Posted by: gkikarangsaru | August 31, 2010

Tahun – Tahun Penuh Tantangan


Ada yang mengatakan, merebut lebih gampang daripada mempertahankan. Dan itulah yang terjadi dengan Tiong Hoa Kie Tok Kau Hwee Semarang di awal – awal berdirinya.

Sebagai jemaat baru yang baru saja berdiri, ada banyak tantangan dan permasalahan yang harus dihadapi oleh Tiong Hoa Kie Tok Kau Hwee (THKTKH) Semarang. Tantangan terus datang silih berganti, mengoncang iman setiap jemaat yang ada, tapi kasih Tuhan selalu menyertai dan memimpin langkah anak – anakNya, sehingga mereka dapat menghadapi setiap badai yang datang dengan pengharapan yang teguh.

Tantangan pertama yang harus dihadapi adalah belum adanya Peraturan Gereja (PG), yang mengatur kehidupan berjemaat, termasuk struktur organisasi dan pengelolaan administrasi dan keuangan. Selain itu, masih banyak jemaat ( termasuk Majelis Jemaat ) yang memiliki pengetahuan iman yang dangkal dan pemahaman yang kurang akan makna mendasar dari sebuah gereja.

Oleh karena itu, dalam rapat Majelis Jemaat pertama, 29 April 1935, dirumuskan rancangan Peraturan Gereja (PG) yang secara garis besar mengatur 4 hal pokok, yaitu : jabatan – jabatan kegerejaan, persidangan / rapat gereja, azas pengajaran, sakramen dan upacara gerejawi, serta siasat gereja ( penggembalaan khusus ). Selain itu, dirumuskan juga liturgi kebaktian baru yang mulai dipakai pada Agustus 1935. Sementara itu, dalam rangka perkabaran Injil, dibentuk juga kegiatan sekolah minggu ( dimulai tahun 1936 ) dan perkumpulan kaum wanita gereja ( dimulai tahun 1937, kelak bernama Komisi Wanita Debora ).

Masalah yang menghadang selanjutnya adalah  munculnya kelesuan dan hilangnya semangat dalam kehidupan berjemaat di THKTKH Semarang (1938). Hal ini ditandai dengan merosotnya iman Kristen umat keturunan Tionghoa, dimana banyak dari mereka yang menjadi pasif, apatis dan kemudian meninggalkan gereja, baik yang terus terang ataupun dengan sembunyi – sembunyi.  Hal ini makin diperparah dengan berkurangnya jumlah anggota Majelis Jemaat. Tua-tua Tjoa Soen An, pada tanggal 12 Oktober 1938 dipanggil Tuhan ke Rumah Bapa., Tua-tua Lauw Tjong Poan tanggal 5 September 1938 mengalami sakit  kemudian mengundurkan diri. Tua-tua Tan Tik Sing , terkena siasat gereka (sekarang:penggembalaan khusus) karena mengikuti aliran Saksi Yehova. Inilah masa-masa gelap Gereja THKTKH karena ditinggalkan oleh 3 orang yang potensial dalam pelayanan.

Tapi Tuhan tidak tinggal diam dan bertopang tangan melihat anak – anakNya dalam kelesuan dan kemunduran iman. Maka Tuhanpun mengirim seorang hamba-Nya, Ev. Dr. John Sung, seorang penginjil dari Cina lulusan Amerika untuk mengobarkan dan membangkitkan semangat kembali dalam jiwa anak – anakNya. Selama seminggu ( 19 sampai 26 Agustus 1939 ), John Sung membawakan KKR  di kota Semarang dengan luar biasa dan membawa banyak pertobatan di kalangan Tionghoa ataupun suku – suku lainnya. Akibatnya, banyak orang Tionghoa yang kembali ke gereja dan hal ini membuat THKTKH kembali dipenuhi dengan jemaatnya.

Tapi kesulitan belum juga berhenti.  Pada tanggal 10 Mei 1940 Belanda diduduki Jerman pada awal Perang Dunia II. Hal ini mengakibatkan banyak warga negara Jerman, termasuk para misionaris Salatiga Zending, ditangkap pemerintah Hindia Belanda. Sebagai akibatnya, banyak jemaat, terutama di kota – kota kecil yang kehilangan penginjil mereka. Keadaan ini memaksa Gereja THKTKH Semarang menerima tugas – tugas yang dilimpahkan dari Salatiga Zending, terutama melayani jemaat – jemaat  Tionghoa yang ada di Salatiga, Ambarawa, Purwodadi dan Blora..

Pecahnya perang Asia Timur Raya pada tahun 1942 yang diikuti oleh pendudukan Jepang di Indonesia, membuat kehidupan bergereja menjadi lebih sulit. Banyak orang – orang Tionghoa yang takut datang ke gereja dan banyak kegiatan pelayanan gereja yang dihentikan. Suasana jaman menjadi gelap menakutkan.  Banyak pemuda dan remaja yang tak dapat melanjutkan sekolahnya dan perkumpulan – perkumpulan sangat dibatasi. Walau demikian, Pemerintah Jepang tidak pernah mengeluarkan larangan untuk mengadakan kebaktian atau persekutuan doa di gereja.

Di saat inilah, Tuhan justru bekerja dengan hebatnya !. Di masa –masa penuh kesulitan itu, orang – orang mulai membutuhkan penghiburan dan kekuatan, dan di situasi seperti inilah mereka baru merasa kalau mereka memang membutuhkan Tuhan.  Kesulitan dan kesukaran yang mereka hadapi rupanya malah membuka hati mereka terhadap Injil yang memberitakan Terang dan Harapan baru. Tidak sedikit para pemuda dan remaja yang saat itu kehilangan kesempatannya bersekolah, merasa tertarik dan terlibat dalam kegiatan gereja, bahkan banyak dari mereka yang di kemudian hari menyerahkan hidupnya sebagai hamba Tuhan.

Situasi yang sulit ini ternyata justru menjadi peluang bagi Gereja THKTKH untuk lebih berperan lagi berada di tengah-tengah masyarakatnya. Kalau bukan Tuhan yang bekerja dengan kuasa-Nya,mustahil pekerjaan besar ini terjadi. Waktu Tuhan sungguh indah ,karena gerakan Roh Kudus yang mulai membara dengan kedatangan Dr John Sung ke Semarang dan kota-kota di Jawa ternyata diikuti dengan gerakan orang-orang muda yang aktif melayani dan sebagian yang lain rela menyerahkan hidupnya untuk melayani menjadi hamba Tuhan sepenuh waktu.

Sumber Pustaka :

Victor S. Winatayuda, “Sejarah GKI Semarang – Karangsaru”, Semarang, 1996.

About these ads

Categories

%d bloggers like this: