari kehidupan para misionaris Salatiga Zending ini. Pada umumnya, para misionaris mendapat gaji yang tetap setiap bulannya dari badan misi pengutusnya. Berbeda halnya dengan para misionaris Salatiga Zending ini. Mereka sama sekali tidak menerima gaji tetap. Kalaupun teman – teman mereka yang ada di Eropa berhasil mengumpulkan bantuan / donasi untuk pelayanan mereka, mereka akan membagi sendiri bantuan ini di antara mereka. Jadi bisa anda bayangkan, para misionaris ini tidak saja harus susah payah mengabarkan Injil, tetapi mereka juga harus bekerja untuk mencukupi kebutuhan mereka sehari – hari. Ya, itulah kehidupan yang harus mereka jalani ! Benar – benar hidup yang penuh tantangan dan tanpa bersandar teguh di dalam iman kepada Tuhan, tak seorangpun yang akan sanggup melaluinya !

Pelayanan Poliklinik Salatiga Zending

Pelayanan Poliklinik Salatiga Zending

Ketika pada tahun 1900-an terjadi bencana kekeringan dan kelaparan di Pulau Jawa, maka Salatiga Zending menyadari panggilan mereka tidak saja hanya mengabarkan Injil, tetapi Tuhan menginginkan agar mereka melakukan pelayanan lain yang menyentuh kebutuhan sehari – hari masyarakat. Karena itu, mereka mulai mendirikan poliklinik dan sekolah – sekolah. Untuk memenuhi kebutuhan guru untuk sekolah – sekolah yang mereka dirikan, maka merekapun kemudian mendirikan sekolah guru di Tingkir, Salatiga ( 1908 – 1932 ). Melalui pelayanan kesehatan dan pendidikan itulah, lebih banyak lagi orang yang mengenal dan percaya kepada Tuhan Yesus sebagai satu – satunya juruselamat mereka.

Dari Salatiga, maka Salatiga Zending bergerak dan melebarkan ladang pelayanannya di sepanjang pantai utara Jawa Tengah, mulai dari Tegal, Pekalongan, Kendal, Semarang, Ungaran, Purwodadi, Blora, sampai dengan Bojonegoro.  Benih – benih firman Tuhan yang mereka taburkan di kota – kota inilah yang kelak menjadi cikal bakal bagi bertumbuhnya gereja – gereja di Jawa Tengah bagian utara. Sebagian dari mereka kemudian menjadi GKJ-TU ( Gereja Kristen Jawa Tengah Utara ), dan sebagian lain mendirikan Gereja Kristen Indonesia ( GKI ).

Di Semarang sendiri, Salatiga Zending  ini kemudian mendirikan sebuah gereja untuk menjadi pusat penginjilan mereka di Semarang , Zendingkerk,  yang terletak di jalan Mlatentiangwi 27 ( sekarang jalan Dr. Cipto 27, dan gereja tersebut sekarang digunakan oleh GKJ TU Semarang ). Kelak dari gereja ini, lahirlah GKI Karangsaru Semarang.

ZendingKerk, Jl Mlatentiangwi 27, Semarang ( 1930-an )

ZendingKerk, Jl Mlatentiangwi 27, Semarang ( 1930-an )

Hanya berbekal iman ! Inilah pelajaran yang bisa kita petik dari kisah para misionaris Salatiga Zending ini. Dengan hanya berbekal iman, mereka meninggalkan negeri mereka dan dengan iman pula, mereka menjalani kehidupan mereka di negeri yang baru. Hidup yang sungguh – sungguh bersandar dan beriman hanya kapada Tuhan, yang empunya kehidupan. Jika para misionaris Salatiga Zending ini mampu menjalani kehidupan mereka hanya berbekal iman, lalu, bagaimana dengan anda ?

Sumber Pustaka :

  • Kruger, Dr. Th. Muller. 1966. Sejarah Gereja Di Indonesia, Badan Penerbitan Kristen-Djakarta. hal 185-188.
  • Frederiek Djara Wellem, Kamus sejarah gereja, BPK Gunung Mulia, Jakarta, 2006
  • Th. van den End,J. Weitjens, Ragi Carita: Sejarah Gereja Di Indonesia, Jilid 2, BPK Gunung Mulia, Jakarta, hal 44 – 46, hal 235 – 236.

Catatan :

*) Salatiga Zending sendiri, sebenarnya adalah aliansi ( gabungan ) dari beberapa badan pekabaran Injil yang berpusat di Salatiga, yaitu Neukirchener Mission Hause dari Jerman, Perhimpunan Pendukung para Pekabar Injil dari Salatiga Zending di Jawa, dan Perserikatan Para Pekabar Injil dari Salatiga Zending di Jawa

**) Badan misi “Neukirchener Mission Hause” sampai sekarang masih berdiri dan tetap melakukan pekabaran Injil. Selain di Jawa Tengah, Badan misi ini juga melayani di Afrika Timur, Amerika dan Eropa. Jika anda tertarik untuk melihat lebih lanjut pelayanan mereka, anda dapat mengunjungi situs internet mereka di : http://www.neukirchenermission.de/ .


Categories

%d bloggers like this: