Posted by: gkikarangsaru | January 6, 2010

Tangan Yang Menjaga


Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku.

( Mazmur 23 : 4 )

Malam itu, aku benar – benar tak dapat tidur. Walaupun sudah kucoba berkali – kali memejamkan mata, tapi sedetikpun aku tidak dapat tertidur. Kurasakan, pinggang dan kaki kananku terasa nyeri sekali. Melihatku tak bisa tidur dan kesakitan, suamiku bangun dan untuk mengurangi rasa sakitku, dia memijat – mijat dan mengolesi kakiku dengan balsam. Akhirnya, hampir subuh aku baru bisa tertidur. Untunglah, setelah tertidur beberapa jam, aku merasakan tubuhku jauh lebih segar.

Sabtu pagi itu, karena aku sudah ada janji dengan ibu Herawati, untuk melakukan pendataan jemaat yang tinggal di sekitar Karangsaru dan Jagalan, maka kukesampingkan dulu rasa sakitku itu. Tak terasa, kami berjalan berkeliling dari pagi sampai jam 2 siang. Dan tentu saja, sebagai konsekuensinya, ketika aku pulang, kurasakan kembali sakit yang semalam kurasakan. Sempat tertidur sebentar di sore itu, aku terbangun karena sakit yang kurasakan semakin parah.

Malam itu, diantar oleh suamiku, aku memeriksakan diri ke dokter. Berdasar diagnosa dokter, kemungkinan besar aku terkena infeksi saluran kencing. Tetapi, walau begitu, perasaan bingung dan kuatir mulai muncul dalam hatiku, sakit apakah aku ini sebenarnya ? Sepulang dari dokter, rasa sakitku semakin bertambah. Dan bukan itu saja, rasa sakitku mulai menjalar ke perut. Aku merasakan perutku makin lama makin keras dan kembung. Rasa sakitku itu semakin bertambah – tambah, ketika aku mengubah posisi tidurku dari telentang ke posisi miring, dan begitu juga sebaliknya.

Melihat rasa sakit yang bertambah, suamiku kemudian memutuskan untuk membawaku ke rumah sakit terdekat. Aku yakin, Tuhan memang sudah mengatur semuanya. Kebetulan malam itu, adikku yang dari Solo, menginap di rumah kami. Jadi, ketika aku dibawa ke rumah sakit, ada yang menjaga anak sulungku yang masih kecil, Alvin, untuk tidur di rumah.

Aku sudah tidak kuat lagi berjalan saat itu. Bahkan untuk masuk ke UGD rumah sakit itupun aku terpaksa harus diangkat. Dari pemeriksaan darah malam itu, diketahui bahwa HB-ku ( kadar darah ) turun dan kemudian dokter memberikan obat untuk menaikkan HB. Menurut dokter, sumber penyakitku adalah turunnya HB itu, sedang kembung di perutku itu hanyalah kembung biasa saja. Setelah itu, dokter mempersilahkan kami pulang. Tentu saja kami bingung. Suamiku bahkan sempat sedikit ngeyel ,” Dok, istri saya untuk bisa masuk ke sini saja harus diangkat. Apakah tidak sebaiknya istri saya di rawat inap saja untuk dicari penyakitnya !”. Tapi dokter itu rupanya tak mau kalah ngeyel dan mengatakan bahwa penyakitku ini biasa – biasa saja dan tak ada yang perlu dikuatirkan. Jadi, aku disarankan untuk istirahat di rumah saja. Akhirnya, malam itu, sekitar pukul 2 pagi, kami pulang ke rumah.

Tapi ternyata, sesampainya di rumah, kondisiku malah semakin parah dan buruk. Kini, tidak saja perut terasa sakit dan kembung, tapi dadaku terasa nyeri sekali, seperti ditusuk – tusuk rasanya. Akupun sempat mengalami kejang – kejang. Tiap kali nyeri kurasakan di dadaku ini, aku menjerit dalam doaku kepada Tuhan, “Tuhan, tolong kuatkan aku ! Rasanya aku sudah tak tahan lagi !”. Aku tahu, saat itu aku berada di ambang batas kesadaranku. Berapa kali aku pingsan. Kebingungan makin melingkupi hatiku, “Tuhan, apa yang harus kami lakukan ? Tuhan, kemana kami harus pergi ? Kami sudah ke dokter, kami sudah ke rumah sakit, tetapi mengapa kondisiku makin parah seperti ini ?”. Aku hanya bisa bertahan dalam kesakitanku.

Sekitar jam setengah 6 pagi, aku menyadari bahwa bagian yang paling sakit adalah perutku. Oleh karenanya, aku jadi teringat seorang dokter spesialis penyakit dalam kenalan kami. Kebetulan hari itu hari Minggu, maka sepagi itu pastilah sang dokter sudah bangun untuk berangkat ke gereja. Setelah kami telepon, ternyata beliau mempersilahkan kami ke rumahnya jam 10 pagi, sepulang dari gereja. Itu berarti, masih 4 jam lebih aku harus menunggu dalam kesakitanku. “Tolong, Tuhan ! Tolonglah ! Kuatkan, kuatkanlah !”

Jam setengah 10 kami siap – siap berangkat ke dokter. Ketika tubuhku diangkat oleh suami dan adikku, aku merasakan kesakitan yang sangat. “Aduh, sakit sekali, turunkan ! Turunkan !”, jeritku. Adikku sempat bingung, tapi aku masih mendengar suamiku berkata dengan tegas “Diangkat, sakit ! Tidak diangkat, juga sakit. Kalau begitu, angkat terus ke mobil !”. Akhirnya, dengan diiringi dengan kesakitan dan jeritanku, aku dimasukkan ke dalam mobil dan berangkat ke rumah dokter.

Sampai di rumah dokter, ternyata beliau belum datang. Selama menunggu itu, aku sempat pingsan beberapa kali dalam mobil. Melihat kondisiku itu, ketika dokter itu datang, tanpa memegang dan memeriksaku, dokter berkata dengan terkejut,”Kondisinya sudah parah dan ini harus segera dibawa ke rumah sakit. Yang bisa kita lakukan sekarang, adalah memulihkan dulu kondisinya. Baru setelah itu, kita cari apa penyakitnya ?”

Berdasar surat pengantar dari dokter, aku segera dilarikan ke rumah sakit. Saat itu, baru diketahui bahwa Hb-ku sudah sampai mencapai angka 6 dan untuk itu aku harus mendapatkan transfusi darah. Tapi, puji Tuhan ! Tuhan menyediakan donor darah dari teman – teman seiman kami. Dan setelah ditransufsi sebanyak 4 botol, badan terasa lebih enak dan sakitnya agak berkurang.

Tapi, keterkejutan kami belum berakhir dan iman kami sekali lagi diuji !

Besok paginya, berdasar hasil USG, dokter menunjukkan bahwa aku mengalami hamil di luar kandungan dan darah sudah memenuhi seluruh rongga perutku, dikarenakan terjadinya pendarahan di dalam. Dan untuk itu, aku harus segera dioperasi !

Mendengar itu, aku merasa bingung dan tidak menyadari bahwa betapa berbahayanya hamil di luar kandungan, apalagi sampai mengalami pendarahan. Dokter itu kemudian menjelaskan apa yang terjadi pada diriku. Sesudah terjadinya pembuahan, sekitar 7 hari, seharusnya sel telur yang dibuahi sudah masuk ke rahim. Karena tidak masuk ke rahim, akhirnya mulai membesar dan menekan saluran telur. Akhirnya, saluran telur pecah sehingga terjadi pendarahan. Oleh karena itu, harus dilakukan operasi untuk mengambil indung dan saluran telur sebelah kananku.

Setelah aku menjalani operasi, aku merasakan badanku panas tinggi. Setelah diberi obat penurun panas, bahkan dikompres dengan es batu di dalam buli – buli, panasku turun. Tapi itu hanya bertahan sebentar. Panas badanku terasa naik lagi. Akhirnya, dokter menginstrusikan agar aku disuntik dan setelah itu, suhu tubuhku baru kembali nornal.

Di dalam proses kesembuhanku, ada 3 perkataan berkesan yang selalu aku ingat, yang diucapkan oleh orang – orang yang menengokku di rumah sakit. Yang pertama adalah perkataan Ibu Budi, seorang anggota GKI Genuk Indah, yang menjadi perawat di bagian ICU, “Bu Wiwik, banyak orang yang mengalami seperti yang ibu alami, tapi tidak tertolong nyawanya !”. Yang kedua adalah perkataan pak Hardy, “Bu wiwik itu orangnya kuat sekali. Mengalami sakit seperti itu, bisa bertahan”. Dan yang terakhir, adalah cerita dari ibu Darsono tentang teman sekerjanya yang mengalami hal yang sama denganku. Kebetulan dia sedang berpergian ke Jakarta dengan pesawat, dan ketika turun dari pesawat, dia merasakan sakit sekali sampai tidak bisa jalan. Setelah diperiksa, diketahui bahwa dia hamil di luar kandungan dan segera dioperasi. Sedangkan aku, aku masih kuat menahan kesakitan beberapa hari, sebelum dioperasi.

Mengingat apa yang terjadi 10 tahun yang lalu, maka melalui kesaksian ini, aku ingin menyaksikan bahwa kalau aku kuat menghadapi dan melewati ini semua, dari menahan sakit dari Jumat sampai Senin malam, dioperasi dan ditambah panas tinggi pasca operasi selama 2 hari, itu semua karena ada Tuhan di sampingku. Ada tangan Tuhan yang memberikan kekuatan yang luar biasa untuk melewati kesakitan yang luar biasa, bahkan melewati bahaya dan maut yang mengancam pada waktu itu. Sekalipun ketika aku tidak menyadari bahwa maut begitu dekat denganku waktu itu, namun Tuhan mengetahuinya. Dialah yang membimbingku melewati lembah bahaya maut.

Dan, jika ada yang mengatakan bahwa aku begitu kuat melewati semua itu, tentulah mereka melihat ada kekuatan yang diberikan Tuhan kepadaku untuk melalui semua itu. Tuhan mendengar dan mengabulkan semua rintihan dan teriakan minta tolong. Kekuatan daripada-Nya diberikan saat nyeri menusuk di dada dan kesakitan di sekitar perut oleh karena darah yang memenuhi di rongga perut hingga naik ke atas. Akupun bersyukur kepada Tuhan oleh karena Tuhan melindungi sehingga sekalipun darah sudah memenuhi rongga perut, namun tidak terjadi keracunan karenanya.

Saudaraku, melalui kesaksian ini, aku ingin menyaksikan bahwa ketika kita tidak tahu apa yang harus kita lakukan, kemana kita harus pergi, Tuhan mengetahuinya ! Tuhan sendirilah yang melingkupi dan menaungi dalam kasih dan kuasa serta kekuatan-Nya yang begitu nyata dan ajaib.

Sepulang dari rumah sakit, turun dari mobil, aku dituntun suamiku duduk di sofa. Di situ, hatiku terenyuh. Aku hanya bisa berdoa: “Tuhan, hari Sabtu dan Minggu, aku tidak mampu duduk. Namun sekarang boleh kembali pulang dan duduk di tempat ini dalam keadaan sembuh”. Ketika berbaring di tempat tidur, akupun menangis dan berkata: “Tuhan, Sabtu malam dan Minggu pagi di tempat tidur ini, aku tidak bisa berbuat apa-apa. Mengalami kesakitan yang luar biasa dan ada dalam bahaya yang tidak kusadari. Tapi saat ini, di tempat tidur yang sama, aku berbaring dalam keadaan selamat”.

Saudaraku, setelah apa yang kualami dalam bahaya maut 10 tahun yang lalu, aku mengetahui bahwa Tuhan menjagaku sedemikian rupa hingga aku masih diberi kesempatan untuk hidup. Itu adalah anugerah Tuhan semata-mata. Saya yakin dan percaya, dalam melewati badai gelora dalam kehidupan ini, pasti ada Tuhan dan ada tanganNya yang menjaga kita.

Badai gelora, gelombang kehidupan, bahaya dan maut mungkin ada di sekitar kita dan dekat dengan kita serta keluarga kita. Saat ini maupun yang akan datang, mungkin kita tidak menyadari dan tidak mengetahuinya. Yang penting, apakah kita sedang bersama dengan Tuhan. Di tangan siapakah kita berada ? Bila di tangan Tuhan, yakinlah dan percayalah : Tuhan melingkupi dan menaungi sedemikian rupa dengan kasih, kuasa serta kekuatan-Nya yang tidak terduga. Amin !


Categories

%d bloggers like this: