Posted by: gkikarangsaru | August 4, 2010

Dari Biasa Menjadi Luar Biasa


Jika pada anda ditanyakan sebuah nama, Nyonya Le Jolle, apakah anda mengenalnya atau setidak – tidaknya pernah mendengar namanya ? Pasti banyak dari kita yang akan menggeleng – gelengkan kepala. Padahal apa yang dilakukannya telah memberikan  sumbangsih besar bagi berdirinya banyak gereja di Jawa Tengah bagian utara. Mengapa jarang ada yang mengenalnya ? Karena dia adalah seorang wanita biasa, dan apa yang dilakukannya adalah sesuatu yang biasa juga. Tetapi apa yang tampaknya biasa di hadapan manusia, di tangan Tuhan bisa menjadi menjadi sesuatu yang luar biasa !

Ny. Le Jolle, lahir di Belanda dengan nama E.J. De Wilt. Dia kemudian menikah dengan seorang mantan kapten pasukan berkuda Hindia Belanda, D.D.Le Jolle, yang  pada tahun 1853 diangkat menjadi pengawas perkebunan kopi di Simo ( dekat Salatiga ).  Di tempat baru itulah, dia mulai menceritakan Injil dan kasih Tuhan kepada para pembantu yang setia mendampinginya.

Rupanya Injil yang diberitakannya itu sungguh menyentuh hati para pembantunya, sehingga pada tahun 1855, dua tahun sejak kedatangannya, sudah ada 10 orang pembantunya yang mau dibaptiskan ( dilayani oleh Hoezoo, utusan badan misi Pekabaran Injil Belanda, yang ada di Semarang ). Dan rupanya cerita tentang Injil dan kasih Tuhan yang diceritakan oleh Nyonya Le Jolle terus menyebar dan menggugah hati para pekerja kebun lainnya dan warga di sekitar perkebunan kopi untuk lebih mengenal Injil dan kekristenan.

Dalam waktu singkat,  kelompok kecil yang ingin belajar tentang Injil dan kekristenan ini tumbuh dengan cepat, dan Nyonya Le Jolle merasa sudah waktunya untuk memanggil seorang penginjil untuk membina iman mereka dengan lebih serius dan lebih mendalam. Oleh karena itulah,  Nyonya Le Jolle mengirim surat kepada Jellesma, seorang pekabar Injil di Majawarna, Jawa Timur. Maka kemudian diutuslah Petrus Sedaya, seorang penginjil Jawa, murid Jellesma, untuk melayani jemaat di tempat itu.

Kelihatannya semua berjalan dengan baik dan lancar, ketika tiba – tiba pada  tahun 1856, Tuan D. D. Le Jolle meninggal dunia. Kepergian sang suami membuat Nyonya Le Jolle kemudian memutuskan untuk kembali ke negerinya. Tentu saja hal ini membuat 50 jemaat yang sudah terbentuk di Simo bagaikan ayam kehilangan induknya. Lebih parah lagi, mereka tidak punya hak untuk tetap tinggal di perkebunan Simo dan harus mencari tempat pemukiman yang baru.  Atas bantuan Hoezoo, mereka akhirnya mendapatkan sebuah pemukiman baru dari pemerintah Belanda di desa Nyemoh, Salatiga.

Walau telah kembali ke Belanda, hati Nyonya Le Jolle tetap tertinggal di Indonesia. Beliau selalu memikirkan jemaat kecil yang telah dibangunnya. Nyonya Le Jolle kemudian menghubungi jemaat Ermelo yang saat itu sedang giat melakukan pekabaran Injil. Tanggapan jemaat Ermelo sungguh menggembirakan dan selanjutnya, mereka  mengutus Rev. H.W. Witteveen R. De Broer untuk melayani jemaat di Nyemoh tersebut.

Tak berhenti sampai di situ, Nyonya Le Jolle juga bekerja keras mengumpulkan dana guna mendukung dan membiayai pekabaran Injil di Salatiga itu dengan membentuk sebuah badan bantuan misi yang dikenal dengan nama “Vereeninging tot ondersteuning van de zendelingen der Salatiga-Zending op Java” ( Perhimpunan Pendukung para Pekabar Injil dari Salatiga Zending di Jawa ). Akhirnya, dari Salatiga inilah para pekabar Injil terus untuk mengabarkan Injil ke hampir seluruh pantai utara Jawa Tengah, dari Tegal di Barat sampai dengan Bojonegoro di Timur.

Apa yang dilakukan oleh Nyonya Le Jolle sebenarnya adalah sesuatu yang biasa, bergaul dan berbicara dengan para pembantu sambil menceritakan tentang kasih Tuhan. Nyonya Le Jolle juga bukan seorang penginjil yang telah mendapatkan pelajaran Alkitab dan teologia secara khusus. Ia hanya seorang wanita biasa, istri pengawas perkebunan yang hanya ingin membagikan kasih Tuhan kepada sesamanya, tanpa pernah membeda – bedakan, apakah yang diajaknya bicara itu golongan terpandang atau golongan para babu. Tetapi apa yang biasa itu, bagi Tuhan menjadi istimewa dan luar biasa, karena dilakukan dengan penuh cinta dan ketulusan !

Jadi, jika anda merasa diri anda seorang biasa – biasa saja yang hanya terbiasa melakukan pekerjaan yang biasa – biasa, jangan pernah berpikir bahwa anda tidak bisa berbuat apa – apa untuk Tuhan dan sesama anda !

Jika anda seorang ibu rumah tangga, mulailah lakukan pekerjaan rumah tangga yang biasa anda lakukan dengan penuh cinta dan ketulusan untuk Tuhan dan keluarga anda. Jika anda hanyalah seorang karyawan, jangan lupa kerjakan pekerjaan sehari – hari anda ( yang biasanya membuat anda mengeluh ) dengan penuh sukacita dan tanggung jawab. Jika anda adalah seorang pelajar, berlakulsah seperti anak “terang” di tengah pergaulan yang semakin “gelap” ini. Bahkan jika anda adalah seorang yang sudah berumur dan tidak bisa melakukan pekerjaan apa – apa lagi, anda masih dapat berdoa dan bercerita tentang kasih-Nya kepada orang – orang di sekeliling anda.

Tuhan selalu menginginkan agar kita selalu memancarkan dan menceritakan kasihNya melalui kepribadian dan kehidupan kita. Jika Nyonya Le Jolle yang seorang wanita biasa saja mau melakukan dan memikirkan yang terbaik buat Tuhan dan sesamanya, lalu bagaimana dengan anda ?

Sumber Pustaka :

  • Partonadi, Sutarman S. Sadrach’s community and its contextual roots: A nineteenth century Javanese expression of Christianity, Rodopi, Amsterdam, 1988 ( hal 45 – 46 )
  • Kruger, Dr. Th. Muller. 1966. Sejarah Gereja Di Indonesia. Badan Penerbitan Kristen-Djakarta. hal 185-188.
  • Frederiek Djara Wellem, Kamus sejarah gereja, BPK Gunung Mulia, Jakarta, 2006

Categories

%d bloggers like this: