Posted by: gkikarangsaru | January 6, 2010

Tiada Yang Mustahil Bagi Tuhan !


Sebab Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sana, — maka gunung ini akan pindah, dan takkan ada yang mustahil bagimu.

( Matius 17 : 20 )

Aku tertegun, terdiam seribu bahasa. Tak satu patah katapun yang bisa kuucapkan.Pikiranku begitu kalut; dihatiku sekarang hanya tinggal rasa takut bercampur dengan cemas. Tanpa terasa air mata mulai membasahi pipiku.

Ya, baru saja aku membaca hasil diagnosis foto rontgen paru – paruku. Memang, beberapa hari terakhir ini aku selalu mengeluarkan dahak yang disertai dengan darah segar. Dan hasil diagnosis itulah yang membuatku terguncang. Walau aku tak begitu paham dengan istilah medis yang tertulis di hasil itu, tapi aku bisa menduga bahwa disitu tertulis kalau aku didiagnosa mengidap penyakit kanker paru – paru. Aku sendiripun bingung, bagaimana aku bisa terkena penyakit ini, karena aku sendiri bukanlah seorang perokok dan aku yakin gaya hidupku juga sehat.

Di tengah kegalauan hatiku itu, aku segera menghubungi dokter spesialisku dan beberapa saat kemudian aku bersama dengan istriku sudah berada di ruang praktek dokter itu.

Dokter membaca hasil diagnosis itu dengan serius dan terdiam cukup lama. Kurasakan ada keraguan yang dalam, sebelum sang Dokter berkata memecah keheningan “Ini flek paru – paru !”

Sebenarnya jawaban itu agak melegakanku, tapi rasa penasaranku ternyata lebih besar. “Dok, dari pengalaman dokter, berapa lama seseorang dapat bertahan hidup, ketika terserang flek paru – paru seperti saya ini ?”

“Wah, itu tidak mesti ! Ada yang hanya kuat 3 bulan, ada yang 6 bulan, tapi paling lama kira – kira hanya 1 tahun !” jawab sang Dokter.

Jantungku berdebar keras mendengar jawaban ini. Itu berarti hidupku tak akan lama lagi. Tapi kurasakan masih ada yang disembunyikan oleh dokter itu “Dok, sebenarnya apa yang saya alami ini, Dok ?”

Sang Dokter tampak ragu – ragu kembali, sebelum kemudian bertanya balik “Anda siap mendengarnya, Pak Andrew ?”

Tanpa dikomando, saya dan istri saya menjawab dengan serempak “Siap, Dokter !”

Dengan hati – hati, sang Dokter melanjutkan “Saya minta maaf terlebih dahulu. Beberapa pasien saya langsung pingsan, setelah saya mengatakan hal ini. Saya tidak mau Pak Andrew jatuh pingsan di tempat ini. Tapi baiklah, jika anda memaksa, saya katakan yang sebenarnya !”

Tampak sang Dokter menghela napas panjang sebelum mengatakan dengan hati – hati “Pak Andrew, anda terkena kanker paru – paru !”

Ya, Tuhan ! Ternyata memang benar dugaanku. Ditengah rasa putus asaku, aku masih berharap ada jalan keluar yang bisa kutemukan. “Apakah penyakit ini bisa disembuhkan, Dok ?”

Dengan wajah pasrah, sang Dokter menjawab “Sayangnya, sampai sekarang penyakit ini belum ada obatnya. Mungkin kita bisa melakukan biopsi untuk memastikan apakah itu benar – benar kanker ataupun kemoterapi, tetapi saya rasa itu kurang ada gunanya !”

“Lalu berapa lama saya dapat bertahan, Dok ?”

“Maaf, Pak Andrew, saya tidak dapat memastikan !”

Akhirnya, karena aku tidak mau dibiopsi ataupun kemoterapi, maka Dokter memberikan 12 macam obat yang harus aku minum. Walau demikian, tak satupun dari obat – obat itu adalah obat kanker; obat – obat itu hanyalah untuk menghilangkan rasa nyeri dan sebenarnya digunakan untuk mengobatai penyakit flek paru – paru.

Setelah mendengar vonis dokter ini, rasa cemas dan putus asa mulai merasuki hidupku, dan juga keluargaku. Kami tahu, umurku sudah tidak akan lama lagi dan Tuhan dapat memanggil aku pulang ke surga, kapanpun Tuhan mau.

“Tuhan, mengapa ini semua terjadi padaku ?”

Ya, kelihatannya hidup tampak begitu kejam padaku. Masalah demi masalah, sepertinya susul menyusul menerpa kehidupan kami sekeluarga.

Beberapa bulan sebelumnya, aku baru saja kehilangan tempat usahaku. Ya, tempat usahaku ludes terbakar ! Untung, masih ada bagian yang belum ikut terbakar. Kemudian, dengan tekad membara aku menyiapkan dan membeli peralatan baru untuk memulai usahaku kembali. Baru saja aku memulai lagi usahaku itu, tempat usahaku terbakar untuk kedua kalinya ! Kali ini, semuanya bener – bener ludes terbakar ! Dan, sekarang aku harus menerima vonis kalau aku mengidap kanker paru – paru. Oh, Tuhan, apa salahku !

Tapi, jauh di dalam lubuk hatiku masih ada sebuah keyakinan “Kalau Tuhan masih meluputkan banyak orang dari bencana Tsunami di Aceh ( saat itu memang bertepatan dengan bencana Tsunami Aceh – Red ), kalau Tuhan menghendaki, maka Tuhanpun dapat menyembuhkan aku dari ribuan orang yang terserang kanker !”

Dengan keyakinan inilah, aku mulai menjalani kehidupanku selanjutnya. Aku rajin meminum obat yang diberikan dokter ( walau aku tahu obat – obat itu tidak dapat menyembuhkan kankerku ). Aku dan keluarga juga rajin mencari informasi alternatif obat – obatan yang mungkin dapat menyembuhkanku. Walau begitu, aku tidak mau mencari pengobatan alternatif yang bertentangan dengan imanku, karena aku yakin, jikalau Tuhan menghendaki, pasti aku sembuh !

Selain itu, aku juga rajin mengikuti kebaktian dan KKR penyembuhan yang diselenggarakan oleh beberapa gereja. Namun, Tuhan rupanya belum mengulurkan tanganNya untuk menyembuhkanku.

Sementara itu, tubuhku semakin lama semakin lemah. Walaupun tidak sering, tapi kadang – kadang aku masih batuk sambil mengeluarkan darah. Lidahku mulai mati rasa, sehingga aku tidak dapat merasakan nikmatnya makanan yang masuk ke mulutku. Betis kaki kananku juga mulai mati rasa. Tuhan, sampai kapan aku dapat menahan ini semua ?

Di tengah pengharapan akan kesembuhkanku, tiba – tiba istriku mendapat informasi tentang adanya seorang hamba Tuhan yang sering mendoakan orang sakit dan sembuh. Ketika aku mendengar ini dari istriku, hati kecilku mengatakan bahwa Tuhan akan bekerja melalui hambanya ini. Karena itu, aku ingin mencoba untuk menghubungi beliau. Sayangnya, hamba Tuhan ini bertempat tinggal di luar pulau Jawa.

Dengan semangat yang menggebu, dan setelah tanya sana – sini, akhirnya kami bisa menemukan nomor teleponnya. Betapa kagetnya beliau, ketika aku menelponnya. Setelah berbasa – basi sebentar, aku mengutarakan permasalahanku dan tentang penyakitku. Hamba Tuhan ini akhirnya mendoakan saya.

Dalam beberapa minggu selanjutnya, aku sering berhubungan melalui telepon dengan Hamba Tuhan tersebut untuk mendoakan dan menguatkan imanku. Dalam setiap doaku itu, aku beriman kalau Tuhan menghendaki, maka penyakitku akan sembuh. Walau begitu, aku tidak merasakan apa – apa terjadi dengan penyakitku. Dan semua terasa biasa – biasa saja, sampai suatu hari Hamba Tuhan itu mengatakan sesuatu yang mengagetkanku, “Bapak sudah sembuh !”

Rupa – rupanya sang Hamba Tuhan tersebut mendapat penglihatan, bahwa Tuhan telah bekerja di dalamku dan menyembuhkanku. Percaya tidak percaya, tapi bercampur dengan rasa senang dan penuh harapan, aku kemudian kembali ke dokter spesialisku dan minta rujukan agar dapat difoto rontgen lagi. Ternyata, hasil rontgen ini lebih mengagetkan : tidak ditemukan kanker lagi dalam paru – paru-ku ! Puji Tuhan ! Tuhan telah menyembuhkanku !

Tapi, tidak seperti dugaanku, ternyata ceritaku tidak berhenti sampai disini. Rupanya Iblis tidak mau tinggal diam, ketika Tuhan bekerja dalam kehidupan kita ! Kurang lebih sebulan setelah dinyatakan bebas dari kanker paru – paru, tiba – tiba aku mulai muntah darah segar lagi, bahkan lebih banyak dan lebih parah dari yang pernah kualami sebelumnya. Mengapa Tuhan, setelah Engkau memberikan kesembuhan, kini seakan Engkau mencabut lagi kesembuhan itu dari padaku ?

Aku dan keluargaku benar – benar terguncang dan putus asa atas keadaanku ini. Hampir kering air mata ini untuk menangis. Akupun merasa tidak ada lagi yang dapat diharapkan dari hidupku ini dan aku tahu, umurku pasti tidak akan lama lagi. Bahkan sempat terlintas dalam benakku, untuk menghubungi pemakaman Gotong Royong Ambarawa untuk mempersiapkan pemakamanku sendiri !

Di tengah segala kegalauan dan keguncangan iman kami, aku teringat akan Hamba Tuhan yang telah mendoakan aku sebelumnya. Aku hubungi beliau kembali dan minta didoakan atas kondisi penyakitku ini. Tapi apa yang dikatakan oleh beliau benar – benar di luar dugaanku : penyakitku disebabkan ada roh jahat yang sedang menganggu dan ingin menghancurkan hidupku ! Lebih mengagetkan lagi, roh jahat pengganggu itu bukan ada di dalam rumahku ataupun dalam barang – barang yang aku miliki, tetapi ada di dalam tubuhku !

Aku benar – benar kaget dan hampir – hampir tidak mempercayai apa yang aku dengar. Bagaimana mungkin roh jahat dapat masuk kedalam tubuhku ? Walaupun saat itu aku ini termasuk golongan Kristen KTP, tapi tidak pernah sekalipun dalam hidupku, aku bermain – main ataupun berhubungan dengan kuasa gelap. Lalu, bagaimana roh jahat itu bisa masuk ke dalam tubuhku ? Ya, Tuhan, cobaan apa lagi yang Engkau timpakan kepadaku !

Kami terus berdoa, dan puji Tuhan, penyakitku mulai mereda. Muntah darahku mulai berkurang.

Beberapa waktu kemudian, Hamba Tuhan ini bersama istri dan seorang rekan melakukan pelayanan ke kota Semarang, dan bersedia melewatkan waktu untuk mengunjungi dan menginap di rumah kami selama beberapa hari. Selama menginap di rumah kami, setiap malam Hamba Tuhan ini selalu mengajak kami sekeluarga untuk bersekutu di dalam doa dan pujian.

Hari pertama tidak terjadi kejadian apa – apa. Tapi pada hari kedua, terjadi peristiwa yang mencengangkan ketika kami sedang berdoa dan memuji Tuhan. Seorang rekan yang datang bersama Hamba Tuhan itu, katakan namanya Wanda, tiba – tiba tubuhnya seperti kerasukan setan. Tapi walau begitu, dia sebenarnya dia bukan kerasukan, karena dia sadar akan apa yang terjadi pada dirinya. Dan dengan mata melotot, tangan Wanda terus menunjuk – nunjuk ke arahku. Terus terang, aku jadi gemetar dan takut melihat kejadian itu. Hamba Tuhan itu menjelaskan, bahwa tubuh Wanda dimasuki oleh roh jahat yang ada di tubuhku dan kalau dia menunjuk ke arahku, sebenarnya roh jahat itu ingin mengatakan bahwa aku ini adalah sahabatnya ! Bertambah merinding bulu kudukku !

Kami terus bersekutu dalam doa dan pujian kami. Aku bersungguh – sungguh dalam doa dan menutupkan mata, sehingga aku tidak melihat apa yang terjadi selanjutnya. Aku hanya mendengar bunyi gedebak – gedebuk di sekitar kami dan aku tahu Hamba Tuhan itu sedang berusaha mengusir roh jahat, tidak saja dari tubuhku, tapi dari rumah dan kehidupan kami. Setelah beberapa saat, akhirnya roh jahat itu dapat dikalahkan dan diusir.

Tidak pernah aku merasakan kejadian yang menegangkan dan mencengangkan seperti itu. Tapi yang aku tahu sekarang, Tuhan telah melepaskan aku dari genggaman roh jahat dalam hidupku. Pada hari – hari selanjutnya, ketika kami kembali bersekutu dalam doa dan pujian, aku juga meminta, kalau Tuhan menghendaki, agar aku disembukan dari penyakit asmaku yang merupakan penyakit turunan dan kepahitan hidup yang terjadi pada anak bungsuku. Puji Tuhan, ternyata Dia sungguh Tuhan yang hidup dan Tuhan mengabulkan permintaan-permintaanku itu.

Tapi, masih ada sebersit ketakutanku : bagaimana kalau roh jahat itu datang lagi ke rumahku dan membawa teman – teman mereka ? Dengan sabar, Hamba Tuhan itu menjelaskan, jika kita mau hidup tekun dalam doa dan firman Allah, maka roh jahat akan takut dan tidak berani menganggu kehidupan kita.

Kata – kata terakhir inilah yang kemudian mengubah kehidupan rohaniku selanjutnya. Aku yang dulunya malas berdoa dan jarang membaca Alkitab, kini aku menyediakan waktu untuk bersaat teduh dan membaca firman Tuhan. Jika sebelumnya, aku datang ke kebaktian gereja sebagai rutinitas kristiani belaka ( bahkan kerap, saat firman disampaikan, pikiranku melayang kemana – mana ), kini bersungguh – sungguh untuk berbakti kepada Tuhan.

Terlebih dari itu semua, aku berjanji akan menceritakan kasih dan karuniaNya yang begitu indah dan luar biasa, yang membuat aku dapat menjalani kehidupanku sampai pada hari ini, kepada semua orang, agar mereka juga melihat Tuhan dalam kehidupan mereka. Amin !

Diceritakan oleh : Andrew Gunawan.


Categories

%d bloggers like this: