Posted by: gkikarangsaru | January 6, 2010

Tak Melebihi Kekuatan Manusia


Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.

( 1 Korintus 10 : 13 )

Saat gelombang percobaan datang melanda kehidupan kita, sering kita merasa takut dan cemas dengan apa yang akan terjadi selanjutnya dalam hidup dan rumah tangga kita. Terlebih, bila permasalahan yang menimpa kita itu datang bertubi – tubi, silih berganti, seakan tak berhenti dan pada akhirnya, membuat kita tak berdaya. Yang terbayang hanyalah ketidak-pastian, kegelisahan dan keputus-asaan. Jujur, aku pernah mengalami ketidak-berdayaan semacam ini.

Kejadiannya kurang lebih 4 tahun yang lalu, sekitar bulan Desember 2002. Sebenarnya, kehidupan  rumah tangga kami berjalan lancar – lancar saja. Meski usia sudah memasuki kepala 6, tapi aku masih bisa aktif bekerja, sehingga kebutuhan rumah tangga terpenuhi walaupun tidak melimpah. Saat itu kami sedang mempersiapkan pernikahan anak pertama kami yang akan berlangsung 3 bulan ke depan. Namun, tiba – tiba terjadi sesuatu yang tak menyenangkan pada diriku, dan serta merta membuyarkan angan- angan dan  rencana  yang telah kami susun.

Ceritanya begini. Kebetulan hari itu hari libur dan kebetulan kami tak punya acara keluar, sehingga aku bersantai saja di rumah bersama keluarga. Saat itulah, tanpa sengaja aku memperhatikan ada dinding  yang  nampak agak kusam catnya dan kurang enak dipandang mata. Mengingat pernikahan anak kami akan dilakukan 3 bulan lagi dan tentunya banyak sanak keluarga yang akan mampir ke rumah kami, maka aku pikir tidak salahnya aku mengecat dinding itu supaya kelihatan tampak bersih.

Setelah mempersiapkan cat dinding seperlunya, aku kemudian mengambil tangga bambu untuk mengecat dinding bagian atas terlebih dahulu. Ketika hampir sampai dipuncak tangga, dengan tak terduga tangga tersebut tergelincir dan bruk….aku terbanting ke lantai cukup keras dengan posisi tengkurap. Suara keras itu mengagetkan Istri dan anak bungsuku, yang dengan segera mereka datang menolongku. Saat aku terjatuh, aku masih dalam kondisi sadar. Jadi aku pikir, pasti hanya memar biasa. Tetapi, beberapa detik kemudian aku baru menyadari, bahwa ternyata aku tak dapat lagi menggerakkan kaki dan tangan kiriku.

Segera aku dibawa ke rumah sakit. Hasil foto rontgen menunjukkan aku mengalami retak tulang di pangkal bahu tangan kiri dan putus di tulang tungkai kaki kiri. Hari – hari berikutnya, aku hanya bisa tergeletak tak berdaya. Kalau mau berjalan aku harus meloncat – loncat dengan satu kaki dan untuk melakukan aktivitas di dalam rumah, istriku yang setia membantu dan melayaniku. Memang ada ide untuk menggunakan alat penyangga, tetapi hal itu tidak dapat aku lakukan, karena yang cidera semuanya adalah kaki dan tangan sebelah kiri. Untung kemudian ada ide lain, yaitu dengan menggunakan bangku yang diberi roda, sehingga dengan menjejakan kaki kananku aku bisa bergerak ke samping atau mundur. Walaupun tidak leluasa, hal ini sudah sangat membantuku bergerak.

Bukan hanya petaka ini yang mendatangkan kesedihan hatiku. Tiga hari kemudian, datang berita yang lebih mengejutkanku. Calon ‘besan’-ku atau calon mertua laki anakku yang akan menikah meninggal dunia karena sakit. Pukulan yang yang bertubi-tubi membuat seseorang tidak bisa berpikir. Kegundahanku bertambah, bagaimana dengan rencana pernikahan anakku ? Akankah ditunda ? Padahal persiapan sudah banyak dilakukan, termasuk gedung dan katering telah lama dipesan ! Dan kalaupun tetap dilaksanakan, bagaimana dengan diriku ? Sudahkah cideraku sembuh ? Ataukah aku hanya bisa menyaksikan di atas kursi roda ? Setelah melalui pembicaraan diantara keluarga, akhirnya diputuskan pernikahan tetap berjalan, namun hanya akan dilakukan kebaktian pemberkatan di gereja,  sedangkan rencana resepsi pernikahan dibatalkan.

Namun, ada lagi kecemasan dalam diriku yang lebih besar. Cidera memaksaku tak dapat berangkat lagi ke kantor, karena aku harus banyak istirahat di rumah. Berapa lama perusahaanku mau memberi toleransi waktu kepadaku untuk dapat bekerja lagi, mengingat usiaku yang sudah berkepala 6 ini ? Bukankah bagi perusahaan lebih baik untuk mencari penggantiku ? Mengingat tugas dan tanggung jawabku di keluarga masih banyak, bagaimana kalau aku harus berhenti bekerja ? Kalaupun aku ngotot ingin tetap bekerja, tetapi bagaimana ?

Dalam melalui hari-hariku selanjutnya, yang bisa aku lakukan bersama  istri dan anak – anakku hanyalah bergumul dalam doa, kiranya Tuhan memberi kami ketabahan, kekuatan dan semangat serta kebijakan dalam mengambil langkah – langkah dalam hidup ini.

Puji Tuhan ! Tuhan mau mendengar doa kami. Meski aku harus tetap dirumah, tetapi aku bisa kembali melakukan tugas –  tugas penting pekerjaanku, karena setiap hari ada rekan kantor yang mau mengantar berkas – berkas pekerjaan ke rumah. Meski dengan menahan sakit, aku tetap menulis dan menandatangani apa yang seharusnya kukerjakan. Rasa sakit itu muncul karena walaupun aku menulis dengan tangan kanan, tangan kiriku pun harus ikut menekan kertas diatas meja, padahal tanganku itu masih belum bisa sepenuhnya digerakan dengan bebas.

Sudah banyak obat yang kuminum, baik obat dokter maupun obat tradisional, namun setelah sebulan lewat cideraku belum juga pulih. Hasil foto rontgen belum menunjukkan adanya pertumbuhan tulang. Namun begitu, hasratku untuk masuk kantor tak kendur. Aku harus tetap bekerja, aku harus berusaha, dan aku harus cepat sembuh !

Di tengah segala ketakutan dan kekuatiranku, ada sebuah firman Tuhan yang menguatkanku : Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya. ( 1 Korintus 10 : 13 )

Rencana untuk kembali mengantor kuutarakan kepada keluarga dan mereka menyetujui dengan pesan aku harus hati – hati. Dua orang sopir kantor siap menjemputku bergantian. Walau begitu, untuk naik dan turun dari kendaraan aku masih harus dipapah sopir, yang dengan setia melayaniku. Masalah transportasi ke kantor beres, muncul masalah lain. Bagaimana aku bisa naik ke kantorku yang kebetulan ada di lantai 2 ? Kelihatanya tidak masuk akal, kalau aku harus meloncat – loncat dengan satu kaki menaiki anak tangga yang jumlahnya belasan itu untuk masuk kantorku. Akhirnya aku menemukan ide baru, aku membawa sebuah bangku plastik kecil (dingklik – Jawa) yang tingginya hanya 20 cm. Sampai dibawah tangga, kuletakkan bangku kecilku di anak tangga kedua. Selanjutnya, aku duduk dibangku itu dan kaki kanan kutarik keatas. Lalu, aku berdiri dan bangku aku naikan ke anak tangga berikutnya. Begitu seterusnya, sampai akhirnya aku bisa sampai d iatas. Walaupun agak susah, tetapi aku gembira karena Tuhan memberikanku kemampuan untuk tetap berpikir jernih. Dan ini aku lakukan selama beberapa hari.

Pada suatu hari, salah seorang sopir mengusulkan agar aku mau naik keatas dengan menggunakan lift barang. Lift itu berdinding kawat sehingga agak terbuka dan digunakan hanya untuk menaikkan dan menurunkan bahan untuk keperluan produksi. Karena  kurasa ini adalah ide yang baik, maka kami pun melakukannya. Dengan didampingi supir, aku duduk di kursi roda di atas lift yang mengangkat kami ke lantai 2. Liku – liku cara yang kami lakukan tetapi akhirnya aku bisa juga sampai diruang kerjaku. Aku berterima kasih kepada istriku yang selalu setia merawat dan melayaniku, juga kepada kedua orang sopir yang dengan setia  membantu. Puji Tuhan yang selalu memberiku jalan keluar, sehingga aku dapat mengatasi semua percobaan .

Masih ada satu kekuatiranku lagi. Apakah aku masih harus menggunakan kursi roda ketika anakku nanti menikah ? Tetapi, sekali lagi, Tuhan menunjukkan kasihNya kepada keluarga kami. Di hari pernikahan anak kami,  walau sedikit tertatih, aku dapat berjalan di samping istri mengiring anak kami menuju altar gereja. Terasa sedikit sakit memang, tapi tidak seberapa jika dibandingkan dengan kesukacitaan dan kepuasan batin yang aku dapatkan saat mengikuti acara pernikahan ini. Bahkan, masih cukup kuat kakiku untuk berdiri saat menerima ucapan selamat dari para tamu yang hadir seusai kebaktian.

Memang masih butuh beberapa bulan lagi untuk mengembalikan kaki dan tanganku yang cidera kembali berfungsi secara normal, tetapi dibalik peristiwa empat tahun itu, aku belajar bahwa aku tidak sendiri, juga pada saat dalam penderitaan. Tuhan bekerja sesuai rencanaNya, dan sungguh indah rencanaNya bagi hidup kami sekeluarga.

Hari ini, aku dapat berdiri dengan tegak menatap masa depan penuh kepastian. Dalam masa empat tahun terakhir penyertaan Tuhan begitu nyata didalam kehidupan rumah tangga kami. Dalam masa itu kami sudah dapat menuntaskan tugas dan tanggung jawab kami sebagai orang tua melepas ketiga anak kami untuk berumah tangga sendiri, sehingga tiada lagi rasa cemas yang menghantui. Dan sampai saat ini aku masih tetap aktif bekerja, aktif melayani Tuhan di Paduan Suara Eliatha dimana sejak masa remaja telah bergabung. Tuhanpun menambahkan kebahagiaan kami dengan menambahkan pada keluarga kami 4 cucu.

Usiaku makin bertambah dan mungkin aku harus berhenti bekerja karena telah melampaui usia pensiun. Itu bisa sewaktu waktu terjadi. Tetapi apa yang telah kualami, makin menguatkanku bahwa Tuhan tidak membiarkan anaknya dicobai melebihi kekuatannya, dan kami tahu dengan pasti bahwa rencana Tuhan indah bagi hidup kami sekelurga. Amin.

Dikirimkan oleh : Lukas Ferryanto I.


Categories

%d bloggers like this: