Posted by: gkikarangsaru | January 6, 2010

Tepat Pada Waktunya !


Dan dikuatkan dengan segala kekuatan oleh kuasa kemuliaan-Nya untuk menanggung segala sesuatu dengan tekun dan sabar

( Kolose 1 : 11 )

Untuk kepentingan dinas, aku diwajibkan mengikuti kursus di Jakarta mulai tanggal 13 sampai dengan 20 Mei 2005 dan dilanjutkan dengan acara pembinaan mental berupa retreat tanggal 23 sampai dengan 25 Mei 2005 di daerah Sukabumi.

Senin pagi, 23 Mei 2005, ketika sedang menunggu mobil yang akan mengantarkan kami ke tempat retreat dimaksud, aku merasa ada sesuatu yang kurang beres dengan mataku. Tiba-tiba semua yang kulihat berubah warnanya agak kekuning-kuningan ibarat kain putih kumal ( mangkak – jawa ), dan itu hanya terjadi pada mata sebelah kanan. Mungkin ada kotoran yang menutupi pandangan, begitu pikirku, tapi rasanya mata ini bersih karena baru saja selesai mandi.

Kemudian aku membasuh mata ini diwastafel yang terletak di kantin yang lokasinya berdekatan dengan tempat kami menunggu kendaraan, namun ternyata hal itu juga tidak membantu, mataku tetap saja seperti itu.

Dengan kondisi mata kananku seperti itu, aku berangkat juga retreat di daerah Sukabumi,meskipun sebenarnya perasaan ini begitu gelisah. Memang tidak terasa sakit, namun terasa sangat mengganggu.

Lokasi retreat yang kami jalani berada di daerah perbukitan dengan suasana pedesaan. Kamar tidur kami berdinding bambu, sedangkan ruang kebaktian / ceramah dan ruangan lain letaknya terpisah, bahkan ada yang letaknya jauh dibawah dan untuk mencapainya harus menuruni anak tangga yang cukup curam dengan ketinggian kurang lebih 50 meter. Benar-benar lokasi yang sangat indah untuk menunjukkan kebesaran Tuhan Sang Pencipta.

Tetapi di tengah segala keindahan itu, lagi-lagi mata kananku ini membuat aku kurang nyaman. Aku terus berusaha untuk menghilangkan sesuatu yang seakan menutupi pandangan ini, bahkan aku sempat mengompres mataku dengan air minum, tapi semua usahaku sia-sia belaka.

Malam pun tiba dan retreat hari pertama berakhir. Ketika aku berada di kamar tidurku dan memulai memejamkan mata mencoba untuk tidur, tiba-tiba dalam kondisi mata terpejam, aku seolah – olah melihat kilatan – kilatan cahaya laksana petir yang membelah bumi. Aku merasa takut, tapi aku diamkan saja hal ini terjadi.

Di hari kedua, tidak ada perubahan apapun dengan penglihatanku. Bahkan kondisinya terasa semakin buruk. Bila aku menutup mata kiriku, maka mata kananku tidak bisa melihat apapun yang berada di depannya. Yang tampak padaku hanya seberkas cahaya, yang berwarna putih kekuning-kuningan, rasa – rasanya seperti melihat telur ayam kampung yang maha besar.

Sampai dengan hari ke dua retreat, aku belum menceritakan masalahku ini kepada siapapun, kecuali hanya kepada Tuhan Yesus, tempat aku berseru mohon kepadaNya agar mataku bisa segera pulih seperti sediakala. Sore harinya, aku mendapat informasi dari seorang rekan yang berasal dari Jakarta tentang alamat dokter mata langganan kantor di Jakarta.

Malampun tiba dan dengan kondisi mata kanan yang boleh dikatakan buta ini, akhirnya aku memutuskan untuk memberitahu isteriku yang berada di Semarang. Berhubung waktu itu, aku tidak memiliki telpon selular, dan kantor pengelola telah tutup, dengan dorongan semangat yang begitu kuat, aku putuskan berjalan kaki menuju wartel terdekat yang jaraknya kurang lebih 500 meter.

Di malam yang sangat gelap itu, aku mulai menapaki jalan yang menanjak. Kudapati jalanan begitu sepi, rumah jarang – jarang dan tak ada satu orangpun yang nampak lalu lalang di jalan. Bahkan beberapa ekor anjing dari sebuah villa sempat mencoba mengejarku dan menggonggongiku. Tapi itu tidak membuat ciut nyaliku untuk terus berjalan ke arah wartel itu.

Akhirnya ada secerah harapan, ketika seorang pengendara motor turun menuju kearahku. Rupanya dia hendak menuju ke daerah bawah dan ketika kulambaikan tanganku dia berhenti. Oh, terima kasih Tuhan Yesus, ternyata dia tukang ojek.

Bersama tukang ojek itu, kami menyusuri jalan yang terus menanjak, dan ketika tiba di wartel yang katanya milik pak lurah, ternyata kami harus kecewa. Yah, teleponnya rusak ! Maka dengan terpaksa, kami harus turun kembali ke bawah sejauh beberapa kilometer untuk mencari wartel lain. Tapi setiba disana, ternyata wartel itu pun sudah tutup, karena sedang ada kerusakan printer dan sedang dilakukan perbaikan. Maka dengan sedikit memaksa, akhirnya aku dapat menghubungi isteriku di Semarang untuk memberitahukan kondisi mata kananku dan mohon dukungan doanya.

Hari terakhir retreat tiba. Perasaankupun benar – benar gelisah dan tidak karuan. Aku tidak bisa langsung ke Jakarta, tetapi jadwal kami harus singgah dulu ke Taman Safari, sehingga kami sampai di Jakarta baru pada sore hari.

Aku sempat berpikir, bahwa berhubung tidak mengenal Jakarta dengan baik, aku akan berobat saja di Semarang. Tapi rupanya Tuhan punya rencana lain. Ada dorongan yang begitu kuat agar aku berobat di Jakarta, apalagi acara retreat ini selesai lebih awal daripada kelompok yang beragama lain yang juga mengikuti pembinaan mental di lokasi daerah yang berbeda. Kami selesai hari Rabu, dan mereka baru akan selesai hari Kamis dan rencananya baru Jum’at seluruh rangkaian pendidikan ini akan resmi ditutup.

Setibanya di penginapan yang sekaligus lokasi kampus, tanpa memperdulikan waktu makan, dengan taksi aku bergegas menuju ke dokter mata yang ditunjukkan temanku di daerah Panglima Polim. Disana, aku masih harus menunggu 11 pasien lagi, padahal waktu sudah menunjukkan jam 8 malam. Atas informasi bagian pendaftaran, ada seorang dokter mata lain yang praktek bersama di tempat itu dan kebetulan jumlah pasiennya tidak banyak, sehingga aku setuju saja untuk periksa ke dokter mata itu.

Setelah dilakukan pemeriksaan, pada mulanya dokter menyimpulkan bahwa yang terjadi di mata kananku hanyalah peradangan biasa. Tapi hati kecilku mengatakan ada yang lain, maka aku mencoba menceritakan lebih detail apa yang aku alami. Untuk mengetahui lebih teliti, maka dokter melakukan pemeriksaan lanjutan, dengan meneteskan obat sehingga kedua pupil mataku melebar.

Ternyata kekhawatiranku menjadi kenyataan. Berdasar pemeriksaan lanjutan itu, malam itu juga dokter memintaku untuk segera opname di RS PGI Cikini, karena ada sesuatu yang darurat pada mataku yang kanan.

Dengan kondisi kedua pupil mata yang baru saja dilebarkan, maka penglihatanku menjadi kabur. Semuanya tidak terlihat jelas, lampu jalanan terlihat seperti kembang api. Dengan perlahan dan sangat berhati-hati, aku menyeberang jalan dan mencari taksi untuk kembali ke penginapan untuk mengambil pakaian pengganti. Lagi pula aku harus memberitahukan temanku tentang keadaanku dan minta bantuannya untuk menyampaikan hal ini kepada panitia pendidikan, serta membuatkan surat jaminan kepada rumah sakit, karena semua biaya menjadi tanggungan kantor.

Setelah tiba di RS dan selesai dengan urusan administrasi di bagian pendaftaran, aku harus berusaha untuk mencari makan malam sendiri, karena bagian dapur rumah sakit rupanya telah tutup ( tanpa kusadar, saat itu sudah jam setengah sebelas malam ). Aku juga harus mencari wartel untuk menelpon isteri dan keluargaku di Semarang, bahwa esok hari, tanggal 26 Mei 2005 aku akan menjalani operasi mata, meskipun hingga saat itu aku belum mengerti benar apa yang telah terjadi dengan mataku.

Dapat dibayangkan betapa bingungnya isteri dan keluargaku mendengar aku akan dioperasi, bahkan isteriku berniat menyusul ke Jakarta untuk mendampingiku, padahal hari-hari itu adalah saat dimana anak sulungku sedang menghadapi ujian akhir kelas 3 SMP. Dengan iman dan hati yang teguh, aku putuskan untuk menjalani saja segala sesuatu yang akan dokter lakukan padaku.

Keesokan harinya, Kamis, 26 Mei 2005, adalah hari penantianku yang panjang untuk menyongsong saat dimana aku akan menjalani operasi. Sebagaimana lazimnya di Jakarta dan hal ini dijamin oleh Undang-Undang ( nomor dan tahunnya aku lupa ), pasien berhak mendapatkan Second Opinion, yakni pendapat dari dokter lain sehingga si pasien merasa yakin atas penyakit yang dideritanya dan kebenaran dari cara pengobatan yang akan dilakukan. Hal ini juga dilontarkan oleh iparku, yang kebetulan berada di Jakarta.

Inilah yang sempat membuat aku bingung, sehingga kuputuskan minta tolong kepada suster untuk berbicara per telepon dengan dokter yang merawatku. Dengan sabar, tanpa merasa sakit hati sedikitpun, dokter itu memberitahukan bahwa penyakitku adalah ABLASIO RETINA dan kalau tidak cepat dioperasi, aku akan buta. Dokter itu memberikan jaminan bahwa dia adalah spesialis bedah retina dan bekerja dalam nama Tuhan Yesus. Puji Tuhan, rupanya dokter itu seorang kristiani ! Maka dengan hati yang mantap dan percaya bahwa hingga saat ini Tuhan Yesus telah menuntun aku kepada dokter yang tepat.

Setelah semua persiapan dilakukan, dan mengingat kondisi mata kananku ini, maka dokter memutuskan untuk segera melakukan operasi, yang akan dilakukan jam 1 siang ( bahkan aku tidak perlu menjalani puasa ). Walau demikian, bagiku rasanya waktu berjalan sangat lambat, bahkan saat sarapan dan makan siang tiba, perut ini terasa kenyang

Pukul satu telah lewat. Pukul dua lewat. Tapi aku belum juga dibawa ke kamar operasi, dan aku minta tolong suster untuk menghubungi dokter. Rupanya dokter sedang melakukan operasi lain di rumah sakit ini juga kepada pasien dari Jayapura yang telah sangat lama menderita katarak

Baru pada pukul setengah empat sore, suster memintaku memakai pakaian operasi dan dibawa ke ruang bedah. Setibanya disana ternyata operasinya belum juga selesai, sehingga aku masih harus menunggu lagi. Dalam masa penantianku itu, tak henti – hentinya aku berseru kepada Tuhan Yesus, kiranya berkenan memakai dokter dan rumah sakit yang notabene Kristen ini untuk menyembuhkan penyakitku. Sementara itu, diluar kamar operasi, tidak ada seorangpun keluargaku yang menungguku. Kebetulan iparku harus berangkat pada hari ini juga untuk belajar di sebuah negara di kawasan Eropa.

Akhirnya, saat yang kunantikan itu tiba juga. Setelah dokter masuk kamar bedah dan mempersiapkan segala sesuatu untuk operasi mata kananku, maka disekitar mata kananku disuntik sebanyak 3 kali untuk pembiusan ( untuk kasusku ini, tidak perlu dilakukan pembiusan total ).

Seluruh tubuhku kini tertutup selimut bedah, sehingga hidungku harus diberikan oksigen. Hanya mata kanan saja yang terbuka, itupun ditutup semacam plester transparan atau apapun namanya aku tidak mengerti, mulailah dilakukan bedah mikro atas mata kananku yang dalam istilah kedokteran disebut VITREKTOMI.

Aku percaya bahwa hingga saat ini Tuhan Yesus-lah yang senantiasa menolong dan menyertaiku. Ketika operasi mulai dilakukan, aku hanya bisa melihat kilatan-kilatan sinar laser yang menerpa mataku. Aku tidak lagi mengerti berapa lama operasi berlangsung. Ruang bedahpun terasa begitu dingin. Aku hanya bisa diam terpaku, tak berani bergerak sedikitpun, bahkan untuk menarik nafaspun kulakukan dengan hati-hati. Aku menarik nafas satu-satu bak orang sakit asma, karena hembusan oksigen dihidungku terasa sangat sedikit.

Sekitar pukul setengah 7 malam, operasiku pun selesai, kira – kira satu setengah jam aku berada di meja bedah dan semuanya berlangsung lancar. Terima kasih Tuhan Yesus, engkau sudah memberiku kekuatan yang luar biasa untuk menghadapi semua ini ! Dengan mata terbalut plester dan ditutup plastic berlubang, aku kembali ke kamar dan malam itu aku harus tidur dengan posisi miring dengan mata kanan di sebelah bawah. Selain itu, segala aktivitasku, seperti membaca, makan, berjalan dan sebagainya harus kulakukan dengan menundukkan kepala.

Operasi telah selesai dilakukan, aku begitu lega dan bersyukur kepada Tuhan Yesus. Tapi di dalam hati ini masih terbesit sedikit kebimbangan, apakah setelah plester dibuka, mata kananku dapat melihat seperti sediakala ?

Sebenarnya pasca operasi, dokter mengijinkan aku pulang. Tapi kemana ? Aku selama ini tinggal di asrama, dan jaraknya cukup jauh dari rumah sakit ini. Belum lagi jalanan yang macet, dan dalam dua hari mendatang, kampus itu akan digunakan oleh kelompok belajar yang lain. Maka aku putuskan tetap tinggal di rumah sakit selama beberapa hari, menunggu pemeriksaan pasca operasi.

Besoknya, aku menelepon isteriku di wartel yang ada di komplek rumah sakit. Secara tidak sengaja, melalui celah diantara plester yang menutup mata kananku, aku dapat melihat benda yang ada di depanku. Tentunya hal ini sangat melegakan dan menggembirakan, baik untuk aku, isteri dan keluargaku. Terima kasih Tuhan Yesus !

Sebelum kembali ke Semarang, dilakukan pemeriksaan terakhir pada hari Senin sore, dan dokter mengatakan, bahwa hasil operasi sangat memuaskan, dan Selasa pagi dengan penerbangan pertama, aku kembali ke Semarang.

Namun rupanya masalah belum selesai ! Ketika aku mulai kembali bekerja, ada kesulitan baru harus aku jalani. Rupanya penglihatanku tidak sebaik sebelum operasi. Untuk membaca aku harus melihat dengan jarak yang cukup dekat, lebih dari itu tulisan maupun garis nampak bengkok – bengkok.

Hal ini benar-benar membuat aku stress ! Bila sebelumnya aku mampu melihat huruf terkecil yang tertera pada lembar uang rupiah, tapi sekarang untuk membaca koranpun aku kesulitan. Karenanya sebagai pelampiasan rasa kecewaku, sepulang kantor, aku lebih banyak tidur dan hal ini berlangsung berbulan-bulan .

Tak terasa, saat ini telah hampir 2 tahun berlalu, meskipun tidak pulih seperti dahulu, kini aku benar-benar bersyukur kepada Tuhan Yesus. Berangsur-angsur kondisi mata kananku sudah lebih sempurna. Aku sudah bisa melihat huruf yang kecil, juga untuk membaca koran misalnya, tidak lagi mengalami kesulitan.

Aku banyak belajar dari pengalaman ini. Pertama, tidak selalu karya Tuhan dalam hidup kita bersifat instant, seperti susu formula bayi yang begitu dituangi air, diaduk, langsung jadi, tapi seringkali melalui proses panjang yang membutuhkan KESABARAN !. Kedua, Tuhan Yesus benar-benar telah menuntunku dalam mengambil resiko berobat kepada dokter dan rumah sakit yang tepat di Jakarta , karena apabila aku menuruti ke bimbangan ku berobat di Semarang , aku akan kehilangan kesempatan untuk mendapatkan kembali penglihatanku secara optimal. Di kemudian hari, aku baru tahu kalau penyakit ablasio retina hanya dapat disembuhkan dengan optimal, jika ditangani ( dioperasi ) tidak lebih dari 3 X 24 jam sejak pertama terjadi.


Categories

%d bloggers like this: