Posted by: gkikarangsaru | January 6, 2010

Tuhan, Jangan Ambil Anakku !


Sebab mata Tuhan tertuju kepada orang-orang benar, dan telinga-Nya kepada permohonan mereka yang minta tolong, tetapi wajah Tuhan menentang orang-orang yang berbuat jahat.”

( I Petrus  3 : 12 )

Kriingg….., Kriiinggg…. , Kriiiinggg….

Telepon berdering beberapa kali di rumahku, sebelum Doni, anak sulungku, mengangkatnya. Aku tak merasakan sesuatu yang istimewa, sampai tiba – tiba Doni berteriak dengan wajah pucat ke arahku, “Pah, Roy kecelakaan !”

Bagai disambar petir disiang bolong, aku meloncat kaget mendengarnya. Ya Tuhan, apa yang terjadi dengan anakku !  Ternyata malam itu, Roy, anak keduaku, mengalami kecelakaan tunggal di daerah Puri Anjasmoro Semarang. Roy terpeleset saat mengendarai sepeda motornya dan terpental keras ke arah pohon palem botol yang memang banyak ditanam di daerah itu. Begitulah kira – kira kejadian yang diceritakan oleh teman Roy yang menelepon tadi. Sekarang, Roy berada di ruang ICU sebuah rumah sakit di Semarang.

Dengan hati bingung dan kacau, aku dan istriku bergegas ke rumah sakit. Seribu satu pertanyaan berkecamuk di kepala kami berdua. Parahkah Roy ? Apakah Roy selamat ? Apakah Roy harus dioperasi ? Kalau selamat, masih mungkinkah Roy mengikuti ujian kelulusan SMP yang tinggal beberapa minggu lagi ? Lalu, bagaimana kami bisa menutup semua biaya perawatannya ?

Sesampainya kami di ruang ICU, rupanya kami sudah ditunggu oleh dokter jaga. Dokter membawa kami masuk ke ruang prakteknya dan mulai menjelaskan kondisi yang sedang dihadapi oleh Roy.

“Pak, Bu… Walau berat, saya harus menjelaskan apa yang dialami Roy. Saat ini, liver Roy pecah di banyak titik. Akibatnya, darah keluar dari liver dan memenuhi selaput livernya, kira – kira 1 liter. Tapi untunglah, selaput livernya masih kuat menampung darah itu. Ginjalnya juga mengalami pendarahan. Saat ini, HB Roy drop sampai 5. Kalau hanya ada satu atau dua bagian liver yang pecah, saya masih dapat melakukan operasi. Tetapi, ada begitu banyak daerah liver yang pecah, sehingga kalaupun dilakukan operasi pun rasanya percuma ! Yang bisa kita lakukan sekarang hanyalah melakukan transfusi darah menggantikan darah yang hilang !”

Kami berdua tak bisa berkata apa – apa. Hanya air mata yang mengalir yang mengungkapkan hati kami berdua. Bagaimanapun juga, hati orang tua mana yang takkan hancur hatinya melihat anaknya begitu menderita dan tanpa harapan hidup lagi. Dalam segala keputus-asaan dan ketidak-mampuan manusia, sekarang satu – satunya yang bisa aku harapkan hanyalah belas kasihan Tuhan. Karenanya, dengan hati yang hancur dan pedih, aku berdoa memohon belas kasihanNya. Jika Tuhan kehendaki, selamatkanlah Roy !

Di depan ruang ICU itulah aku terus berdoa sambil menangis, mengharapkan Tuhan membuka jalan bagi kami menghadapi jalan yang begitu sulit dan gelap ini.  Aku sudah tidak peduli lagi bagaimana orang – orang di sekelilingku memperhatikanku berdoa dan menangis. Aku sudah tidak peduli akan kelelahanku, baik fisik maupun emosi. Yang aku tahu sekarang adalah berdoa tak henti – hentinya dan memohon belas kasihan Tuhan, agar Tuhan mau memberi kesempatan kepada anakku yang masih muda ini untuk melanjutkan hidupnya.

Masalah mulai bertambah. Malam itu, dokter meminta kami untuk menyediakan donor darah sebanyak 20 orang. Tuhan, bagaimana mungkin kami bisa menemukan donor darah sebanyak itu ? Tapi, aku melihat Tuhan mulai bekerja menurut waktunya. Satu demi satu, Tuhan mengirim para pendonor kepada kami, baik itu teman – teman sepelayanan di GKI Karangsaru, ataupun teman – teman dari anak – anakku. Aku merasakan, kedatangan mereka tidak sekedar memberikan darah bagi Roy, tapi terlebih dari itu, kehadiran mereka justru menyegarkan dan memberikan kekuatan baru bagiku dan keluargaku untuk melangkah di dalam kepada Tuhan.

Tapi walau begitu, apakah darah mereka cukup untuk menyelamatkan hidup Roy ? Kekuatiranku mulai muncul lagi. Aku hanya bisa menunggu dan sekali lagi, mengharap belas kasihan Tuhan. Ternyata, Tuhan menghapus segala kekuatiranku. Setelah kantung darah ketiga ditransfusikan ke tubuh Roy, HB-nya mulai naik dan selanjutnya bergerak ke arah stabil. Roy telah melewati masa kritisnya. Puji Tuhan !

Tapi, lagi – lagi kekuatiran menghantui diriku. Walaupun kondisi Roy sudah stabil, bagaimana dengan liver Roy ? Bagaimana masa depannya ? Apakah dia akan cacat dengan kondisi liver yang rusak seperti itu ? Mengingat ketakutanku itu, aku mencoba menyerahkan segala ketidak-tahuan akan masa depan anak ini kepada Tuhan.

Dan, mujizat Tuhan terjadilah !

Setelah beberapa hari, aku dan istriku dipanggil lagi oleh sang dokter. Kamipun masih dag-dig-dug dan penuh kekuatiran, sambil mempersiapkan diri untuk menerima berita terburuk sekalipun. Dan kemudian penjelasan dokter ternyata melegakan kami. “Pak, Roy sudah melewati masa kritisnya. Livernya juga membaik. Hasil pemeriksaan saya terakhir, luka – luka di liver Roy sudah menutup dengan sendirinya. Darah yang terkumpul di selaput liver Roy memang masih ada, tapi Bapak tidak perlu kuatir. Darah itu nantinya akan terserap kembali oleh liver. Selain itu, air kencing juga sudah tidak berdarah, itu menunjukkan luka di ginjal Roy juga sudah sembuh !”

Puji Tuhan, Tuhan menunjukkan mujizatNya dan belas kasihanNya ! Aku hampir – hampir tidak bisa mempercayainya. Liver yang telah pecah dan rusak itu, yang menurut kacamata manusia tidak mungkin dapat disembuhkan dan tak ada harapan lagi, ternyata dapat disembuhkan dan dikembalikan seperti sediakala oleh kuasa Tuhan. Aku sekali lagi berdoa dan menangis, tapi kali ini tangis kebahagiaan, karena Tuhan mau mendengar seruanku dan memberikan kesempatan kepada Roy untuk melanjutkan hidupnya.

Di tengah kebahagian itu, masih tersisa sedikit kekuatiranku. Bagaimana aku bisa melunasi biaya perawatan Roy ? Darimana aku punya uang untuk bisa menutup semua biaya perawatan ?  Terus terang, kondisi ekonomi keluargaku sedang kempas – kempis. Boleh dikata, aku memang sedang tidak punya uang sepersenpun. Saat itu, usaha rotiku sedang seret. Rotiku banyak yang tidak laku dan sering dikembalikan oleh para pelangganku. Selain itu, beberapa bulan ke depan, aku harus juga menyisihkan dana untuk biaya sekolah anak – anakku, Doni akan masuk ke universitas, sedangkan Roy akan masuk ke SMA. Jadi, aku benar – benar buntu, tak tahu kemana lagi aku harus mencari uang untuk menutup biaya perawatan Roy. Yang bisa aku lakukan, sekali lagi, aku hanya bisa bertelut berdoa, memohon kebijaksanaanNya untuk menghadapi masalah ini.

Tapi, sekali lagi, di masa – masa sulit ini, Tuhan menunjukkan kasih sayangNya kepadaku dan keluargaku. Tuhan memakai orang – orang di sekitar kami, baik itu saudara ataupun teman – teman kami dari GKI Karangsaru, untuk membantu kami mengatasi masalah ini. Dan nilai yang terkumpul membuat kami tercengang. Ketika aku hendak membayar biaya perawatan, petugas rumah sakit menunjukkan angka enam juta yang harus kami bayar, angka yang sama yang Tuhan sudah sediakan melalui saudara dan teman – teman kami. Terima kasih, Tuhan ! Terima kasih, saudara – saudaraku !

Akhirnya, Roy diperbolehkan pulang dari rumah sakit. Selain itu, Roy akhirnya bisa mengikuti ujian kelulusan di sekolah, walaupun harus mengerjakan ujiannya sambil berbaring di tempat tidur yang ada di ruang UKS sekolah. Dan dari ini semua aku belajar, bahwa bila kita sungguh – sungguh berserah dan bersandar kepadaNya atas setiap permasalahan kita, maka Tuhan akan menuntun dan memampukan kita melewati jalan hidup yang paling gelap dan menakutkan sekalipun.

Tuhan memberkati. Amin !

Ditulis berdasarkan kesaksian : Rudi Yurianto


Categories

%d bloggers like this: