Posted by: gkikarangsaru | January 6, 2010

Jadilah Kehendak-Mu !


Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.

( Yeremia 29 : 11 )

Senin pagi di akhir bulan April 2004, kami bangun pagi dengan perasaan berdebar. Julia menunjukkan sebuah kertas kecil seukuran tusuk gigi dengan garis merah dua buah di ujungnya. Setelah kami baca petunjuk, ternyata itu adalah tanda positif dari suatu kehamilan. Wow, betapa senangnya hati kami ! Akhirnya setelah 8 bulan menikah, kami mendapat kesempatan untuk mendapat ‘momongan’. Jadi inilah penyebab beberapa hari ini perut Julia terasa ‘mules’ dan agak aneh rasanya. “Terima kasih Tuhan untuk anugerah ini” kami berdua sujud berdoa bersyukur untuk karuniaNya.

Berkat atau musibah

Pagi itu kami berencana akan ke dokter untuk melakukan pengecekan lebih lanjut. Siang itu sekitar pukul 10.00, saya sempatkan untuk ijin dari pekerjaan dan menjemput Julia untuk pergi ke sebuah rumah sakit bersalin di dekat rumah kami yang berada di Kawasan Kelapa Gading, Jakarta. Memang hal yang unik dan menyenangkan pergi ke dokter kandungan untuk yang pertama kali bersama dengan istri, ada perasaan cemas dan gembira bercampur menjadi satu.

Setengah jam kami menunggu, sampai tiba giliran kami berdua untuk masuk. Dengan sedikit kikuk Julia menjalani pemeriksaan Maklum, baru pertama kali bertemu dokter kandungan. Hampir setengah jam lamanya dokter melakukan pemeriksaan USG dan tak terduga, dokter mengeluarkan pernyataan yang asing bagi saya, “Istri anda hamil 5 minggu, terlihat kondisi kantung kandungan dan bakal janin dalam keadaan baik, HANYA…. nampak ada Mioma sebesar 2 cm di sebelah bakal janin istri anda.”

Kami tersentak, apa itu Mioma? Apa efeknya pada kehamilan? Bagaimana kondisi bayi jika ada Mioma? Hampir meledak perasaan kami dilanda kecemasan. Dan setengah jam berikutnya kami terlibat diskusi tentang Mioma dan efek sampingnya. Yang kami tahu sebagai orang awam adalah (1) Jika Mioma berkembang lebih besar karena efek hormonal maka janin akan gugur, (2) Jika Mioma dan janin berkembang bersama maka tergantung kekuatan janin; jika kuat maka akan bertahan, jika tidak kuat maka akan gugur, (3) Jika Mioma tidak berkembang, maka janin akan selamat. Dokter mencoba memberi penghiburan kepada kami, bahwa itu masalah biasa dalam kehamilan dan menganjurkan agar minggu depan untuk datang lagi supaya dapat dilihat perkembangannya.

Kami keluar dari rumah sakit dengan perasaan galau dan sedih. Di dalam mobil kami menangis dan berdoa. Kami benar – benar tidak tahu apa yang harus dilakukan. Kami tidak tahu bagaimana kelanjutan dari kehamilan ini. Kami berserah kepada Tuhan dengan hati hancur. Siang itu Julia merasa lemas dan akhirnya ikut bersama dengan saya tidur di mobil sesiangan.

Sore harinya, kami berencana untuk melihat proyek yang sedang dikerjakan Julia, yaitu renovasi sebuah apartemen di kawasan Pasar Senen Jakarta. Saat itu Julia bekerja sendiri sebagai desain interior dan saya sedang melanjutkan pendidikan S2 di Universitas Indonesia sekaligus bekerja di sebuah kontraktor, jadi kami bekerja bersama dalam merenovasi apartemen tersebut.

Jam empat sore, kami sampai di apartemen. Nampaknya Julia dalam kondisi yang tidak sehat sehingga saat kami turun dari lantai 14, tempat proyek itu berada, Julia merasa pusing dan sakit pada rahimnya. Di lantai 1, Julia menyempatkan ke toilet untuk memeriksa bagian yang sakit tersebut. Setengah jam kemudian Julia keluar dari toilet dengan wajah pucat. Jantung saya berdebar ketika Julia mengatakan bahwa dia pendarahan. Kami bingung, apakah janin sudah gugur seperti kata dokter tadi siang? Atau ada kejadian apa?

Saya segera mengecek ke rumah sakit tadi untuk menanyakan apakah ada dokter kandungan yang buka praktek sore itu, dan jawabannya adalah tidak ada. Saya segera menelpon rumah sakit yang lain, dan kebetulan di rumah sakit itu ada dokter kandungan yang buka praktek.

Kami segera berangkat ke rumah sakit itu. Julia dalam kondisi lemah; untuk berjalan saja dia mengalami kesulitan. Satu jam kami menunggu, rasanya begitu lama. Saat diperiksa dokter, kami mendapati bahwa janin masih ada di dalam kandungan, dan dokter mengatakan bahwa kandungan dalam kondisi lemah sehingga Julia harus banyak beristirahat. Saya tanyakan mengenai Mioma, tapi ternyata dokter di rumah sakit itu tidak menemukannya.

Kami berdua bimbang, diagnosis mana yang benar diantara kedua dokter yang kami temui? Saya jadi sangat hati-hati terhadap rekomendasi dokter, karena saya tiba-tiba teringat mal-praktek yang terjadi beberapa kali di Jakarta saat itu. Dengan sedikit curiga saya menanyakan semua nama obat yang diberikan, bahkan nama cairan suntikan yang diberikan ke Julia, yang katanya untuk penguat kandungan. Dokter sempat marah karena merasa tidak dipercaya dengan tindakan-tindakannya, tapi saya berpikir bahwa saya tidak akan memperdulikan kemarahannya daripada terjadi hal-hal yang tidak benar dengan istri saya.

Sepulang dari rumah sakit, Julia beristirahat total. Kontraksi mulai dirasakan, kadang menguat kadang melemah. Kami berdoa untuk mengungkapkan kepedihan hati yang kami rasakan sepanjang hari ini, tapi kami tidak berani menanyakan kepada Tuhan akan kebijaksanaanNya mengijinkan segala pencobaan ini terjadi pada kami. Kami hanya dapat berdoa, “Tuhan kehendakMu yang jadi, berilah kami kekuatan.”

Bertahan atau gugur

Besok paginya, hari Selasa, kondisi Julia membaik dan dia masih sempat membereskan barang-barang yang berserakan di meja rias di dalam kamar. Namun siang harinya, pendarahan kembali terjadi dan kontraksi pada rahim kembali dirasakan semakin kuat dan semakin sering. Dari kantor, saya hanya bisa berdoa dan memberi nasihat supaya Julia beristirahat dan jangan beraktifitas dulu.

Sore hari, kondisi Julia semakin parah. Setiap gerakan memicu kesakitan, sampai-sampai dia tidak kuat untuk berbicara lagi. Komunikasi terpaksa kami lakukan melalui tulisan yang Julia tuliskan pada kertas di samping tempat tidurnya. Salah seorang saudara kami mengunjungi dan memberi kekuatan dan menganjurkan agar Julia bed-rest total. Sejak saat itu Julia hampir-hampir tidak pernah bergerak dari tempat tidur, bahkan untuk buang air pun semua dilakukan di tempat tidur

Kami juga mengontak sahabat kami dr. Diana Samara, teman sepelayanan kami di Stephen Tong Evangelical Ministry (STEMI), seorang dokter dan seorang dosen yang takut akan Tuhan. Dia pula yang membimbing Julia selama perawatan meski semua dilakukan melalui telepon. Melalui dr. Diana inilah, kami direkomendasikan untuk mengunjungi seorang dokter senior dan terkenal di sebuah rumah sakit di Jakarta. Setelah kami kontak, ternyata dokter tersebut baru akan praktek pada hari Sabtu. Jadi, tidak ada jalan lain bagi kami, selain bertahan selama 3 hari sebelum bertemu dokter tersebut.

Hari Rabu, kondisi Julia makin parah. Kontraksi terjadi pada selang waktu 2-3 menit, suatu kontraksi yang seharusnya terjadi pada saat akan melahirkan. Pendarahan juga terus terjadi. Julia terus berkeringat, menahan sakit, sulit tidur dan sulit bergerak. Saya dan Julia sedih, di kehamilan yang pertama, di tengah segala ketidak-berpengalamannya kami, mengapa ini semua harus terjadi. Kami takut, gentar dan kuatir.

Beruntung hari itu, Papi dan Mami Julia tiba di Jakarta untuk ikut merawat. Saya merasa lega karena ada yang membantu saya untuk merawat Julia. Pekerjaan dan kuliah tidak dapat saya tinggal, sehingga pikiran saya sering terbagi antara merawat Julia, bekerja dan kuliah dengan begitu banyaknya paper-paper untuk presentasi yang harus dibuat. Perasaan Julia juga sama galaunya. Dia merasa sedih mengapa harus merepotkan orang banyak. Tapi di tengah kesedihan, kami juga bersyukur masih punya orang tua yang masih kuat merawat dan membantu kami.

Hari Kamis siang, secara tidak sengaja, saya berkeinginan pulang rumah pada saat jam istirahat kantor. Sesampai di rumah, saya baru mengetahui ada kunjungan dari teman-teman Papi dan Mami, sepasang suami-istri. Mereka mampir ke rumah untuk menemui Papi dan Mami, sekaligus menengok Julia yang sedang sakit.

Mereka berdua dari suatu gereja yang sangat percaya pada apa yang disebut “Minyak Urapan”, suatu kepercayaan yang sangat bertolak belakang dengan kepercayaan kami yang sudah kami dapat sejak kecil dari GKI Karangsaru. Apalagi saat di Jakarta kami terlibat dalam pelayanan bersama team dari Pdt. Stephen Tong, yang dengan tegas menyatakan bahwa semua hanyalah anugerah Tuhan semata. Jika Allah berkehendak, maka tanpa minyak urapan pun akan terjadi sesuai kehendakNya. Jika Allah tidak berkehendak, maka dengan minyak urapan pun tidak akan terjadi apa yang tidak dikehendakiNya.

Om dan Tante, demikian kami menyebut mereka, mencoba dengan argumentasinya untuk menyatakan kepercayaan mereka tentang minyak urapan tersebut. Sebaliknya, saya dan Julia yang tergolek lemah mencoba menjelaskan iman percaya kami. Perbincangan ringan itu berkembang dengan ‘sedikit memanas’, sampai akhirnya Om dan Tante tersebut membuka Alkitab. Kami juga membuka Alkitab yang sama untuk menjelaskan kepercayaan kami.

Julia dengan kondisi yang sangat lemah, begitu kuat untuk menjawab setiap pernyataan-pernyataan dari Om dan Tante tersebut. Hati saya juga turut mendidih dengan kondisi ini ! Saya tidak tega melihat Julia yang dengan terbata-bata menjawab semua pertanyaan yang seakan mempertanyakan iman percaya kami. Mengapa Om dan Tante ini tidak juga mengerti akan iman kami? Mengapa mereka tidak mau tahu kondisi Julia yang lemah dan malahan mengajak berdebat?

Om dan Tante tetap ingin mencobakan minyak urapan dan berkata, “Dicoba dulu saja ‘kan tidak apa-apa. Ngga’ ada yang salah kok, siapa tahu ini dapat menyembuhkan.” Hati saya benar-benar marah bercampur sedih, saya berkata, “Om dan Tante, kami mempunyai iman yang mempercayai bahwa kehidupan maupun kematian itu ada di tangan Tuhan, karenanya kami tidak akan memakai minyak urapan itu. Kalau Tuhan ijinkan anak kami hidup, kami bersyukur. Kalau Tuhan tidak mengijinkan anak hidup, kami akan tetap bersyukur dan memuji nama Tuhan.” Saya mengatakannya dengan hati hancur, seakan saya berkata pada diri saya sendiri, “Kamu harus siap jika anakmu tidak akan hidup.” Pertemuan itu diakhiri dengan doa yang kikuk. Saya menyadari bahwa Om dan Tante tidak suka dengan tanggapan kami berdua, tapi tidak ada jalan lain untuk menyatakan iman kecuali dengan menegakkan kebenaran – apologetic.

Selesai perdebatan itu, kami berdua mendapat kekuatan baru. Jika Tuhan berkehendak Tuhan pasti akan memberi kekuatan, karena kami melihat bahwa melalui kesakitan Julia kami justru banyak bersaksi. Bahkan kami diberikan kesempatan ber-apologetic dengan sesama teman seiman yang berbeda pandangan (doktrin). Hari itu kami lalui dengan heran, karena ‘kebetulan-kebetulan’ yang Tuhan ijinkan terjadi.

Setelah selang sehari tidak juga mengalami perbaikan, maka hari Sabtu kami menuju ke rumah sakit yang telah direkomendasikan sahabat kami, dr. Diana. Rumah sakit itu terlihat padat pengunjung. Ditemani Mami, Julia dengan tertatih-tatih berjalan di antara pengunjung menuju ruang tunggu. Saya sendiri langsung menuju tempat pendaftaran untuk mendapatkan nomor pasien.

Kami menunggu sekitar 45 menit. Keringat dingin memenuhi punggung, tangan dan kepala Julia. Ternyata kejutan masih belum berhenti untuk kami berdua. Setelah dokter senior tersebut memeriksa, dia memperlihatkan bahwa rahim sudah dipenuhi darah. Saya melihat di layar USG, bahkan kantung janin dan janinnya pun tidak terlihat. Dokter mengatakan bahwa semua tertutup darah sehingga tidak terlihat, dan ini merupakan proses kontraksi penolakan rahim terhadap janin. “Dari 100 kehamilan di Jakarta, 20 diantaranya keguguran. Jadi kalau dalam 2 minggu nanti ibu keguguran, silahkan periksa kembali. Nanti saya cek perlu atau tidak dilakukan tindakan kuret’”, lanjut dokter tersebut.

Saya terkejut bukan main dan dengan lemas saya bertanya, “Berapa persen kemungkinan hidupnya, Dok?”

“Kemungkinannya hanya tinggal 25 %. Kalaupun ada kesempatan hidup, saya sebenarnya mau merawat. Tapi… daripada lahir cacat, lebih baik janin ini tidak usah dipertahankan,” jawab dokter.

Betapa kami pulang saat itu dengan hati hancur dan tanpa harapan sama sekali. Bagi kami kehendak Tuhan makin jelas bahwa memang bayi ini tidak akan bertahan. Malam itu kami menangis. Saya meletakkan tangan saya di atas perut Julia dan berdoa, “Tuhan betapa tidak berdayanya manusia itu. Saat ini saya menyadari bahwa anak saya hanya berjarak 5 cm dari tangan saya dan saya tidak bisa menolongnya. Dia sedang berjuang sendiri untuk bertahan di rahim Mamanya, bahkan Mamanya sendiri tidak mampu untuk memerintah kepada rahim untuk tidak menolak bayi ini. Betapa sedihnya kami sebagai orang tua tidak dapat menolong anak kami. Tuhan kepadamu kami serahkan anak ini. Biarlah hanya Engkau yang menjaga dan menolongnya. Kehendak-Mu yang jadi atas apapun yang terjadi pada anak ini.”

Kami merasa adanya paradoks dalam diri kami, yaitu saat kami semakin berserah, kami malah berusaha semakin giat, dengan kesadaran bahwa janin ini mungkin tidak berumur panjang. Julia bed-rest total, bahkan sama sekali tidak menoleh ke kanan atau ke kiri selama beberapa hari. Pantat dan perutnya diangkat lebih tinggi dari kepala untuk mengurangi pendarahan.

Hari Minggu, kami mendapatkan informasi dari saudara kami. Ada seorang dokter yang pandai, murid dari dokter yang menangani saudara kami di Singapura saat dia mengalami pecah ketuban. Sekarang dokter tersebut membuka praktek di sebuah rumah sakit di Jakarta Selatan, dan rumah sakit itu juga telah dilengkapi peralatan modern yang mampu mengetahui detak jantung bayi, meski usia masih 5 minggu. Kami berdua memutuskan untuk mengunjungi dokter tersebut. Bagi kami kalau memang janin dalam kandungan Julia sudah tidak bisa dipertahankan, misalkan sudah tidak ada detak jantung atau yang lain, maka kami siap untuk tidak mempertahankan bayi ini.

Kehendak Tuhan yang jadi

Senin jam lima sore, kami berangkat dari Kelapa Gading menuju rumah sakit. Julia masih nampak kesakitan saat kami berangkat, namun saat itu kontraksi sudah lebih jarang dengan periode sekitar 2 – 3 jam. Karena saya tidak begitu mengenal daerah Jakarta Selatan maka saya memutuskan lewat jalan dalam kota. Sebagaimana biasa, Jakarta selalu macet, apalagi di hari Senin. Sampai jam delapan malam, kami masih berada di jalan dan belum menemukan lokasi rumah sakit itu berada. Suster rumah sakit sempat menelpon menanyakan jadi atau tidaknya bertemu dengan  dokter, karena jadwal praktek dokter memang sampai jam delapan malam.

Dengan hati sedih, saya memohon agar dokter tersebut jangan pulang dahulu. “Istri saya pendarahan. Tolong, jangan ditinggal ya Sus… tolong sampaikan ke dokternya,” mohon saya saat itu.

Dengan susah payah, kami akhirnya menemukan rumah sakit itu. Rumah sakit sudah sepi pengunjung. Begitu kami tiba, suster jaga langsung menyambut kedatangan kami karena memang kamilah pasien satu-satunya yang ditunggu malam itu.

Dengan sangat sabar dan teliti, Dokter memeriksa dan meneliti rahim Julia menggunakan USG. Dari layar monitor USG, saya melihat rahim Julia sudah tidak terlalu gelap seperti saat dipenuhi darah pada hari Sabtu yang lalu. Kantung kandungan terlihat dan janin sebesar 1.5 cm juga terlihat jelas.

“Tidak ada indikasi detak jantung,” kata dokter. Sayapun menarik nafas panjang. “Tapi tunggu sebentar, Pak…”  dengan tenang, dokter menunjuk pada janin sebesar 1.5 cm tersebut, “coba Bapak perhatikan dengan seksama.”

Selama 5 menit saya perhatikan gambar di monitor, mata saya yang selama tiga setengah jam hanya melihat jalanan yang macet, tidak dapat menangkap perubahan pada monitor. Lalu dokter memberi pernyataan yang membuat saya seperti diguyur air dingin, “Ada gerakan pada janin, Pak ! Kita akan pertahankan janin ini, dan darah yang ada disekelilingnya ini akan diserap oleh metabolisme tubuh di rahim.”

Kami berdua berkaca-kaca menyadari bahwa Allah masih memberikan kesempatan kepada kami untuk memelihara bayi ini sementara waktu lagi, entah sampai kapan ! Hati kami dipenuhi sukacita, bukan karena mujizat yang terjadi sesuai dengan keinginan kami, tapi karena Tuhan sudah mengulurkan tangan dan memberi kesempatan kepada kami untuk kami memelihara anak titipan Tuhan ini dan agar kami dapat menunjukkan tanggung jawab terhadap anak tersebut.

Kondisi Julia semakin membaik. Meski Julia sempat pingsan pada malam itu, namun sukacita dan penghiburan Tuhan jauh lebih besar dari kekuatiran kami.

Setelah semua kejadian itu kami lewati, kami mendapati bahwa diagnosis keempat dokter yang kami kunjungi, masing-masing mempunyai kebenarannya sendiri. Tuhan ijinkan kami untuk mengetahui kondisi pada saat-saat kritis dengan diagnosis yang berbeda. Mioma yang diketahui pada diagnosis awal ternyata masih ada dan tidak berkembang. Selanjutnya, Mioma tersebut ikut diambil saat operasi Caesar kelahiran putri kami. Diagnosis dokter kedua yang tidak menemukan Mioma tersebut kami anggap sebagai suatu kekuatan yang Tuhan berikan, agar kami terus bertahan dan tidak memikirkan Mioma lagi. Dokter ketiga dengan diagnosisnya membawa kami agar sepenuhnya berserah kepada kehendak Tuhan, karena secara manusia sudah tidak ada lagi pengharapan. Dan Tuhan memakai dokter keempat untuk menyampaikan “gift” kepada kami sehingga kami beroleh sukacita.

Hidup dan mati ada di tangan Tuhan. Mari kita menjalani waktu yang singkat di dalam hidup ini dengan  hidup yang berserah sepenuhnya kepada Allah dan menjalankan kehendakNya.
Soli Deo Gloria..
dikirimkan oleh : Gideon & Julia.


Categories

%d bloggers like this: