Posted by: gkikarangsaru | January 6, 2010

Jalan Yang Tak Terduga !


Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN.

( Yesaya 55 : 8 )

Kuterdiam. Tak ada satu katapun yang dapat kuucapkan. Sekali – kali kugigit bibirku, menahan tangis yang makin lama makin tak dapat kutahan. Di hatiku yang ada tinggallah kesedihan bercampur dengan kekecewaan sekaligus kegelisahan yang tak terkatakan.

Di hadapanku, dokter masih saja sibuk memeriksa perutku dengan USG-nya untuk memastikan lagi hasil pengamatannya sebelumnya. Beberapa saat kemudian, akhirnya dia berhenti dan memandangku dengan sedih, “Saya tidak lagi menemukan detak jantung bayi ibu. Kemungkinan besar bayi ibu telah mati !”

Mati ? Bayiku mati ? Aku seakan tidak mempercayai apa yang aku dengar. Padahal, beberapa hari yang lalu aku rasakan bahwa bayi dalam kandunganku itu masih bergerak – gerak. Tapi mengapa sekarang dia harus mati ?

Ingatanku melayang – layang kembali ke hari dimana aku dan suamiku pertama kalinya menyadari bahwa aku hamil. Yah, dalam umur pernikahan kami yang baru 1 bulan, Tuhan telah memberi kepercayaan kepada kami berdua untuk menjadi orang tua. Dan, kami yakin, tentulah ini kado Tuhan buat pernikahan kami, setelah hari – hari yang berat menjelang pernikahan kami .

Memang dalam perjalanan waktu selanjutnya, aku sempat mengalami flek – flek dan harus beristirahat total ( bed-rest ) selama beberapa hari. Mungkin ini disebabkan karena kesibukanku sebagai guru TK, sekaligus guru les bahasa Inggris. Walau begitu, setelah diberi obat penguat dan banyak beristirahat, dokter menyatakan bayi dalam kandunganku dalam kondisi sehat. Detak jantungnya terdengar normal. Ketika kandunganku semakin besar, kurasakan beberapa kali bayi dalam perutku ini menendangku. Aduh, betapa nakalnya anakku ini ! Tapi, aku bahagia, karena sebentar lagi aku akan menjadi ibu !

Dan sebenarnya kunjunganku ke dokter hari itu hanyalah sebagai pemeriksaan rutin biasa. Tidak ada dalam pikiranku hal yang macam – macam, karena aku merasakan semuanya berjalan normal – normal saja. Kini, dalam usia kehamilan 24 minggu, aku mendengar vonis dokter yang menghancurkan harapan dan impianku. Dan, kekuatiranku semakin bertambah ketika dokter menjelaskan bahwa bayi ini akan dilahirkan secara normal dengan cara dipacu. Melahirkan ? Walaupun terus terang, aku sudah ingin melahirkan, tapi aku belum siap untuk melakukannya, apalagi ini merupakan pengalamanku yang pertama. Terbersit pertanyaan dalam hatiku, bagaimana caranya pula aku bisa melahirkan bayiku jika dia sudah mati ?

Dokter mempersilahkan aku pulang dulu untuk mempersiapkan segala sesuatunya. Dengan hati yang hancur dan bingung, kutelepon suamiku yang saat itu kebetulan berada di luar kota. Aku tahu dan yakin, bahwa dia saat itu juga mengalami ketakutan dan kebingungan sama denganku.

Siang itu juga, suamiku pulang. Kepulangannya sedikit banyak menguatkan hatiku. Kami sempat menangis bersama, karena kami merasakan kehilangan apa yang telah kami impikan selama ini. Tapi terlebih dari itu, kami merasa takut dengan apa yang akan terjadi selanjutnya dengan proses persalinanku. Aku ingat suamiku mengatakan satu hal yang penting, “Sekarang kita tidak tahu apa yang sedang terjadi di dalam hidup kita. Tapi, Tuhan pasti punya rencana di dalamnya !”

Malam itu, kami sempat ke dokter lain untuk memastikan apakah masih ada harapan dengan bayi kami, tapi hasil pemeriksaan menunjukkan hal yang sama. Oleh karena itu, keesokan harinya, diantar oleh suami, ibu dan mertuaku, kami berangkat ke rumah sakit, dengan ketidaktahuan dan kegelisahan tentang apa yang harus kualami selanjutnya. Selanjutnya, aku ditempatkan di ruang observasi dan diberikan 2 butir obat pemacu, dengan harapan pada sore atau malam hari aku sudah dapat melahirkan.

Dalam masa – masa penantian yang menegangkan dan penuh kekuatiran itu, aku merasakan ada hal yang indah yang Tuhan berikan kepadaku. Entah dari mana kabar tentang kematian bayiku menyebar, tapi silih berganti teman – teman seiman, baik dari gereja atapun guru – guru, datang menjengukku, memberi kekuatan dan mendoakanku. Terima kasih, Tuhan ! Engkau telah mengirim malaikat – malaikatMu untuk menemaniku di tengah – tengah rasa kuatirku !

Obat pemacu yang diberikan kepadaku itu menimbulkan efek mulas pada perutku, tapi sepanjang hari itu aku coba menahan rasa sakitnya. Walau begitu, sampai sore bahkan malam harinya, belum ada tanda – tanda aku akan melahirkan. Oleh karena itu, atas intruksi dokter, maka perawat memberiku 2 butir obat pemacu lagi yang harus aku minum.

Efeknya sungguh luar biasa ! Makin malam makin sakit perutku. Puncak kesakitanku kurasakan sekitar jam setengah tiga pagi. Kubangunkan suamiku, yang mungkin karena kecapaian dan seharian penuh ketegangan, ketiduran didekatku. Dengan tergopoh – gopoh dia bangun dan kemudian mencari ( dan membangunkan ) perawat yang ada, yang ternyata juga ketiduran. Segera kuperiksa dan dipastikan bahwa memang inilah saatnya untuk melahirkan.

Beberapa saat kemudian, aku sudah berada di ruang bersalin. Disampingku ada mami yang mendampingku di ruang ini, sementara suamiku dipersilahkan oleh perawat untuk menunggu di luar. Berada di ruang ini, aku masih tidak tahu apa yang akan terjadi kepadaku, termasuk bagaimana bayi itu akan dikeluarkan dari kandunganku. Yang bisa aku lakukan adalah menyerahkan apa yang terjadi selanjutnya ke dalam tangan Tuhan. Beberapa menit kemudian dokter telah datang dan segera dimulailah proses persalinanku.

Lima sampai sepuluh menit berikutnya merupakan masa – masa yang paling menegangkan dalam hidupku. Aku harus mengejan sekuat tenaga, sampai akhirnya bayi itu dapat dilahirkan. Aku tak pernah sempat melihat bagaimana rupa bayiku itu. Tapi yang kutahu, bayiku itu perempuan dan sekarang dia sudah bersama Bapa di surga !

Keesokan paginya, bertempat di ruang perawatanku yang kebetulan kosong, diadakan persekutuan doa untuk mengawali proses kremasi atas bayiku. Sekali lagi, kami merasakan kepedulian dari teman – teman kami. Ada sekitar 50 orang yang menyempatkan diri dan memenuhi tempat itu untuk mendukung dan mendoakan kami. Karena kondisiku masih lemah, maka aku tidak mengikuti acara kremasi selanjutnya di Kedungmundu.

Sebenarnya, pada mulanya kami sepakat tidak menamai bayi ini, supaya kami tidak lagi mengingat kejadian yang menyakitkan ini. Tapi, akhirnya kami merasa, bagaimanapun juga bayi ini telah menjadi bagian hidup kami dan bagian rencana Tuhan dalam hidup kami. Kami menamainya “Immanuella”, untuk mengingat bahwa Tuhan tetaplah bersama kami, di dalam segala kesedihan dan ketakutan kami.

Setelah kejadian itu berlalu, masih ada satu pertanyaan lagi di dalam hatiku. Menunggu berapa lama aku dapat hamil lagi ? Tapi, ternyata Tuhan tidak membiarkan kami menunggu kami terlalu lama. Enam bulan kemudian aku hamil lagi. Mengingat pengalaman kami sebelumnya, kami sekarang lebih hati – hati dan menyerahkan calon anak kami kepada Tuhan. Sempat juga aku mengalami flek dan harus beristirahat total, bahkan pernah juga Hb-ku turun, tapi akhirnya anak kami ini lahir juga dengan selamat, walaupun harus dilahirkan dengan cara operasi cesar. Untuk itulah kami menamai anak kami ini “Ebenhaezer”, untuk mengingatkan kami bahwa jika akhirnya kami memiliki anak, itu semua karena pertolongan dan penyertaan Tuhan.

Pengalaman ini membuatku melihat bahwa rencana Tuhan tidaklah sama dengan rencana kita dan jalan Tuhan tidaklah sama dengan jalan kita. Apa yang kita rencanakan dan yang kita anggap baik, belum tentu itu sesuai dengan jalan dan kehendak Tuhan. Oleh karena itulah, akan ada banyak jalan yang kita tidak duga akan terjadi dalam hidup kita. Tapi, percayalah, apapun jalan dan rencana yang Tuhan sediakan dalam hidup kita, itu semua mendatangkan kebaikan bagi kita anak – anakNya. Amin !

Ditulis berdasar kesaksian : Virgilia Z


Categories

%d bloggers like this: