Posted by: gkikarangsaru | January 6, 2010

Kesetiaan Yang Menyembuhkan


Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya,

selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!

( Ratapan 3 : 22 – 23 )

Sewaktu aku muda, aku terkenal sebagai seorang ‘atlet’ di sekolahku. Bukannya sombong, tetapi memang aku mengusai berbagai cabang olahraga, dari atletik, basket, bola volley, sampai dengan tenis meja. Bahkan, di lapangan aku boleh dikatakan sebagai idola, apalagi ditambah dengan postur tubuhku yang atletis dan wajahku yang tampan.

Tetapi, setelah menikah dan bekerja, rasanya waktuku berolahraga semakin sempit saja. Tuntutan hidup untuk memenuhi kebutuhan keluargaku, memaksaku bekerja hingga larut malam. Bahkan, tak jarang perusahan di mana aku bekerja menugaskan aku ke luar kota, sehingga lingkungan yang berbeda membuatku jauh dari olahraga. Pada mulanya, sepulang kerja, aku masih menyempatkan diri untuk berolahraga. Tapi lama – kelamaan semangatku berolahraga akhirnya padam juga.

Berpuluh tahun berlalu sudah, dan olahraga benar – benar nyaris kutinggalkan. Tubuhku yang semula  tegap dan kekar, berangsur – angsur mulai layu. Rasa lemas dan kantuk mulai menghinggapiku setiap hari. Rasa haus membuat tenggorakanku terasa kering. Gairah sexku juga menurun. Suara istriku yang mengingatkanku untuk segera memeriksakan diri ke dokter, tak aku hiraukan. Dalam benakku, aku yakin bahwa ‘aku masih seperti yang dulu’, walaupun aku tahu bahwa ibuku adalah pengidap penyakit gula ( Diabetes Melitus – DM ),  suatu penyakit keturunan yang menakutkan. Masih teringat di otakku, betapa ngerinya penyakit ini, saat aku menyaksikan jasad ibuku melepuh disertai dengan keluarnya darah dari lubang hidung dan telinga, akibat pembulah darah yang pecah. Walau demikian, aku mengabaikan tanda – tanda yang aku rasakan ini.

Lama kelamaan tubuhku makin lemah. Tak ada lagi semangat dan gairah dalam hidupku. Tetapi rasa percaya diri yang kuat membuatku bertahan.

Akhirnya, tibalah hari yang tak pernah kuduga itu benar – benar datang dalam kehidupanku. Pagi itu, 22 April 2003, aku keluar dengan mengemudikan mobilku sendiri. Sewaktu aku keluar dari tempatku bekerja, mendadak aku merasakan gelap gulita disekelilingku. Akupun hampir jatuh. Aku berdiam diri sejenak, “butakah aku ?”. Aku mencoba bertahan beberapa saat, sampai akhirnya aku bisa melihat lagi. Aku berteriak minta tolong, sambil memberikan nomor telepon rumahku, dengan tujuan agar istriku segera datang menjemputku. Selama menunggu, peluh bercucuran di sekujur tubuhku. Saat itu, aku mulai merasakan bagian tubuh sebelah kanan sulit untuk digerakkan, sementara lidahku terasa kaku.

Aku segera dilarikan ke rumah sakit dan melihat kegawatan yang ada pada diriku, dokterpun segera memutuskan untuk melakukan pemeriksaan CT-Scan. Dengan penuh rasa was – was, istriku setia menungguiku sambil terus berdoa, menyerahkan apapun yang terjadi ke dalam tangan Tuhan.

Betapa terkejutnya dokter setelah melihat hasil CT-Scan. Hampir semua pembuluh darah di otakku tersumbat ! Dari diagnosa dokter itu, aku baru tahu kalau aku terserang ‘stroke’ yang diakibatkan oleh penyakit ‘Diabetes Melitus’. Diabetes ini menyebabkan darah menggumpal dan menyumbat seluruh jaringan otakku. Akibatnya, syaraf sensorik dan motorikku pun mengalami gangguan. Daya ingatku pun nyaris tak berfungsi. Bahkan aku sampai lupa mengenali anakku sendiri ! Kekakuan pada bagian tubuh sebelah kanan dengan pangkal lengan yang ‘terkunci’ menyebabkan aku sulit bergerak. Ditambah lagi dengan syaraf bagian leher yang kaku, membuatku tak bisa lagi makan dan minum. Lengkaplah sudah penyakitku ini !

Sebagai tindak lanjut atas kondisiku ini, aku kemudian di rawat di ruang ICU. Dokter kemudian memanggil istriku dan menjelaskan bahwa harapanku untuk tetap bertahan hidup sangatlah tipis. Mendengar ini, menangislah istriku sejadi – jadinya. Tetapi sebagai seorang beriman, dia mencoba untuk tetap tabah dan tegar. Bagaimanapun kondisiku, Tuhan pasti memberikan yang terbaik. Dan di tengah keputus-asaannya, mengalirlah dukungan doa dari saudara dan teman – teman, yang meneguhkan imannya. Anak – anakkupun yang berada di luar kotapun pulang ke Semarang untuk bersama – sama berbagi rasa di dalam menanggung kesedihan.

Sebulan lebih aku dirawat di rumah sakit. Aku yang semula tegap dan perkasa menjadi lunglai tak berdaya. Untuk berdiri aku tak sanggup lagi, apalagi untuk berjalan ! Sementara kami menyerahkan seluruh kehidupan kami di tanganNya yang memiliki kehidupan ini, kami tetap berusaha dengan tekun dan sungguh – sungguh mengikuti semua petunjuk dokter untuk memulihkan kesehatanku, mulai dari minum obat, nutrisi makanan, vitamin, sampai latihan fisioterapi. Demikianlah hari – hariku, hingga keadaanku berangsur membaik dan akhirnya, walau keadaanku masih lemah, aku diijinkan pulang ke rumah.

Aku menyadari, ‘stroke’ adalah penyakit yang membutuhkan ketekunan dan kesabaran dalam proses pemulihannya, selain tentu saja, menghabiskan dana yang cukup besar. Di dalam segala ketidak berdayaanku, aku tetap bersyukur atas kehidupan yang masih dapat kujalani, terutama atas istri yang setia di sampingku, yang selalu dengan tulus dan sabar dalam melayaniku. Kesetiaan inilah yang selalu membesarkan hatiku. Setiap pagi, tak jemu – jemunya ia melatihku untuk berjalan dan menggerakkan tanganku menggunakan alat bantu. Dengan setia pula, ia mengantarku periksa ke dokter, selain juga membawaku ke ahli tusuk jarum, pijak refleksi, terapi dan pengobatan lainnya.

Dalam waktu setahun, atas berkat Tuhan, akhirnya perjuangan kami akhirnya membuahkan hasil. Aku sudah dapat berjalan, walau masih tertatih – tatih, bahkan aku sudah makan dan minum sendiri. Untuk urusan ke belakangpun aku sudah tidak perlu dibantu lagi.

Dan hari ini, kira – kira sudah 3 tahun itu semua terjadi. Meskipun keadaanku belum pulih total, tetapi aku sudah tidak perlu merepotkan orang lain. Penampilanku segar bugar, sedikitpun aku tak tampak sebagai pengidap “Diabetes Melitus”.

Betapa bahagianya aku, dan aku menyadari, bahwa aku memiliki Tuhan yang selalu menjaga dan memeliharaku. Tuhan selalu memperhatikan kehidupanku dan aku yakin, Tuhan tidak akan menguji melebihi kemampuanku. Kehidupan mungkin memaksaku menyusuri jalan yang berliku – liku dan tak rata, tetapi aku memiliki jaminan bahwa Tuhan penciptaku, selalu besertaku. Tuhan memperhatikan aku dengan seksama, menjagaku dengan tanganNya yang perkasa, mencurahkan kasihNya yang tak terbatas. Sungguh, Dia itu Tuhan yang setia !

Dikirimkan oleh : Jonathan Indrawan T.L


Categories

%d bloggers like this: