Posted by: gkikarangsaru | January 6, 2010

17 Tahun Lamanya


Tetapi aku berseru kepada Allah, dan TUHAN akan menyelamatkan aku. Di waktu petang, pagi dan tengah hari aku cemas dan menangis; dan Ia mendengar suaraku

( Mazmur 55 : 17 – 18 )

Tujuh belas tahun bukanlah waktu yang singkat, terlebih jika seseorang harus menjalaninya bersama dengan penyakit yang dideritanya. Demikianlah yang terjadi dengan hidupku. Sejak aku masih muda dan belum menikah ( kira – kira umur 20 tahun ), aku sudah mengalami “pendarahan”. Sepanjang masa – masa itu, hampir tiada henti, darah terus mengalir keluar dari rahimku. Sampai – sampai, melihat darah menggenang di tempat tidurku, sudah merupakan hal yang biasa dan rutin bagiku.

Sudah banyak dokter yang aku kunjungi dan banyak obat juga yang aku minum ( termasuk obat -obatan tradisional ), tapi hasilnya nihil. Darah masih saja terus mengalir keluar dari tubuhku. Obat – obatan yang aku minum memang sebagian berfungsi untuk menggantikan darah yang keluar, tapi lama kelamaan, perlahan tapi pasti, tubuhku mulai kering dan lemah.

Setiap saat, aku terus berdoa kepada Tuhan agar aku disembuhkan dari penyakitku ini. Tapi Tuhan belum menjawabku. Walau demikian, di masa – masa yang sulit ini, Tuhan masih memberikan berkatNya kepadaku. Setelah menikah, di tengah pendarahan yang terus terjadi, Tuhan masih mengaruniakan kepada kami seorang anak laki – laki. Itu suatu berkat yang luar biasa bagiku, mengingat beberapa temanku yang normal malah tidak dikarunia anak oleh Tuhan.

Puncak penyakitku terjadi ketika kadar darahku ( Hb ) turun mencapai angka 5. Kondisiku waktu itu sudah benar – benar parah. Dokter menganjurkanku dioperasi untuk diangkat rahimnya. Namun kami merasa keberatan, karena kami masih menginginkan anak lagi, menemani anak kami yang pertama.

Dalam kondisi yang parah itu, aku dan suamiku kemudian berangkat ke Jakarta untuk mencari alternatif penyembuhan dari dokter yang lain. Sesampainya di sana, sebelum kami sempat menemui dokter, seorang iparku malah mengajak kami untuk bertemu dengan seorang pendetanya. Dalam pertemuan yang singkat ini, pendeta itu mendoakanku agar aku disembuhkan dari penyakitku.

Setelah itu, kami mengunjungi beberapa dokter spesialis secara terpisah. Kesimpulan mereka sama, aku tidak perlu dioperasi dan cukup diobati saja. Memang jawaban itu melegakanku, tapi aku masih ragu apakah obat – obatan itu dapat menyembuhkanku. Sebulan kemudian, obat – obatan dari dokter itu habis dan aku tidak melanjutkannya.

Saat itu aku sudah lelah dengan hidup seperti ini. Kini, aku hanya meletakkan hidupku kepada Tuhan yang memiliki hidup ini. Dengan hati yang hancur, aku serahkan hidupku ke dalam tanganNya. Jika Tuhan menghendaki, maka pastilah aku disembuhkan oleh kuasaNya.

Dua bulan kemudian, saat sedang bekerja di kantor, aku merasa ada sesuatu yang seakan – akan “mbrojol” ( bhs. Jawa – red ) dari perutku. Segera mungkin aku berlari ke kamar mandi.

Benar juga ! Sesampainya di kamar mandi, di antara darah yang mengucur keluar, tampak 2 bongkah daging, satu berukuran cukup besar, yang lain agak kecil. Bongkahan daging yang besar itulah yang menarik perhatianku. Bongkahan ini terdiri dari 2 bagian, satu bagiannya tampak berisi darah segar. Dan aku baru menyadari hal yang lain terjadi dalam diriku. Pendarahanku berhenti dan memang sejak itu, pendarahanku memang benar – benar berhenti. Terima kasih, Tuhan ! Engkau telah menyembuhkanku !

Tapi berkat Tuhan tidaklah berhenti di situ ! Beberapa bulan setelah itu, aku hamil dan sesuai dengan doa dan kerinduan kami berdua, akhirnya aku melahirkan seorang anak perempuan. Luar biasa kasih Tuhan yang diberikanNya kepadaku !

Melalui pengalaman hidupku ini, Tuhan mengajarkan kepadaku untuk sungguh – sungguh menyerahkan seluruh hidupku ke dalam tangan dan kasihNya. Walaupun aku harus menunggu 17 tahun lamanya, Tuha mendidikku untuk tetap setia dan berharap teguh kepadaNya. Amin.

Ditulis berdasar kesaksian : Ibu Antonie


Categories

%d bloggers like this: