Posted by: gkikarangsaru | January 6, 2010

Pemilik Masa Depan


Karena masa depan sungguh ada, dan harapanmu tidak akan hilang.

( Amsal 23 : 18 )

Seperti yang biasa kulakukan setiap tahunnya, maka pada bulan Desember 2005 itupun aku melakukan pemeriksaan pap-smear, untuk mendeteksi adanya kanker atau tumor pada kandungan atau rahimku. Tapi tidak seperti biasanya, hasil yang kudapat kali ini sungguh mengejutkan, karena ditemukan sebuah miom sebesar 3 cm di rahimku.

Penemuan miom ini memang sempat membuatku kuatir, tapi masalah ini segera kukesampingkan karena aku tidak merasakan keanehan dalam menstruasiku ataupun kesehatanku. Semuanya tampak baik – baik saja. Tapi ketika pada bulan Juli 2006 aku melakukan pemeriksaan ulang, miom telah membesar menjadi 7 cm dan pada bulan Desember 2006 ukuran semakin membesar menjadi 9 cm.

Untuk memantapkan hasil pemeriksaan ini, aku melakukan cek ulang ke dokter yang lain, bahkan aku menyempatkan diri ke Surabaya, karena aku mendengar, disana mereka memiliki peralatan USG yang lebih canggih daripada yang ada di Semarang. Namun, semua kesimpulannya tetaplah sama, ada miom tunggal di rahimku dan harus segera dikeluarkan. Dari pemeriksaan itu juga diketahui, bahwa miom itu subur, terbukti dengan kencangnya aliran darah di sekitarnya. Jika miom ini tidak segera diangkat, dikuatirkan makin lama makin besar dan pada akhirnya akan menyerang ginjal.

Dokter menganjurkan agar aku dioperasi untuk tidak sekedar diambil miomnya, tetapi juga sekalian diangkat / diambil rahimnya. Pertimbangan dokter adalah mengingat usiaku yang sudah tidak produktif, dimana sebentar lagi akan memasuki masa menopause. Juga karena anak – anakku sudah besar dan tidak ada keinginan untuk mempunyai anak lagi. Selain itu, secara medis, jika sekarang hanya diambil miomnya saja, maka beberapa tahun kemudian kemungkinan miom ini akan tumbuh lagi.

Betapa sedihnya hatiku ketika dokter menyampaikan hal ini kepadaku. Ada pemberontakan di dalam hatiku. Mengapa rahimku harus diambil, toh aku sehat – sehat saja dan aku tidak merasakan gejala – gejala yang aneh dalam hidupku ? Memang, mengingat usiaku, jelas aku sudah tidak ingin memiliki anak lagi. Bahkan dengan diangkatnya rahimku, secara fisik aku mungkin merasa lebih enak karena aku tidak akan mengalami menstruasi dan menopause.

Tapi bagaimanapun juga aku tidak bisa menerima sepenuhnya hal ini. Seakan – akan aku akan kehilangan “sesuatu yang alami” dari kehidupanku. Juga ada begitu banyak pertanyaan yang tidak bisa aku jawab. Bagaimana rasanya nanti ketika rahimku diangkat ? Bagaimana kalau aku tidak menstruasi ? Bagaimana kalau tidak merasakan menopause ? Begitu banyak kata ‘bagaimana’ dalam hatiku, membuat aku jadi maju – mundur dalam menghadapi operasi ini.

Aku mencoba mencari pendapat alternatif dari dokter lain ataupun rekan – rekanku. Tapi seorang dokter memberiku jawaban yang menyadarkanku, “semakin kita bertanya pada banyak orang, akan semakin banyak jawaban yang kita dapatkan, yang akhirnya membuat kita semakin bingung !” Memang benar, setelah bertanya ke sana ke mari, bukannya kemantapan yang kudapatkan, malahan sekarang aku semakin bingung dan ragu untuk memutuskan operasi apa yang harus kujalani. Apakah cukup diambil miomnya saja atau sekalian diangkat rahimnya ?

Seorang sahabatku kemudian mengingatkanku akan sebuah kebenaran, “Sungguh, masa depan di tangan Tuhan ! Walaupun kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi atau kita rasakan setelah rahim kita diangkat, tetapi dalam Tuhan selalu ada masa depan !”

Akhirnya, setelah mempergumulkan lama bersama suamiku, aku memantapkan diri ( kalau tidak bisa dibilang memaksakan diri ) untuk melakukan operasi. Walau demikian, masih ada rasa ragu dan kuatir dalam hatiku. Bahkan, malam sebelum operasi, aku masih menawar dokter, perlu tidaknya rahimku ini diangkat.

Keraguan dan kebimbanganku terus berlanjut sampai hari operasi itu dilakukan. Beberapa jam sebelum operasi, ketika seorang perawat menanyakan bagaimana jadinya operasi yang akan aku pilih, dengan terus terang aku menjawab bahwa saat itu aku belum punya keputusan. Walaupun akhirnya aku tetap memilih untuk melakukan operasi pengangkatan rahim, tapi ketika bertemu dokter sebelum operasi dilakukan, aku masih sempat menawar lagi, “Dokter, kalau nanti setelah perut saya dibuka dan ternyata rahim saya masih bagus, tidak usah diangkat ya, Dok !” Dokter hanya tersenyum. Mungkin saya ini pasien paling rewel dan “nggeyel” baginya selama dia menjadi dokter.

Setelah itu, aku tidak merasakan apa – apa. Tahu – tahu, ketika terbangun, aku sudah kembali ke ruang perawatanku. Operasipun telah usai. Disana sudah menunggu suami dan teman – temanku, yang ternyata sudah berdatangan ketika aku mulai masuk ke ruang operasi. Sebelum aku sempat berkata apa – apa, suamiku mengatakan sesuatu yang mengejutkanku, “Rahimmu tidak jadi diangkat !”

Apa ? Rahimku tidak jadi diambil ? Kenapa ? Kalau tidak diambil, apakah miom ini akan tumbuh lagi dalam rahimku ?

Walaupun diliputi dengan rasa kaget, diiringi perasaan lega dan gembira, tapi aku masih tidak mengerti mengapa ini bisa terjadi. Akhirnya, aku mendapat penjelasan langsung dari dokter. Ternyata miom ini tidak melekat di dalam rahimku, tetapi berada di luar rahim. Jadi dokter hanya mengiris dan mengambil miom itu saja. Dan tentu saja, karena miom ini ada di luar rahim, maka hampir bisa dipastikan bahwa miom itu tidak akan tumbuh lagi di dalam rahimku.

Sampai sekarang, aku tidak tahu bagaimana miom ini bisa berada di luar rahimku. Padahal, dari semua pemeriksaan yang aku lakukan sebelumnya, termasuk menggunakan peralatan yang canggih sekalipun, semua menunjukkan bahwa miom itu memang berada di dalam rahimku. Mengenai hal ini, dokter hanya berseloroh, “Ini mesti gara – gara teman – temanmu yang menunggui operasi itu doanya kenceng – kenceng !”

Aku memang tidak tahu bagaimana itu bisa terjadi. Tapi yang aku tahu, pasti Tuhan sendirilah yang bekerja di sana. Dan apa yang terjadi selama ini, termasuk kebimbangan dan ketakutanku akan masa depanku, merupakan bagian dari rencanaNya agar aku sungguh – sungguh belajar untuk mempercayakan seluruh hidup dan masa depanku hanya ke dalam tanganNya.

Sungguh, masa depan di tangan Tuhan ! Amin !

Dikirim oleh : Ibu Darsono




Categories

%d bloggers like this: